Dalam Menganggur

Alwan Ammar
Jul 10, 2017 · 1 min read

Terlalu banyak rentan berserak,
Terlalu diam kian jadi cemas
Di jiwa,
Di jiwa kini sisa sebatang

Dari semua hari,
Kita selalu punya hari-hari terburuk
Milikku:
Ialah yang teranggur-lanjur jadi masam
Dipenuhi kecut bibir kau hanya subjek pada jendela
Diawal sepi pagi
Sampai berakhirnya sepi sore

Siapa bilang tidak terlahir sama sekali
adalah nasib terbaik?
Martir bangsat
Kau tidak tau tiada yang lebih buruk
dari tidak pernah ada barang sekali

Kita yang selama ini dipukul keadaan
Mundur sejenaklah lalu dalam kerumunan
Kita tidak terlahir untuk disapu gerak,
Hidup terlalu raya jika hanya untuk merangkak

4amdancefloor

poetry & stuffs i guess

    Written by

    Should I pee or should I write a new story?

    poetry & stuffs i guess

    Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
    Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
    Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade