Menjemput Janji Kemerdekaan: Mencerdaskan Kehidupan Bangsa

“Kemudian daripada itu
untuk membentuk suatu Pemerintah Negara Indonesia
yang melindungi segenap bangsa Indonesia
dan seluruh tumpah darah Indonesia
dan untuk memajukan kesejahteraan umum,
mencerdaskan kehidupan bangsa, ….”

Mencerdaskan kehidupan bangsa.

Paragraf tersebut, tiap Senin dikumandangkan oleh jutaan siswa berseragam pada barisan-barisan upacara. Seharusnya sakral, tapi empat alenia Pembukaan UUD 1945 tersebut biasanya dibaca ala kadar, asal lewat saja. Padahal paragraf-paragraf itu sedang membicarakan tentang Anda, saya dan mereka.

Membicarakan kita, yang sedang dijanjikan sejahtera dan cerdas atas nama kemerdekaan. Kita, yang sedang dijamin dan dilindungi haknya dalam berpikir dan memenangkan Indonesia.

Berdasarkan data dari Badan Pusat Statistik tahun 2013/2014, Indonesia memiliki SD sebanyak 148.272, sedangkan SMP dan SMA berturut-turut sebesar 35.488 dan 12.409 sekolah. Dari angka-angka tersebut seharusnya kita tahu dan menjadi haru, banyak orang bersekolah, tetapi tak banyak dari kita yang memikirkan kelanjutan jenjang pendidikan. Tak banyak dari kita yang SD melanjutkan ke jenjang SMP, lebih-lebih siswa yang lanjut ke jenjang SMA. Begitu pula yang terjadi di daerah saya. Semuanya tercermin jelas. Lihat saja perbandingan kasar sekolah kita, 148:35:12.

Apalagi yang melanjutkan ke perguruan tinggi?

Padahal, akan tiba masanya kita masuk ke dalam era baru persaingan hidup. Di masa depan, kita tak lagi bisa menggunakan nama besar ayah, ibu, kakak dan kolega dalam mencari penghidupan. Tak bisa lagi kita menggunakan nama “wah” nenek moyang yang terselip di nama belakang kita.

Kita akan masuk pada era baru bernama meritokrasi. Era dimana mereka yang berprestasi dan berkemampuan lebih dihargai, lebih bisa survive. Mobilitas individu di lintas bangsa akan diuji menggunakan standar baru yang tinggi: pendidikan yang tak hanya angka-angka. Produk pendidikan, anak-anak didik suatu bangsa nantinya akan mengalami seleksi alam lintas geografi. Penyaringan adalah kemampuan dan kompetensi. Percuma kaya kalau bodoh. Percuma terkenal kalau dungu. Percuma punya koneksi dimana-mana kalau tak bisa bekerja dengan kompetensi terbaik.

Yang perlu digarisbawahi adalah, kita tidak sedang berbicara masa sekarang. Kita berbicara masa depan.

Seperti Kartini yang melihat jauh ke depan, bahwa suatu saat perempuan dapat mengecap pendidikan — hal yang mustahil kala itu. Seperti pejuang-pejuang pada zaman penjajahan yang menerawang jauh ke depan, bahwasanya udara yang dihela dalam atmosfer kemerdekaan itu lebih bebas tak menyesakkan, sehingga mereka memberanikan diri melawan penjajah menggunakan batu, bambu, dan segala macam alat pemberontakan.

Seperti orang-orang zaman kemerdekaan yang sadar bahwa bahasa Indonesia adalah bahasa perjuangan, sehingga walau corak kedaerahan sangat kental, walau saat itu bahasa Indonesia dipandang aneh, mereka yang sadar akan masa depan akan tetap berpegang pada pendiriannya. Sehingga ketika Indonesia terbentuk, orang-orang yang bisa berbahasa Indonesialah yang dapat mengaktualisasikan diri terlebih dahulu.

Kita tak sedang berbicara tentang masa sekarang, masa-masa penuh berita korupsi, masa-masa penuh kasak-kusuk nepotisme dan “main belakang”. Kita berbicara tentang masa depan. Suatu masa yang pasti akan terjadi, ketika integritas dan kompetensi akan lebih bisa dihargai ketimbang hal-hal yang bersifat materi.

Negara-negara yang kini disebut sebagai negara maju pun juga pernah mengalami keterpurukan dan keterbelakangan. Negara itu tak serta merta muncul menjadi maju dan terdidik. Mereka mengalami proses pembenahan, ditempa secara keras, proses yang menyakitkan, sampai berdarah-darah mungkin. Tapi hasil dari penempaan mereka bisa kita lihat sekarang.

Kita pun kini sedang dalam proses penempaan. Penempaan manusia, penempaan cara berpikir, penempaan kompetensi, penempaan tingkah laku, penempaan karakter.

Kita sangat keras menjerit-jerit ketika emas dikeruk negara orang, ketika gas alam dihirup seenaknya oleh tabung-tabung negara seberang, ketika sumber daya alam diambil, ketika tarian dijiplak, ketika pulau-pulau dicaplok. Kita menegangkan seluruh urat emosi atas nama nasionalisme. Atas nama jiwa patriotisme dan cinta Indonesia yang membara.

Tapi kita jarang marah, ketika anak-anak Indonesia banyak yang tak bersekolah, ketika kita mendengar banyaknya guru-guru tak berkualitas, bahkan kita tak berani marah ketika kita sendiri tak memiliki cita-cita pendidikan yang mengangkasa.

Kita tak pernah marah dengan diri yang malas-malasan belajar. Padahal sesungguhnya kekayaan Indoensia terletak pada manusianya. Dan pola pikir bahwa kekayaan hanya terletak pada sumber daya alam adalah cara berpikir otak kolonial.

Sesekali kita perlu berbicara tentang masa depan, mengantisipasi cara menyambutnya. Bebenah diri. Bersiap-siap. Bahwasanya penerapan merit system sudah sampai di ambang pintu. Untuk menyambutnya, persiapan itu harus dimulai dari sekarang. Dimulai dari generasi kita.

Jangan sampai, kita menjadi generasi pemilik semangat nasionalisme yang begitu besar dan menggebu, tapi tak pernah sekalipun kita berusaha mengantisipasi masa depan.

Dengan kemerdekaan, kita memang dijanjikan untuk menyinggahi bangsa yang cerdas dan sejahtera. Tapi bukan berarti kita diam dan pasif menunggu bangsa kita tercerdaskan dengan sendirinya. Cerdas dan sejahtera adalah janji yang harus kita jemput.

Salah satu caranya adalah beajar setinggi-tingginya. Sekolah, raup ilmu sebanyak-banyaknya, jejakkan langkah di tempat seluas-luasnya untuk belajar dengan hati yang tetap tersandar di Bumi Pertiwi. Tak mampu secara finansial seharusnya bukan halangan, karena bantuan dan pendidikan yang meringankan sudah banyak digalakkan. Beasiswa-beasiswa, sekolah kedinasan, bangku-bangku kuliah yang dijual dengan mata uang prestasi, semua menunggu kita yang berusaha lebih untuk menjangkaunya.

Karena hanya dengan memperbanyak manusia terdidik dan tercerahkan di Indonesialah, kita dapat segera menjemput pelunasan janji kemerdekaan.

Mencerdaskan kehidupan bangsa, pada akhirnya berada di tangan kita.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.