Sekoeliah

Karena pendidikan merupakan hak setiap kanak

Terik masih bersembunyi, mendelegasikan mandat kepada waktu yang menunjukan pukul tujuh. Deru mesin kendaraan dengan tenaga hasil subsidi lambat laun makin nyata memenuhui rongga telinga. Misi pagi ini sederhana : mengantar kedua adik biologis ke sekolah dengan selamat, dan nanti kembali ke rumah dengan selamat pula.

Turut berduka bagi generasi merah-putih, biru-putih, dan abu-putih. Generasi yang masih sangat suci dengan seragam putih ini harus menerima kenyataan bahwa waktu berlibur sudah tiba pada masa kadaluarsa. Senin hari ini begitu merisaukan mungkin, dan mimpi semalam menjadi salah satu bahan obrolan ber-genre horor bagi siapapun yang menerima penglihatan atau dejavu seperti apa hari ini bakal terjadi. Sembari harap-harap cemas bahwa guru juga masih malas, semoga tak ada jam ajar hari ini, kelas riuh dengan jam kosong sebagai pelajaran kesukaan atau syukur-syukur pulang pagi, yeah!

Hari beranjak pagi, selepas sarapan dan tanpa berdandan, tak lupa sun-pipi kanan kiri, menjabat tangan tanpa pelukan, lantas menempelkan di jidat tanda menghormat. Berkendara berbarengan dengan putra-putri harapan emaknya tidak sederhana, meskipun macet masih merupakan mimpi masyarakatnya namun kelakuan pengendara tidak jauh beda, sering ngerem mendadak sembari meliuk diantara angkot yang ngetem seperti kamu, suka hinggap dimana saja.

Pemandangan yang berbada, dulu lampu merah diisi lautan sepeda, namun bukan bapak-bapak paruhbaya yang adu gagah dan biar dikata mengikuti tren alaala hidup sehat di akhir pekan, padahal kantor pengap dengan asap hasil menghisap. Janjian bersama kawan satu kelas kemudian caw dengan sepeda (kadang adu pamer juga) menjadi pengalaman yang sudah langka hari ini. Satu dua terlihat berboncengan dengan ibu atau bapak yang tak lain bapak atau ibunya, dan lebih banyak lagi yang gagah dengan knalpot brong (yang bunyinya nyaring, senyaring misscall mu, dulu), atau dengan ban yang mini dan velg TDR mengkilat atau apalah itu. Sekarang, adu balap yang nafas juga beradu akibat mengayuh dengan sepenuh kalbu, sudah langka atau bahkan punah.

Seperti sepeda motor, tunggangan bocah sekolah masa kini, waktu juga begitu cepat menembus keramaian. Nampaknya baru kemaren saya kebut-kebutan di jalanan, pakai sepeda, ehh hari ini saya sudah dikebut bocah seumuran saya dulu dengan moda transportasi made in tanah samurai. Saya yang sudah kepala dua tapi masih kepala batu, syukurnya tidak berhenti sekolah apalagi putus sekolah (meski putus cinta tapi tak apa) dan sampai pada tahap pasca wajib belajar 12 tahun yang sudah, tengah, dan semoga semakin sakinah, mawadah, warahmah dijalankan di era rejim MasJoko. Lantas bagaimana dengan kawan kita penunggang sepeda, motor tadi pagi?

Pendidikan menjadi isu yang tiada habis-habisnya, baik dari kisah manis berlabel prestasi, sedih dengan bau-bau korupsi, bahkan kisah alaala ftv dengan sederet judul penggugah pola perilaku yang kian tidak manusiawi. Dengan angggaran seperlima APBN 2016, senilai lebih dari 400T, entah berapa burung hasil blusukan MasJoko ke Pasar Pramuka yang bisa diberi makan dengan duit sebanyak itu. Atau berapa anak kurang gizi di Papua yang mampu diselamatkan dari ganasnya kehidupan, entahlah.

Meski malu untuk mengaku jika belum satupun buah tangan Paulo Freire yang telah saya tamatkan, namun pesan beliau diawal agaknya bisa di iyakan. Pendidikan memang sebegitu pentingnya. Mungkin tak salah jika pendidikan merupakan salah satu komponen dalam Indeks Pembangunan Manusia yang selalu diagung-agungkan selain pertumbuhan ekonomi, meski nyatanya angka-sebatas angka, tidak selalu benar. Toh tujuan statistik adalah untuk memodelkan data kualitatif menjadi quantitatif agar mudah dimengerti, sekalipun kadang kenyataannya begitu menyesakkan, dan menyesatkan.

Pendidikan terbukti merupakan investasi paling menjanjikan, meski bisa menjadi bumerang. Bukan rahasia lagi bagaimana pendidikan dapat mengkatalis bangsa kita menuju kedepan pintu gerbang kemerdekaan. Pendidikan adalah Koentji, meski dipelintir dari niat awal politik etis kumpeni yang bukan ditujukan untuk mencerdaskan boemi poetera, tetapi malah dijadikan alat cetak pegawai murah (mungkin sekarang masih demikian ya? iya kan?). pendidikan tidak akan mengubah bangsa kita, tapi lewat pendidikan lah, manusia putra putri pertiwi masuk kedalam gerbang kemerdekaan itoe! bukan hanya termangu-mangu di depannya sadja!

Pendidikan tinggi sudah selayaknya merupakan kebutuhan bagi siapapun di tanah pertiwi, tidak kecuali bocah sekolah bersepeda motor tadi. Meski fakta berkehendak lain, sudah sepatutnnya mereka yang sudah tercerahkan turut pula mencerahkan kawan-kawan dan area yang masih diselimuti kabut pekat tanpa cahaya pendidikan. Bagaimanapun, entah dengan pelbagai kabar miring soal pendidikan tinggi, baik uang pangkal yang dipermainkan, buku perpustakaan minim yang jadi rebutan, kkn yang masih harus membayar, metode ajar yang kurang ajar, gerakan mahasiswa yang mampet kalaubukan macet, atau apapun itu… pendidikan tinggi merupakan sarana bagi siapapun untuk menjadi apapun.

Saya sempat terkagum begitu kagumnya dengan kisah Indonesia Mengajar yang diinisiasi bapak Menteri kita hari ini, yang mungkin masih berkutat dengan nomenklatur kementerian yang sudah setahun bertubuh dua. Sekaligus bermimpi menjadi salah satunya, dan mengiyakan perkataan Gie, bahwa mahasiswa seharusnya tidak larut dalam kemaha-an nya, melainkan menjadi manusia biasa, menjadi pengajar di pelosok mungkin salah satunya. Karena bagaimanapun, misi mempopulerkan pendidikan adalah yang utama, tanpa menafikan kebangslatan sistem pendidikan kita hari ini.

Bertepatan dengan hari pertama sekolah, marak propagandis kampus yang bakal menjual muka dan cerita demi menggaet dededede emesh di kampung halaman, tak terkecuali saya. Terlepas dari motif pribadi yang bisa apa saja, entah ketemu adik kelas lama, tebar pesona, menggaet guru muda, ahh makin melantur saja, salut buat kawan-kawan yang menjadi pelita di daerah-daerah. Setidaknya menjadi bukti bahwa ke maha-an Anda tidak lantas membuat tinggi dan lupa berasal dari mana.

Sebarkan semangat pendidikan tinggi itu, biarkan adik-adik dan generasi selanjutnya memeliki kesempatan untuk melihat bagaimana rasanya dihantam mafiki untuk kedua kali, ehh maksutnya kesempatan untuk melihat bahwa dengan pendidikan tinggi merupakan sarana bagi siapa saja untuk menjadi apa saja. Meski tidak semua kaum intelektual di kampus yang bertoga dan menenteng balon beralfabet gelar nantinya merupakan orang baik dan berbuat baik. Karena mereka yang hari ini di bui kebanyakan bukan orang tidak tahu cara berkelit dan teramat lihai dalam mencuri seliahi memalsukan referensi skripsi, mereka juga pintar dengan segala gelarnya. Silakan menjadi apa saja! dan semoga itu baik.

Pendidikan tinggi tidak menjamin, setidaknya (bisa jadi) lebih terjamin

Terakhir,
Pendidikan tinggi memang bukan satu-satunya sarana menjadi manusia yang paripurna.
Pendidikan tinggi juga tidak hanya menyoal GAJI juga nilai UN atau ranking berapa.
Pendidikan tinggi bukan hanya gengsi, tapi akselerasi dan menolak tetap dibodohi.
Pendidikan tinggi (tidak) selalu mahal, banyak jalan menuju roma, banyak jalan juga menggaet beasiswa.
Pendidikan tinggi tidak pernah mustahil dinikmati siapa saja, bahkan yang beratap kandang domba apalagi Anda si kembang desa.
Pendidikan tinggi tidak pernah mudah, bakal banyak waktu bersusah lagi payah, hasilnya? semoga varokah.
Pendidikan tinggi bukan buat mereka yang cuma bermimpi, tanpa tekad dan upaya berapi-api.

Selamat buat kawan-kawan di AMI, paguyuban, atau siapapun yang hari lalu, hari ini, dan hari esok bersumbangsih bagi kemajuan lewat kancah mempopulerkan pendidikan, baik ke antah berantah maupun kembali ke daerah atau SMA (dan MAN) jaman berulah. Semoga 8 juta kanak-kanak tanpa pendidikan, sastrawan salon, dan sarjana-sarjana berotak impor beserta teknokrat abal, yang dikata Rendra dulu, bukan salah satu dari kalian!

Trenggalek,
Galih Norma, pemuda harapan mertua, aminn.