Dibalik Bulan Memerah

Aku terbangun dari tidur ku. Billy masih tertidur di kasurnya. Malam ini tenang pikir ku. Aku melangkah keluar, kearah balkon. GOR tampak gelap, tanpa kehidupan setelah kejadian tempo hari. Pagar pagar yang rusak diberi garis pembatas agar kita tidak mendekatinya. Disebelahnya gedung serbaguna yang terbakar itu, masih terlihat sedikit asap.

“Kau tidak bisa tidur?” Terdengar suara dari dalam. “Ya. Aku tak habis pikir” Aku menjawab dengan sendu. Billy bangun dari kasur dan duduk. “Kau ingin keluar? mencari udara segar?” Ia menyarankan, mengapa tidak, pikir ku.

Kami berjalan keluar, kearah lapangan sepak bola, melewati parkiran. “Apa menurutmu, yang mereka lakukan itu tepat?” Tanya Billy, sembari duduk di rumput membelakangi gawang. Aku termenung, dan terus berjalan kearah tengah lapangan. “Kau tahu kemungkinan nya adalah 50 50, kan? Harus salah satu dari kedua hal itu.” Billy lanjut berbicara.

“Aku tahu.” Aku terdiam. “Tapi aku tidak menyangka akan separah ini.”

“Mereka jahanam” Tercium bau asap rokok, Billy nampak sedang asik merokok didepan gawang. “Apa yang mereka pikir.”

“Kekuasaan, membuat mereka buta.” Aku pun melentangkan diriku diatas rumput, melihat keatas, bintang. “Kau tahu, jika mereka terus berkuasa, pada akhirnya kita yang sengsara.”

“Dan jika kita melawan, kita juga yang sengsara, jadi apa kau masih ingin diam saja? Dan?” Ia bertanya, namun aku mengenali nada bicara nya. “Kau tahu mereka tidak akan berhenti, setelah Yosafat, siapa yang tahu selanjutnya siapa yang mereka panggil??”

“Kau tahu jika kita melakukan ini, kita tidak akan bisa kembali, ke kehidupan kita yang lama? Sebagai mahasiswa biasa, menuntut ilmu?”

“Apalah guna menuntut ilmu jika kita masih dibatasi pada akhirnya.” Ia berdiri dan mengikuti aku menatap langit. “Sebab pada akhirnya jika mereka mulai bergerak, kita akan binasa.”

“Jika kita diam kita akan binasa” Aku menambahkan.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.