Naskah Hidup

Faris Maulana
Sep 9, 2018 · 4 min read

Pagi ini aku terbangun.

Mata merahku menatap langit-langit kamar, seakan tak yakin apa yang ia lihat.

Tubuhku terpeluk oleh kasur keras nan tipis.

Selimut yang kuingat melindungiku dari dinginnya malam kini terbelit diantara kaki kananku.

Sebelum nyawaku pulih, dengan tergesa-gesa kuambil nyawa keduaku.

Handphone.

Aku tak ingin jika hanya aku orang yang tertinggal akan suatu naskah hidup yang menjadi nyata ketika aku terlelap.

Entah naskah hidup siapa.

Aku melihat naskah hidup orang lain yang sudah menjadi nyata, tanpa tahu, sebenarnya apa perluku untuk melihatnya, apa butuhku. Kuputuskan dengan gontai untuk melanjutkan naskah hidupku sendiri yang menunggu hari ini untuk digariskan didunia nyata.

Orang bilang, entah siapa orangnya (lagipula kau tidak peduli kan), hal-hal yang mengubah hidup seseorang atau momen-momen terpenting dalam hidup seseorang yang menggoyangkan tujuannya kearah yang lebih baik (atau buruk) terjadi dalam waktu yang sebegitu singkatnya dalam proporsi total naskah hidupnya. Seperti Galileo Galilei (sengaja aku contohkan yang minimal pernah didengar saat SD) yang sialnya ia mempublikasikan bahwa alam semesta ini Heliosentris bukan Geosentris. Berterimakasihlah ia karena ketika hal itu merupakan hal yang bertentangan dengan ‘pengetahuan umum’ saat itu, didapatkanlah house arrest sebagai ganjarannya.

Namun hal tersebut, sebuah momen yang hanya sepersekian persen dari total naskah hidupnya sebelum ia mati di 1642 merupakan kilas balik yang begitu besar impaknya terhadap dirinya sendiri bahkan dunia. Bagi dirinya momen (publikasi dan ditahannya) itu mungkin membuat dirinya sadar akan naskah hidupnya, intisari hidupnya, seakan dunia berkata ‘milikilah seluruh waktu sisamu tanpa ada gangguan dari dunia luar!’. Hasilnya? Munculah karya terakhirnya yang membahas kinematika dan mekanika material. Tentu saja momen tersebut menjadi rentetan-rentetan awal perkembangan sains modern yang sekarang bisa kita nikmati di bangku sekolah tanpa sensor sedikitpun.

Aku merayap sambil memikirkan hal-hal non substansi tersebut diatas sebuah motor pinjaman orang tua, bersama para budak korporat lainnya yang sedang riuh menikmati macetnya jalanan pagi.

Kemacetan ini terjadi bukan karena ada kecelakaan, namun karena adanya kesalahan berpikir. Keegoisan tanpa batas manusia dalam mengais rezeki (yang sebenarnya tidak perlu dikais, hanya perlu didapatkan) membuat satu kepala motor dari arah berlawanan bertemu dengan kepala motor dari arah satunya tanpa berciuman. Menciptakan suasana bak romansa masa sekolah ketika kamu bertemu si dia, bertatapan, salah tingkah, sehingga ketika kamu mengambil jalan kekiri untuk berpapasan, dia juga mengambil jalan yang sama. Terjadi momen stagnan diantara kalian berdua, berharap itu kekal. Namun tidak dalam kemacetan berpikir ini.

Aku kembali menggenggam stang motor, meredam kemarahanku atas kesalahan berpikir orang lain karena aku tahu itu sia-sia. Perubahan pola pikir perlu waktu, berabad-abad!

Kubuka kaca helmku yang jika kondisi jalanan tidak rata ia semaunya menutup kembali, seraya aku berpikir ‘dimana momen singkat untuk titik balik naskah hidupku yang dapat merubah tujuan hidupku? Apakah ia terlalu singkat sehingga aku terlewat menyadarinya? Sehingga aku berada dalam kondisi melakukan perulangan-perulangan kegiatan yang aku sendiri jenuh membayangkannya dilakukan sampai umurku tua nanti?’.

Klakson truk pengangkut pasir menyadarkanku atas realita bahwa aku harus maju karena jalanan didepanku sudah kosong dan ada beberapa motor dari sisi kanan mulai merangsek masuk dengan tergesa-gesa karena disisi kanan tersebut ada sebuah bis dari arah berlawanan hendak menggilas mereka.

‘aku harus maju’

Neuron otak mulai mengaitkan hal-hal itu. Disela-sela momen hidup dan mati bagi pengendara disampingku. ‘aku harus maju’ merupakan sebuah petunjuk yang hukum semesta berikan kepadaku atas semediku kala merayap dijalanan pagi ini.

Aku coba memaksa bermiliar-miliar neuronku, menghubungkan seluruh pengalaman dan buku yang aku baca, emosi yang aku miliki, mendekode petunjuk tersebut. Naas, otakku yang merupakan hukum semesta inipun hanya mampu mengartikan, bukan, menghubungkan ide-ide terdahulu, sehingga aku menuju pada sebuah kesimpulan, bahwa Galileo Galilei dengan momen titik baliknya itu merupakan suatu hal yang berbeda di zamannya. Doktrin bahwa semesta berpusat pada Bumi ditelan oleh seluruh penduduk Roma, Galileo Galilei dengan pengamatan dan penelitiannya mendapati sebuah kesimpulan bahwa hal itu salah, dan ia ‘maju’ memberitahukan hal itu ke khalayak ramai, menentang teori lama dan memperbaharuinya dengan teori baru.

Iterasi demi iterasi dilakukan oleh otakku, resultannya mengartikan maju sebagai sebuah perpindahan posisi benda yang ditenggarai oleh besaran vektor.

Hal itu sudah cukup jelas bagiku, kupacu motorku karena jalanan sudah mulai lebar dan sudah terlihat sungai disepanjang sisi kanan batas jalanan.

Tapi tidak cukup jelas bagimu ya? Sedikit kemurahan hatiku akan membuatmu tak bertanya lagi.

Yang dilakukan Galileo Galilei adalah keluar dari rutinitas siklik sebagian besar penduduk Roma, jika saja ia tidak kritis dan menerima segala jenis doktrin Gereja (yang merupakan sumber sains pada masa itu) mungkin ia masih bisa hidup satu sampai dua tahun lebih lama.

Aku bocorkan kesimpulanku padamu, momen-momen titik balik pada naskah hidup seseorang haruslah didapatkan dengan cara melakukan hal yang berada diluar siklus kegiatan sehari-harinya. Jika kamu setiap hari hanya melakukan hal-hal yang sama dengan yang kamu lakukan kemarin, bahkan bertahun-tahun lamanya, probabilitasmu untuk menemukan sesuatu hal yang baru akan semakin kecil. Kamu lebih suka melihat pesulap dengan elegannya mengambil kelinci dari topinya daripada mencari tahu kenapa hal itu terjadi, dan kenapa harus kelinci? Terlena dengan gemerlapnya kondisi normal yang sarat akan driving force bisa membuatmu mati kebosanan dengan segala rutinitas nirfaedah (setidaknya bagiku).

Tidak ada yang menyuruhmu percaya atas hasil menanak nasiku pagi ini, yang jelas kini aku sudah tahu kemana aku harus melangkah.

Sudah kuputuskan mulai hari ini aku akan melakukan hal-hal lain diluar rutinitasku untuk mendapatkan kemungkinan-kemungkinan terjadinya momen titik balik dalam naskah hidupku ini.

Sebagai awalannya, aku harus bangun.

Faris Maulana
Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade