See Dreams from Different Angle

Lucia Indriani
Sep 2, 2018 · 25 min read

The dream world, the true freedom of the imagination.

First I really sorry I didn’t write it in English, cuz for now it’s easier to describe in Indonesia. Sejak kecil kusadari aku adalah seorang pemikir yang aktif. Bahkan sebelum masuk playgroup hampir setiap malam otakku sulit diistirahatkan, sehingga mengalami insomnia. Apabila mampu terlelap pikiranku selalu saja berada di gelombang Alpha dan beraktifitas dalam rangkaian mimpi-mimpi aneh.

Tanpa diduga beberapa mimpi menjadi kenyataan, tetapi dalam jangka waktu yang cukup lama. Seperti ketika duduk di kelas 3 atau 4 Sekolah Dasar aku seperti berada di sebuah lahan yang luas, tanahnya dibeton dan pagarnya menyekat menjadi beberapa bagian hampir dari ujung ke ujung. Tidak ada satu orang pun di sana, juga tidak ada kendaraan yang melintas. Gedungnya hanya beratapkan seng dengan dinding terbuka. Tiga tahun kemudian lahan seluas 4 hektar dekat tempat tinggalku dirombak untuk dijadikan terminal dan dikenal dengan nama ‘Terminal Leuwipanjang’.

Lalu ketika masih di kelas 4 atau 5 SD dalam mimpiku seperti mengendarai motor matic tanpa roda dengan model menyerupai jet ski namun bawahnya sedikit lebih flat dan melayang saat digunakan — dengan konsep hoverboard di film Back to The Future. Tingkat keamanannya juga diperbaharui dengan selubung udara yang berfungsi ketika terjadi tumbukkan, sehingga tidak remuk. Memang kalau yang ini belum jadi kenyataan, tetapi model motor matic (PCX/N MAX)yang dipakai saat ini menyerupai model motor yang ada di mimpiku saat itu.

Mimpi yang lain kuperoleh sekitar 2 atau 3 tahun setelah lulus kuliah di mana aku melihat daerah Dago, Wastukencana dan sekitarnya terdapat kereta gantung dan aku ikut menaikinya bersama dengan SongO (teman Koreaku). Awalnya kupikir agak mustahil melihat gondola dibangun di tengah kota tempat tinggalku — mengingat banyaknya kabel listrik tak tertata. Lalu empat tahun kemudian Wali Kota Bandung mengumumkan proyek pembangunan cable car.

Ada lagi beberapa mimpi yang menjadi kenyataan, namun yang akan kutulis di sini bukan mimpi-mimpi semacam itu, ini sekedar gambaran cerita abstrak dengan lokasi dan gedung seakan berada di set construction sebuah film yang pernah singgah dalam mimpiku beberapa tahun yang lalu. Tentu saja alur di mimpi banyak yang terlupakan, karena tidak pernah terbesit dalam pikiranku untuk menuliskannya; hanya beberapa kepingan gambar masih melekat erat.

— — —

Tower Blocks

Bayangkan berjalan di daerah kering dan tandus tanpa ada satu pun pohon yang tumbuh di sana. Jalan yang dilalui memiliki lebar 1–2 meter dengan pemandangan rumah susun berwarna coklat berbahan seperti tanah liat. Menjulang sampai 7–10 lantai tingginya dengan bentuk tak beraturan seperti pada permainan Tower Blocks di Android.

“Bangunan-bangunan yang aneh.”

Menelusuri setiap jalannya yang zig-zag (berkelok-kelok) tanpa arah yang jelas dan terasa sempit sekali. Setiap lantai bangunan hanya diberi jendela kecil. Ketika melihat ke atas, langit hampir tidak terlihat. Tertutup blok-blok bangunan miring yang seakan mau runtuh.

Aku ingat setelahnya menjelajahi sebuah gedung kosong entah itu sebuah mall atau perkantoran yang ditinggalkan, ada juga mesin angkut barang dengan cerita yang panjang sekali (well..1 malam sebenarnya). Karena alur cerita yang terlalu rumit dan samar, jadi kulanjutkan pada lokasi berikutnya.

Dry Land

Menuju lokasi yang berbeda menggunakan mobil berjalan dengan kecepatan 55 KM per jam, sambil menaiki jembatan gantung yang menyerupai Golden Gate (San Francisco). Tampak kiri dan kanan hamparan tanah yang luasss sekali nan gersang dan hanya tersisa 1 pohon yang masih hidup.

“Beginikah yang terjadi di masa depan? 😱 Mengerikan…”

Menoleh ke arah kiri seperti tidak ada kehidupan tanpa ada apapun disekitarnya, lalu sekitar 13 kilometer dari jembatan tampak sebuah aktifitas pembangunan sepertiga jadi yang belum jelas bentuk dan fungsinya. Tinggi rangka bangunan yang sudah terbentuk sekitar 150 meter dengan luas tanah yang dipakai untuk bangunan sebesar 2,25 hektar. Entah kenapa dalam pikiranku itu adalah merupakan taman bermain yang sangat besar. Seakan melihat menggunakan drone, terbang ke arah bangunan itu dan masuk kedalamnya.

Wide River

Berada di sebuah perahu kecil yang menelusuri sebuah sungai berwarna sedikit kecoklatan dengan opacity kekeruhan 25%. Lebar sungainya sekitar 80 meter dengan kedalaman sekitar 150 centimeter. Pemandangannya seperti hutan gambut di Kalimantan.

Tiba-tiba aku turun dari perahu dan menceburkan diri ke sungai lalu berjalan perlahan menuju tepian sungai. Di dalam perahu masih tertinggal beberapa orang dewasa setengah baya yang tidak bisa kukenali wajahnya.

“Oke, ini agak aneh.” pikirku, karena aku tidak pernah memperoleh kesempatan sebelumnya untuk bekerja di lapangan. “Mungkinkah di masa depan aku akan bekerja di NGO?”

Tropical Forest

Masuk menuju hutan tropis yang rimbun di mana sebuah lingkaran pohon dapat mencapai diameter hampir 2 meter dan akarnya menjulur tebal ke berbagai arah di atas tanah. Cabang-cabangnya memiliki dahan yang tebal — sehingga aman untuk dinaiki — menjulur ke berbagai arah. Bagaikan bertualang dalam cerita Jungle Book aku berjalan dari satu cabang ke cabang yang lain. Akar gantung terjulai bagaikan tirai-tirai memenuhi semua ruangan.

“ 😲 Woaa...”

Udaranya sedikit berembun dengan tingkat temperatur rendah seperti sedang di musim dingin. Melihat ke arah peta seakan menunjukkan berada di daerah Rusia. Tidak ingat cerita jelasnya hanya saja kemudian di kawasan hutan yang lain seakan dikejar oleh sesuatu dan aku mencoba mencari jalan keluar dari dalam hutan.

Di set lain tampak sebuah gerbang dengan pintu kayu dengan model setengah lingkaran diatasnya yang tingginya 3 meter, perlahan hampir menutup. Udara di sini lebih kering dan hangat. Menumpang menggunakan pick-up melaju sekencang mungkin menuju gerbang tersebut sambil mencoba menghindari kejaran ‘sesuatu’ itu. Entah karena apa pick-up terhenti 30 meter dari gerbang sehingga aku harus meloncat dari deck-nya serta bergegas berlari secepat mungkin menuju gerbang.

“Deg~deg.. Deg~deg..g Deg~deg.. Deg~deg..g” detak jantungku terpompa keras karena takut tertangkap atau terkurung dalam hutan.

Cliff and The Train

“Hosh.. hosh…” bunyi nafasku. “Untung masih sempat keluar,” sambil mencoba mengatur nafas.

Di luar gerbang pepohonan tampak mulai lebih jarang. Dari atas sebuah tebing ada bagian yang digali seperti parit berbentuk kotak menyerupai terowongan tanpa atap. Lebar parit sekitar 70 meter dengan kedalaman 50 meter. Seperti stasiun, ditengahnya terdapat rel kereta api dan di ujung tebing rel itu seakan mengapung tanpa jelas ujungnya — karena dibawahnya terdapat jurang ataupun lautan.

Lalu tanpa peringatan sebuah kereta mulai melaju melalui parit tersebut.

“Aku harus keluar dari sini.” pikirku sambil melihat sekeliling. “D***! Tidak ada tangga untuk turun ke bawah.”

Kereta melaju kencang dan hampir menuju ekornya. Tanpa pikir panjang kuberanikan diri meloncat ke dalam parit untuk bisa naik ke atas kereta. Tidak bisa kuingat bagaimana caraku mengejar kereta, apakah dengan menaiki kuda yang meloncat ke arah kereta dari atas tebing atau menggunakan media lainnya (seperti parasut). Terdengar cukup kejam ya kalau harus merelakan kuda untuk loncat seperti itu, tapi hey.. ini kan bukan kenyataan.

Rock Museum

Waktu menunjukkan pukul 10.30 dengan udara segar di langit yang cerah. Dari atas terlihat kereta melaju kencang lurus ke depan membelah hutan pinus berdampingan dengan jalan raya — yang jaraknya 30 meter dari kereta. Dari jendela terlukis suasana perdesaan bagaikan di Eropa. Di satu titik kereta mulai melambat lalu berhenti.

Kubawa diriku turun — bukan di stasiun perberhentian — dan sebuah bangunan yang sangat minimalis berada didepanku. Maksudnya benar-benar minimalis, tidak terlihat meja/kursi didalamnya. Ruangan cukup terang dengan warnanya hitam dan putih berbahan marmer mendominasi, termasuk lantai dan dindingnya sehingga ruangan terasa dingin.

Berjalan ke arah keluar dekat restroom, terlihat beberapa menhir sebagai hiasan di sayap kiri ruang exhibition* dengan marmer yang dibentuk seperti huruf L yang diputar ke kanan. Entah fungsinya sebagai meja atau kursi, tetapi kududuki saja marmer itu untuk beristirahat. Di sini pencahayaan hanya berasal dari luar ruangan dipadu dengan beberapa lampu kecil kekuningan di langit-langit kanopi taman.

* Oya, bagaimana aku tahu itu adalah ruang exhibition? Ya tahu saja, kan ini mimpiku hahaha 😄

Floating Road

Pernah lihat film The Wizard of Oz atau cuplikan animasi ketika Goku dalam perjalanan menuju ke surga di Dragon Ball Kai? Nah mirip seperti itu saat ini. Berjalan di jalan beraspal yang seakan melayang di udara seperti ular berkelok-kelok naik dan turun. Jalan itu memiliki beberapa anak cabang yang juga meliuk-liuk. Lebar jalan sekitar 4,5 meter dan ketika melihat ke tepian jalan hanya ada awan seperti kabut melayang dibawahnya.

Tiba-tiba ada titik-titik air terciprat dari atas seakan mau hujan.

“Waduch gerimisss,” teriakku sambil mengangkat tangan untuk menutupi kepala agar tidak basah.

Lalu ada seorang anak yang berdiri didekatku dan berkata bahwa itu hanyalah cipratan air dari hembusan napas seekor paus sambil menunjuk ke atas. Aku menengadah dengan sedikit tercengang. Langitnya yang mulai gelap dihiasi kelap-kelip bagaikan bintang di langit yang sebenarnya adalah lautan luas dengan organisme laut — seperti hasil foto kamera 360 — yang mana seekor paus jenis Balaenoptera brydei (Bryde’s Whale) menari-nari sambil melompat.

“Byurr~” lagi suara air laut terbelah akibat tarian si paus.

Cipratan air seperti gerimis terlempar lagi ke daratan. Seorang wanita yang berada di depan rumah mini lalu mengajakku masuk untuk berteduh sejenak sambil menikmati teh hangat bersama dengan anak kecil tadi.

Boat in The Forest

Udara dengan tingkat kelembaban tinggi dan suhu udara mencapai 15° Celcius menyelimuti kawasan sebuah hutan pada pukul 9 pagi. Berbeda dengan hutan yang pernah kudatangi di mimpi sebelumnya, terdapat banyak ruangan terbuka. Semak-semak bersama ranting kering memenuhi jalan. Lumut tumbuh diberbagai dahan pohon dengan bau tanah seperti habis terguyur hujan. Ketika berjalan, dapat kurasakan titik-titik air menempel ditubuhku.

Sehabis berjalan kira-kira 300 meter jauhnya tampak di depan kerumunan orang-orang. Rupanya para pengunjung mengantri untuk masuk ke sebuah kabin kayu dua tingkat. Sesampainya di atas kabin ada sebuah kora-kora dengan kapasitas 40 orang berayun terombang ambing ke kiri dan kanan. Ayunan kora-kora cukup tinggi, membuat adrenalin terpacu. Dari ketinggian penumpang dapat melihat sudut pandang lain hutan tersebut.

Ke arah sisi lain kabin, orang banyak mengantri untuk menaiki bak dengan kursi terbuka seperti roller coaster yang dapat membawa penumpang untuk menelusuri bagian-bagian hutan yang mungkin sulit dijangkau. Klo susah dibayangkan, mirip sky bridge’nya Langkawi island tapi ga usah repot-repot jalan dan tidak setinggi itu. Dari atas terlihat beberapa gerombolan petualang yang lebih memilih menikmati alam dengan berjalan di tengah hutan. Jarak dari satu poin ke poin lain berkisar 1 kilometer.

— — —

Old Mediterranean Market

Suatu ketika seperti berada di sebuah market seluas 1,5 hektar. Ketika menoleh ke kanan (ke arah pintu masuk) tiba-tiba kusadari ini bukanlah sebuah bangunan, tetapi seperti mall yang berada di sebuah tenda sirkus putih yang superrrrr besar dan luasss. Puncak tinggi tendanya sekitar 20–30 meter.

Di depan tenda terdapat kanopi bagian dari tenda tersebut yang terbentang luas. Dibawahnya terdapat banyak pedagang kaki lima membuka lapak-lapak kecil yang terbuat dari kayu. Lapak kayu tersebut memiliki tonggak-tonggak yang diberi kain tipis sebagai atap, dibiarkan terurai menjulur bermeter-meter sambil tertiup angin pantai bagaikan gelombang di udara.

Aku suka sekali suasana di luar tenda tersebut. Rasanya hangat, nyaman dan tenang. Ketika berjalan di antara lapak-lapak, bentangan kain tipis halus tertiup angin menerpa wajahku berkali-kali.

Persia Coffee Shop

Siang hari duduk di sebuah kedai minuman — tidak ingat apa yang kupesan, tapi pastinya bukan kopi — beralaskan bantal duduk lebar, berserakan dan bertumpuk tak beraturan di lantai. Mejanya cukup lebar dengan kaki-kaki kecil untuk lesehan. Sambil melihat ke atas, lembaran kain selendang warna-warni ditata menghiasi langit-langit. Dengan hiasan pernak-pernik khas Timur Tengah beserta lampu gantung yang unik. Cahaya hanya berasal dari pintu masuk dan lampu gantung berwarna kuning~oranye yang membuat suasana menjadi hangat. Dindingnya didominasi warna biru tua dan muda berpadu dengan lukisan dekorasi nuansa Islami.

Yach, aku memang belum pernah berpergian ke negara Eropa dan akan menjadi hal yang menakjubkan jika kesempatan itu tiba. Sisa ceritanya lupa lagi 😢 maaf, yang berkesan hanya tempatnya saja.

German Stone House

Melihat ke kiri dan kanan di lorong gang selebar 1 meter dengan dinding-dinding batu tembok rumah dipinggirnya. Tiba-tiba tanteku yang tinggal di German muncul dan menyuruhku masuk ke dalam. Bukan melalui pintu depan, melainkan pintu belakang dari sebuah dapur.

Semua dinding terbuat dari batu seperti di rumah Eropa jaman dulu; di dapur terdapat perapian yang juga dari batu dengan corong seperti bangunan di Itali. Humm… harum sekali baunya — wangi roti yang hampir matang dari dalam tungku tersebut.

“Beneran rumah Tante Ate kayak gini? Kira-kira gimana bagian depannya yach?” — RIP Tante Renate [2019].

Sebangunnya dari mimpiku kuyakinkan suatu hari pasti bisa pergi ke sana. Aku rindu Pierre — sepupuku dari German yang hanya sekali kutemui dan entah di mana keberadaannya sekarang.

Paris?

Suatu ketika aku berada di sebuah flat dengan aktifitas yang tidak bisa kuingat lagi. Rasanya cukup panjang keberadaanku di sana dengan berbagai aktifitas yang melelahkan melibatkan kegiatan di taman seberang tempat tinggalku di sana. Di taman itu ada sepasang mahasiswa yang sedang duduk sambil membaca seakan sedang belajar dengan meja bulat didepannya.

Ketika kudekati tiba-tiba salah satu dari mereka berkata kepada temannya “Yuk pulang! Sudah jam setengah 10 malam.”

“Setengah 10 malam?” pikirku keheranan. Ternyata kudapati jam memang sudah menunjukkan pukul 9 malam lebih dengan cahaya matahari masih menerangi langit biru seakan berada di pukul 4 sore.

“Ohh begini rasanya kalau malam seperti siang. Berarti aku sedang di belahan bumi utara...”

White Sand-Sea Water

Tiba di puing-puing lantai 3 sebuah rumah yang ditinggalkan. Tidak ada sisa perabotan di dalam rumah, hanya jendela reot terbuka tanpa penutup dengan ruangan-ruangan kosong yang kotor dan tembok yang lapuk berjatuhan ke lantai. Temboknya berwarna putih seperti yang terdapat di desa Imerovigli (Santorini).

Untuk menuju ke ruangan satu dan lainnya seringkali harus melalui tangga-tangga kecil yang pendek. Setelah berputar-putar sampailah di pintu keluar yang berada di lantai 2 dengan tangga yang langsung menuju ke bawah. Pegangan pembatas tangga juga terbuat dari tembok.

Keluar dari sana terlihat hamparan pasir broken white (krem muda) yang sangat bersih. Tidak ada sampah, ganggang, kerang atau lainnya. Lautnya berwarna biru nan bening tanpa adanya gelombang laut menghampiri. Sepanjang mata memandang hanya ada lautan luas yang bersih dan rata.

Lalu kulihat kapal nelayan kecil yang ditinggalkan dengan tali yang masih mengikatnya. Kucoba mendorong kapal itu kelautan tanpa melepas talinya. Ketika melihat ke arah bawah laut dari kapal itu hatiku langsung menjadi pucat.

“Warna lautnya biru tua dan tidak ada sedikitpun angin yang berhembus. Gimana caranya keluar dari sini?”

Sumba ~ Sumbawa

Menatap ke arah lautan luas nan bersih tanpa gelombang dari atas dermaga kayu selebar 1,5 meter. Langit berwarna biru muda cerah tanpa awan dan cuacanya belum terlalu panas. Di sana tertambat sebuah kapal nelayan yang diberi motor untuk mengangkut penumpang — sebanyak 7 orang — dan sepertinya aku tiba di sebuah pulau kecil menyerupai Pulau Sumba.

Tidak terlalu banyak orang di sana. Sekitar sepertiga kilometer dari pantai jalan mulai becek, dengan genangan-genangan air yang tertahan di antara batuan karang. Mungkin semalam habis pasang, sehingga air laut naik. Tak jauh dari sana aku tiba di sebuah pasar tradisional. Mirip pasar yang ada di Bali, para penjual menempati kios-kios kecil berjejer sambil menjajakan jualannya. Ada juga pasar kaget dengan wahana ferris wheel dan bangunan menyerupai kapal besar dari kayu.

Apa saja yang kulakukan di pasar tidak begitu kuingat. Kulanjutkan perjalanan ke pantai yang lain di mana gelombang laut kurang bersahabat. Langit sedikit mendung dan angin bertiup kencang. Batu karang besar berserakan dan membentuk duri-duri seperti larva beku yang terkena cipratan air. Untuk melangkah harus berhati-hati sambil kadang harus meloncati batuan tersebut.

Ada banyak pengunjung yang memadati area itu — bertolak belakang dengan tempat aku turun tadi. Tujuan utama daerah ini adalah sebuah bangunan yang terbuat dari batu alam yang dibangun dengan gaya Eropa. Tidak jelas dulu fungsinya untuk apa, mungkin benteng ketika jaman penjajahan.

Dari jarak 70 meter terlihat wisatawan memadati bangunan. Beberapa berdiri di pinggir pagar pembatas batu sambil memegang gelas. Mungkin bangunan itu beralih fungsi sebagai hotel atau restoran. Cahaya dari dalam gedung remang-remang meninggalkan kesan damp dan suram.

Ketika hendak bersusah payah mendekati tempat itu air laut sudah mulai naik dan menggenangi pinggiran bangunan. Seperti biasa tidak bisa kuingat jelas cerita selanjutnya… tapi setelahnya ku bergegas untuk meneruskan perjalanan ke pulau berikutnya. Tidak ada perjalanan ke sana hari itu dan harus bernegosiasi dengan tukang perahu prihal biaya. Uang yang dibayarkan bukan dalam rupiah, tetapi berbentuk koin.

— — —

Relief

Berkunjung ke sebuah hunian di daerah dataran tinggi. Bukan berada di perumahan, hanya sebuah rumah nyentrik yang besar. Dari pintu masuk perkarangannya berjalan naik melalui sisi kanan ke atas garasi rumah mewah tersebut — tempat di mana sebuah relief memanjang diukir dari batu asli. Belum pernah sekalipun melihat rumah tinggal unik seperti ini. Setengah bagian depannya seakan dibangun dari bongkahan batu yang mencolok, memiliki panjang 15 meter dan tinggi 3,5 meter. Lebar pijakannya hanya 60 centimeter tanpa pagar pengaman, jadi cukup menakutkan kalau melihat ke bawah. Tidak bisa kuingat seperti apa gambar reliefnya, tetapi tingkat kedalaman bentuknya cukup ekstream.

“Siapa ya orang yang bisa membuat rumah nyentrik seperti ini?”

Ternyata pemiliknya adalah seorang haji. Oya, relief itu terletak cukup tinggi, perkiraan antara 9–12 meter dari atas tanah.

Secret Garden

Di dalam sebuah rumah mewah minimalis untuk merestorasi 12 ruang taman + 2 taman rahasia seorang seniman. Dari tempat ku berdiri ke arah depan terbentang ruangan sebesar 40 x 25 meter persegi (belum termasuk ruang kosong dibelakangku). Interior di ruangan itu sangat jarang (hanya terdiri dari sofa, kursi tinggi, meja dan piano), meninggalkan kesan luas dengan dominasi keseluruhan warna putih di setiap bagian. Temboknya 75% terdiri dari jendela kaca sehingga cahaya masuk dengan bebas memenuhi ruangan.

Dari situ kubuka salah satu pintu kaca yang menuju ke sebuah taman. Dekorasi dua patung di sudut ruangan taman ditutup dengan kain berwarna ungu — seperti saat menghadiri misa kematian Yesus Kristus. Taman di sini luasnya hanya 15 x 10 meter persegi. Kedua sisi kiri dan kanan dibatasi oleh tembok bata yang dicor dan sisi depan hanya ditutup dengan tembok kayu setinggi 3 meter. Sisi depan terdapat dua tangga mengarah ke kiri dan kanan dan ujungnya terdapat pintu kayu.

Berjalan ke arah salah satu tangga menurun dan ketika pintunya kubuka alangkah terkejutnya menemukan ruang taman yang sama persis seperti sebelumnya. Entah apa alasannya patung-patung itu ditutupi semua dengan kain berwarna ungu. Tinggi patungnya hanya 1 meter dan ditaro di atas pedestal setinggi 1 meter dari atas tanah.

Dari perkarangan depan rumah — tanah yang sangat luas namun hanya ditanami rumput saja — terlihat ruangan taman seperti berbentuk kubus yang dibagi-bagi kotaknya, 4 kotak secara horizontal dan 3 kotak vertikal tertumpuk diatasnya.

“Salah hitung gitu ya, ada di mana 2 kotak lagi?”

— — —

The Pool

Bersama beberapa teman PD (Persekutuan Doa) menggunakan minibus kami berangkat ke kolam renang umum yang cukup favorit — favorit untuk banyak orang karena sesampainya di sana cukup padat pengunjung yang memenuhi area — dan besar di Pulau Jawa. Kolamnya pun ada beberapa macam. Lama perjalanan memakan waktu hingga 6 jam.

Yang menarik adalah sesampainya di sana salah satu teman ku (Ko Helwin) mengganti bajunya dengan handuk anti-mainstream yang menyerupai T-shirt dengan benang (untuk menyerap air) yang agak tipis sehingga tidak mencirikan sebuah handuk. Di tempat itu aku sama sekali tidak berenang, seakan mencari sesuatu (titipan adikku sebagai koleksi). Aku pun bertemu dengan dua orang koko-koko kenalanku (Ko Henry dan Ko Ronny) yang sama-sama tidak ikut berenang. Mereka hanya hangout sambil membicarakan bisnis. Lucunya di dunia nyata kedua orang tersebut tidak saling mengenal.

Aku berputar-putar menjelajahi bangunan sudut WC dari semen yang notabene ramai dengan kumpulan orang. Ruang kamar mandinya bagaikan puzzle, tidak seperti kamar mandi pada umumnya dan sepertinya susah sekali mencari jalan keluarnya. Selain kolam renang buatan ternyata di bagian lain terdapat pantai untuk menikmati sunset dengan orang-orang yang tidak jelas aktifitasnya.

Exhibition

Selepas dari sana kami meneruskan perjalanan menanjak melalui jalur pegunungan. Biasanya kan kalau berpergian tau tempat yang akan dituju, nah ini bedanya.. sama sekali tidak tahu ke mana tujuannya. Dari jendela mobil kursi tengah kiri kulihat sebuah balon udara dengan orang di dibawahnya. Minibus lalu berbelok ke arah kiri dan mendapati pagar jeruji besi yang tertutup seperti di perumahan kawasan elit. Dipinggirnya ada pos satpam dan sopir berbicara dengan security di sana.

Ternyata itu adalah gedung serbaguna di mana sebuah expo sedang berjalan. Didalamnya ada banyak karya seni baik tulisan maupun instalasi para mahasiswa beserta karya ilmiah ketika mereka masih kuliah. Temanku yang lain (Ci Vero) menunjukkan karya-karya ilmiah para alumni SMA St. Angela (tempat di mana kami pernah mengemban ilmu ketika sekolah dulu).

“Ini nich Lus, yang dari Angela.” ujarnya.

Terpampang rapi informasi mengenai karya yang mereka buat dalam sebuah karton berukuran 15 x 15 centimeter. Yang sungguh di luar perkiraan karya ilmiahnya hanya berupa jilidan beberapa lembar informasi/tulisan/bentuk kesenian berukuran 11 x 3 centimeter.

Lulusan dari S’pore membuat karya yang isinya hanya berupa pertanyaan untuk menjawab sebuah tema/kasus. Sedangkan lulusan dari USA menceritakan bagaimana susahnya mendapatkan sebuah peran dan pengalamannya sebagai figuran sebuah film yang mana ia (laki-laki) harus berperan sebagai perempuan India serta harus mengeksplor segala hal tentang wanita (termasuk pakaian dalamnya). Ada juga lulusan dari Indonesia yang membuat seni berupa tumpukan kertas dengan ukuran 11 x 3 x 2 centimeter tetapi seninya terdapat di bidang panjang x tinggi-nya. Untuk melihat seninya kertas tersebut harus digerak-gerakan seperti membentuk gelombang. Humm.. it’s complicated :sweat_smile: agak sulit dibayangkan memang.

Pop-in Bazzar

Siang itu teman SMA ku (Willy) mengajak kami makan siang di lokasi tak jauh dari kami berada. Menggunakan mobil sedan, 3 orang duduk di depan dan 4 di belakang (sedan ala angkot kali ya bisa muat 3 orang di depan khkh).

Sesampainya di tujuan tampak hampir semua pedagang memampang sate jualannya. Ternyata ini seperti pujasera khusus sate. Mulai dari sate lokal dengan bumbu kacang, sate asin, yakitori, sate pipih, sate lilit sampai sate kombinasi dengan warna daging mentah seperti ayam diselip sapi. Tidak seperti Festival Jajanan Bango, penjualnya tidak banyak dan hanya 1 macam. Walau begitu pengunjung sampai rela antri dengan sabar menunggu mamang sate kembali dari istirahatnya (sholat) — saat itu hari Jumat sepertinya.

Di situasi lain aku dan teman PD ku (Dinda) berkeliling di market yang lain dan membeli Warabi mochi. Tempat jualannya mirip Skywalk Cihampelas tetapi lebih lega dan bersih. Kurasa di Bandung perlu difasilitasi tempat berjualan seperti ini (dengan klasifikasi untuk mempermudah pencarian), tetapi hanya khusus weekend seperti Chatuchak di Bangkok atau Pasar Semawis di Semarang.

— — —

Onsen

Memasuki suatu gedung dan langsung naik ke atas. Ubin lantai terbuat dari batu. Terlihat seperti sebuah tempat makan yang cukup luas seperti pujasera dengan atap terbuka di sebelah kirinya. Berbelok ke kiri ke arah atap terbuka itu dengan menaiki tangga pendek terdapat beberapa kolam kotak kecil dan asap mengepul diatasnya. Banyak orang tetap berendam atau hanya duduk di dekat kolam (tanpa kanopi) walaupun saat itu sedang gerimis.

Adapun antara satu kolam dengan kolam lainnya terdapat saluran penghubung untuk mengaliri air panas. Di sana juga disediakan 2 kamar mandi untuk ganti dan loker kecil untuk disewakan. Para pengunjung pujasera tidak bisa melihat orang-orang yang berendam, karena kolamnya tidak terlalu dekat dengan pembatas — pot-pot kotak memanjang yang ditanami bambu air.

Menurutku konsep seperti ini cukup bagus dibuat di kota besar, mengingat ada banyak orang yang sibuk dengan rutinitas sehari-hari dan memerlukan refreshing untuk meregangkan otot tubuh tanpa harus berpergian jauh. Di sisi lain kesulitan untuk pengusaha adalah penyediaan air panasnya.

— — —

Vertical MRT

Hari itu saya pergi menemui beberapa kolega, salah satunya seorang wanita dengan rambut yang sangat lurus seperti habis disetrika dengan wajah menyerupai artis Mandarin, Vicki Zhao dan dua orang pria (yang satu bergaya agak nyentrik) yang sepertinya masih satu profesi dengan wanita itu. Kami lalu berkendara dengan sebuah mobil yang kacanya bening (seperti tidak dilapisi kaca film). Hangatnya mentari pagi menerangi setiap celah tapi tidak menyilaukan, karena sebagian sinarnya tersaring oleh pepohonan rimbun di pinggir jalan yang sangat mulus.

Tidak begitu ingat cerita di awal, tahu-tahu kami memasuki sebuah lift — yang kemudian kuketahui itu sebenarnya adalah MRT — dari sebuah gudang menuju lantai atas di bangunan yang lain; jadi arahnya menyerong. Tidak seperti lift yang biasa kita gunakan, ukurannya sekitar 2 x 3 meter (atau lebih) dengan 4 kursi pesawat VIP berwarna hitam dari kulit (secara berhadapan) yang bawahnya dapat digunakan untuk selonjoran. MRT kemudian melaju cepat ke atas seperti bermain roller coaster.

Dari kaca terlihat berbagai bangunan pencakar langit dengan jalur layang MRT.

“Koq seperti di Hongkong yach? Tapi pas di mobil firasatku bilang sedang di Batam.”

Tak lama dari situ kami pulang dengan gerbong MRT yang sama sambil menikmati pemandangan sampai-sampai tidak sempat kuabadikan (sangking cepatnya melaju) untuk kuposting sebagai Whatsapp story ^^’ masih sempat-sempatnya mikirin kayak gitu.

Menuju tempat yang lain seperti bangunan sebuah mall. Diluarnya terdapat kargo bekas yang dimanfaatkan untuk berjualan dan sebuah stand penukaran tiket untuk membeli makan.

“Untuk mendapatkan tiket harus memberikan copy KTP dan xxx (lupa)? Wattt.. ga salah?!” ujarku. Aku teringat ketika mau membeli SIM card di Singapore, passport-ku harus di scan dengan scanner mini seperti di sini.

Malamnya saya pergi ke festival dan tak kusangka bisa bertemu dengan Joko Qiou — seseorang yang kukenal ketika mengikuti Konvenas 2014 di Lembang. Kami berbincang sebentar dan kulihat ia memasang foto di Whatsapp story dengan tulisannya tentangku yang membuatku sangat terkesan. Apakah sebenarnya aku menaruh hati padanya sehingga bermimpi seperti ini hahaha.. sempat terlintas pikiran seperti itu dibenakku. But now I’m sure I don’t have any feeling on him.

— — —

Underground Tunnel

Buat kalian yang lahir sebelum tahun 1990 pasti pernah dengar Toko Buku Q’ta. Toko buku yang jadi favorit anak muda karena mereka menjual stationery import sampai buku tulis unik dari Korea beserta kartu ucapan pop-up.

Masih dilingkungan toko buku itu ada taman dengan gazebo dan meja pendek didalamnya. Di sana saya seperti hendak mengarang kata-kata untuk dibubuhkan dalam kartu ucapan pop-up (mungkin karena bulan depan kita merayakan Natal) sambil menunggu temanku, Marbel. Marbel pernah bekerja di tempatku bekerja dan kami pernah berjanji untuk main bersama suatu saat nanti, namun sampai saat ini keinginan tersebut belum juga terwujud.

“Jadi ingat aku belum menyelesaikan paper cutting yang akan kuberikan padanya.”

Selepas dari sana bercengkrama dengan para BM (Branch Manager) dari tempatku bekerja; bukan di kantor tentunya, mengenakan pakaian bebas sambil menikmati liburan dan segelas coklat panas. Tiba-tiba salah satu BM baru menanyakan seragam untuk ia kenakan dan teringat BM (baru) sebelumnya yang dikeluarkan belum mengembalikan seragam sehingga saya sibuk mengejarnya.

(_ _’) “Sigh.. bisa-bisanya pekerjaan kantor sampai terbawa ke mimpi!”

Sorenya sekitar pukul 3 aku bertemu dengan ke-2 teman SMA ku yang di suatu restoran Jepang untuk mengikuti reuni SMA. Daerah tempat makannya cukup unik karena berjejer berbagai restoran seperti yang biasa kita temui di CiWalk, tetapi lokasinya seperti di pinggir alun-alun dan membelakangi jalan besar.

Ketika hendak masuk ke dalam, salah satu dari kami — Susi — tampak ragu untuk memasukinya. Ternyata ruangan yang dibooking adalah ruangan private dan konon biaya yang dikeluarkan bisa mencapai minimal Rp 500.000,- per orang. Pelayan wanita yang memandu kami lalu membuka salah satu jendela panjang dengan ukiran kayu khas Malaysia setinggi pintu yang tertempel di dinding resto. Wow pikirku, ada pintu rahasia yang disamarkan oleh relief pada dindingnya.

Sekitar 5 meter dari pintu tersebut terdapat pintu lagi menuju ruangan lain dan aku masuk ke dalamnya mengikuti si pelayan. Di sana terdapat lorong yang cukup luas dengan kamar-kamar VIP bergaya bangunan kuno ala Melayu. Aneh sekali pikirku, restoran Jepang tapi desainnya Melayu. Saat pelayan menunjukkan kamarnya ke-2 temanku ternyata tidak ada bersamaku, akhirnya ku coba mencari ke ruangan sebelumnya dan di sana kudapati Susi sedang menahan kedua kakinya sambil mencoba untuk kabur. Temanku yang satu memegangi tangan Susi, mencegah agar ia tidak lari.

Menoleh ke arah kiri 4 meter dari tempat kami berdiri ternyata ada dua eskalator (naik-turun) menuju lorong bawah tanah seperti jalan menuju MRT di Singapura. Tidak dapat ditahan Susi lari ke arah eskalator dan kami berusaha mengejarnya. Sesampainya di terowongan kulihat jalannya panjang sekali dan terang, lurus ke depan dengan ubin berwarna broken white. Di sisi kiri terdapat travelator, jarak 2 meter ke arah kanan dipasang pipa setinggi 25 centimeter memanjang sebagai media untuk meluncur dengan skateboard, dibarengin papan media lainnya meliuk-liuk bagaikan skatepark mini. Orang banyak lalu lalang di terowongan tersebut kebanyakan sambil berjalan kaki.

— — —

Four Task

Ada dua orang pemuda (yang tidak kukenal) berada di sebuah pulau; entah mereka sedang menjelajah atau mencari jalan keluar. Mereka lalu tiba di sebuah sabana, terlihat ilalang setinggi satu meter di sepanjang sisi kiri. Tiba-tiba seorang dari mereka melaju ke depan dengan cepat dengan tubuh yang melayang 20 centimeter dari atas tanah. Ia melihat ke arah ilalang dan tampak air hujan turun diatasnya. Lucunya awan hujan tersebut pendek dan hanya membasahi sebagian dari ilalang sambil perlahan-lahan maju ke depan. Jadi mereka seakan sedang berlomba saling mendahului satu sama lain dan si pemuda terlihat sangat menikmatinya.

Pemuda yang satunya juga sama, melayang meluncur ke depan lebih cepat dari temannya walau kalah start. Setelah berkelana sekian kilo munculah portal dengan seorang penjaga yang bersiap menutup gerbangnya. Pemuda yang kalah start itu terkejut dan memicu lajunya agar sampai ke gerbang sambil mengingatkan temannya. Tak sampai lima detik pintu portal — dari dalam terlihat transparan dengan motif gelombang — telah tertutup dan si pemuda pun sampai tepat waktu dengan napas yang terengah-engah terpicu adrenalin yang tinggi.

“Temanmu kurang beruntung, dia harus menjelajah sehari lagi untuk menemukan portalnya.” ujar sang penjaga pada pemuda yang berhasil masuk ke portal. Rupanya setiap pukul 15.00 portal tertutup dan lokasinya random bisa dimana saja di pulau tersebut. “Jadi, kamu makan juga buahnya!” sahutnya lagi.

“Buah…?!” pikir pemuda itu, lalu terlintas buah yang sebelumnya ia petik dari pohon bersama temannya “apa mungkin itu buah yang ia maksud…”

Teringat ke Kitab Kejadian, ada buah yang tidak boleh dimakan. Kalau pernah menonton film One Piece pasti mengenal devil fruit yang memberikan kemampuan super. Nah sepertinya buah yang dimakan memiliki kombinasi tipe Paramecia dan Logia, yakni dapat terbang tanpa berubah bentuk (seperti di Dragon Ball).

Oke kembali ke cerita, ada 4 tahapan yang harus dilalui untuk… untuk apanya ga jelas, mungkin buat lolos dari tempat tersebut ya. Di tahap yang ke-2 atau ke-3 tiba-tiba aku berperan di sana (ke-2 pemuda tadi sudah habis perannya), yaitu harus bertanding sepak bola dan itu sangat menyebalkan. Waktunya hanya 30 menit tapi terasa luamaaa sekaliii — mungkin karena ini bukan olah raga favourite ku. #meh

Di tahapan terakhir yang bermain adalah adikku beserta istrinya, lalu Bobby (teman dekat adikku saat SMA & kuliah) dan seorang pemuda yang tak kukenal. Di sana mereka harus menari dan entah melakukan gerakan lainnya serta bekerjasama di sebuah ruangan putih dengan tembok kayu seperti dalam gereja pada MV Stay With Me (Sam Smith). I have no idea why I dreamed like that.

Lalu aku dan adikku dibawa ke sebuah gudang seluas 40 x 40 meter dengan kanopi alumunium yang tengahnya bolong sehingga cahaya dapat masuk ke dalam. Di sana kami dipertemukan dengan seorang opa-opa berusia 85 tahunan dan ia berkata kalau kami dapat melewati semua tahapan maka ia akan memberikan ini (sambil menunjuk ke arah mobil-mobil yang dibawa ke gudang itu) pada adikku. Wéw ada sekitar lebih dari 28 mobil dengan berbagai model yang ditunjukkan (tetapi beberapa modelnya sama). Belum pernah kutemukan mobil dengan model-model itu sebelumnya. Body’nya masih mulus dan bersih, namun seperti keluaran sebelum tahun 1965. Yang paling kuingat (karena unitnya ada sekitar 7 buah) adalah menyerupai mobil Austin Mini Seven Super Deluxe berwarna biru (langit) muda keluaran 1960. Orang tua itu berkata bahwa ia mendapatkan semua mobil tersebut dari hibahan.

Entah kenapa ketika bangun jadi teringat dengan perumpamaan pekerja di kebun anggur yang diberi upah 1 dinar (Matius 20:1–16). Apa mungkin karena selama ini saya bergumul akan pekerjaanku.

— — —

Sculpture and The Binary Tree

Hari itu saya berada di lantai 2 kediaman (almarhum) Pa Goh — pendiri perusahaan tempatku bekerja saat ini. Sebenarnya saya tidak pernah masuk kedalam rumahnya dan tidak tahu apakah rumahnya ditingkat, karena setiap sehabis Imlek kami (para senior di kantor) mengunjungi beliau hanya sampai di ruang kerjanya saja dirumahnya.

Di sana kulihat ada seseorang yang mencari sebuah video yang Pa Goh pinjam, dibantu oleh sopir/(mantan) satpamnya membongkar berbagai DVD blue ray. Setelah berjam-jam mencari dan tidak menemukan aku berjalan ke sisi lorong yang lain di lantai 2 rumah tersebut dan melihat pemandangan yang menarik. Lorong itu menuju keluar rumah. Kulihat salah 1 teman kantorku (Rendy) sedang memahat sebuah bongkahan batuan larva (mirip batu apung karena teksturnya bolong-bolong) berdiameter 1 x 1 meter.

Setelah kudekati keluar lorong tersebut menuju sebuah tempat dengan banyak pasir sebagai alasnya, namun tidak kutemukan laut di dekat situ. Melihat sekeliling terlihat beberapa anak muda yang aktif di BIA (Bina Iman Anak) juga belajar memahat bongkahan batu yang sama. Sebuah wajah mirip Buddha sedang dipahat oleh Rendy.

“Ren, ini ada yang cacat. Batuannya bolong dekat leher. Gimana cara ngatasinya?” tanyaku penasaran sambil memegang daerah tersebut.

“Hati-hati, jangan dipegang! Ini gampang hancur.” ujar seorang wanita muda yang ternyata menjadi mentor di tempat kursus itu.

“Awas, minggir-minggir” kata seseorang di sana sambil membuka jalan.

Lalu seorang gadis yang terlihat seperti apprentice lalu membawa beberapa cangkang yang sudah dilapisi sesuatu ke arah patahan yang dibuat oleh Rendy. Melihat ini aneh pikirku, masak batu ditambal oleh cangkang. Beberapa orang lainnya juga berjalan beriringan membawa cairan berwarna olive (hijau daun) dan beberapa orang di sana mengambil cairan tersebut menggunakan spons atau alat-alat yang mereka miliki.

Mengikuti para pembawa cairan ke tempat yang lain, sebuah lahan kosong yang sangat luas dengan banyak tumbuh-tumbuhan tersusun di atas meja. Diatasnya terdapat kanopi sehingga udaranya sejuk. Menggunakan pipet beberapa orang seperti menyuntikan cairan itu ke ranting pohon (tanpa daun) yang keseluruhan berwarna putih sedikit bening seperti terbuat dari es. Cairan itu lalu merembes dengan cepat ke dalam ranting dan pipet itu lalu menyedot kembali cairan yang terserap terlalu banyak sehingga warna olivenya menjadi pucat.

Berulang-ulang mereka melakukan hal yang sama. Seperti mewarnai namun dengan teknik yang selum pernah kulihat. Hasil akhirnya terlihat seperti batu giok yang masih mentah dengan pola marmer. Jadi ada bagian yang warnanya kuat dan warnanya pucat. Saat ini suhu ruangan berkisar 24 derajat Celcius dengan cahaya seperti pukul 10.45 siang. Kalau dipikir-pikir ga mungkin itu terbuat dari es, kan suhunya cukup hangat, tapi kalau dari batu apa mungkin bisa menyerap semudah itu…

Berjalan ke arah yang lain dari ruang exhibition terpajang berbagai tanaman yang seakan dibuat menyerupai bentuk burung. Mengagumkan ada yang terlihat natural seperti burung cendrawasih. Tiba-tiba seorang pemimpin — laki-laki berusia 40 tahunan dengan perawakan tinggi, kumis tipis dan wajah mirip Jung Woo Sung — dari group yang membuat cairan juga melihat tanaman yang kuperhatikan dan seperti sedikit mumbling karena aku menghalangi pemandangannya. Lucunya pria tersebut mumbling dengan nada pura-pura judes tapi dalam hatiku sebenarnya dia seakan sedang bercanda untuk membuat komunikasi terhadapku.

— — —

Blurry Space

Suatu kali pernah mendatangi suatu tempat yang dinding tembok dan pintu kayunya dicat berwarna-warni dengan hiasan bunga + signage. Rumah itu berada di lorong seperti gang dengan lebar jalan sekitar 3 meter, memiliki tangga masuk yang tingginya 1,5 meter terbuat dari semen.

“Sepertinya ini di Itali.” sambil menoleh ke kiri dan kanan.

Sebelum mendatangi rumah itu ada jalan cerita yang tidak dapat kuingat, begitu juga setelah kuketuk pintu rumah itu kemudian pintunya terbuka. Ini adalah mimpi yang kudapat bertahun-tahun yang lalu sehingga jalan ceritanya benar-benar sudah kabur.

Ada juga sebuah ruang terbuka seperti taman tanpa pepohonan di dalam sebuah bangunan melingkar yang sudah lama ditinggalkan, dikelilingi beberapa bagian bangunan yang runtuh dan diselimuti tumbuhan merambat. Saya ingat masuk ke dalamnya dan sedikit menakutkan karena tangganya roboh ketika hendak turun dari situ sehingga pikiranku tidak mau lagi mengingat-ingat jalan ceritanya.

Lokasi yang lain berjalan memasuki taman di dalam tempat retret atau biara. Pintu gerbang masuknya besar namun dibuat tertutup rapat dan diatasnya dibangun kanopi seluas 8,5 x 5 meter. Di antara rumput tersusun ubin batu berbentuk bujursangkar yang sangat rapi memanjang ke dalam. Dipinggirnya dibuat pot-pot panjang untuk menanam bunga dan tumbuhan lainnya. Ada juga gemericik air dan lantai semen untuk orang bisa berkumpul di tengah taman. Suasananya sangat sejuk dan tenang.

— — —

My Dream House

Sejak lama saya suka mendesain rumah impianku sendiri, mulai dari desain-desain geometris dengan bentuk asimetris sampai rumah dengan tampak atas berbentuk galleon dilengkapi dengan bangunan khusus yang atapnya dapat terbuka karena ada teleskop didalamnya. Karena ditujukan untuk ilmu pengetahuan, maka dalam bangunan khusus tersebut disediakan juga buku-buku astronomi seperti perpustakaan mini dan koleksi buku pop up ku (dalam lemari kaca). Sebagian atapnya dibentuk seperti mata dan terbuat dari kaca sehingga cahaya dapat masuk ke dalam dan menghemat biaya. Mejanya terbuat dari kayu melingkar persis di bawah atap kaca dengan tempat duduk berbentuk bantal.

Orang lain yang ingin belajar dan mempelajari bintang boleh masuk dengan biaya masuk yang murah. Buat yang ingin melihat bintang dan membawa teleskop sendiri dapat duduk di pinggir bangunan yang alasnya terbuat dari kayu sehingga tidak dingin saat malam hari. Pinggir bangunan hanya terdiri dari 4 sisi (atas, bawah dan kedua sisi tembok berbentuk L) sisanya dibiarkan terbuka untuk mempermudah pengamatan.

Tiba-tiba pagi ini bermimpi… berada di sebuah ruangan dengan cahaya yang agak redup (remang-remang) seperti pukul 16.45 sambil melihat ke bawah. Tampak kayu kaso tersusun berjejer rapi dengan jarak 20 centimeter dilapisi akrilik bening. Susunan kaso memiliki lebar 2 meter dengan panjang antara 3–4 meter (lantainya sendiri terbuat dari ubin ^^’ kurasa). Dibawahnya tampak seperti kolam renang yang disinari cahaya sore nan cerah dengan air mengalir berwarna biru kehijauan yang sangat bening. Rasanya ingin terjun meloncat ke dalam aliran air itu dan berendam di sana. Entah kenapa namun dalam hati aku tahu kalau ini adalah rumahku.

Lalu aku berjalan 5 meter ke arah kanan ruangan tersebut menuju jendela. Melihat ke arah kiri dari jendela tampak bangunan utama yang cukup lebar dengan tembok terbuat dari bata yang dilapisi semen dan dicat putih dan sebagian menyatu dengan ruangan ini. Udara tampak lembab seperti habis gerimis. Dari jendela terlihat sebuah kebun dengan satu buah jeruk berwarna oranye yang menarik perhatianku (karena hanya sebuah itu saja yang sepertinya sudah matang, buah-buah yang lain berwarna hijau). Pohon jeruk terlihat aneh karena tinggi sekali, hampir setinggi pohon durian. Ada beberapa pohon buah di kebun itu, tapi aku tidak terlalu ingat ada buah apa saja (rasanya sejajar dengan pohon duren). Dari situ kusadari sepertinya aku sedang berada di lantai 2 atau 3. Kolam yang kulihat sebelumnya mengalir sampai ke kebun dan air dibawahnya tampak sedikit lebih kotor karena lumut/debu/tanah yang terciprat ke dalamnya.

“Ohh ternyata itu bukan kolam, tapi sungai kecil!” ujarku dalam hati.

Setahuku tidak baik jika ada aliran air yang mengalir di bawah tempat tidur, tapi mungkin kalau mengalir di bawah bangunan seperti ini tidak apa-apa. Airnya luar biasa bening dan rasanya ingin lompat ke dalamnya untuk berendam atau berenang.

To be continued…

#kisah #cerpen #ilustrasi #dream #dunialain #bias

Written by

I'm a part time artist, creating paper cutting and some other arts. Check me on instagram @103cia.papier

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade