Pantai Kupang yang di Gadai

Kupang terlalu indah. 
Kebanyakan dan hampir semua tempat yang bisa dan sangat dekat dengan pemukiman bahkan perkotaan, terdapat spot — spot bibir pantai yang masih sangat ‘perawan’, tetapi sayang sudah di monopoli aksesnya.

Pemerintah kota boleh saja dengan segala jenis alasannya menggadaikan tempat — tempat yang indah itu demi pemasukan daerah, lalu dengan berpikir bahwa jika tempat itu di gadaikan, pasti akan menampung tenaga
kerja juga, tetapi sayang, sepertinya peningkatan jumlah penduduk yang harusnya di tekan.

Terlepas dari keinginan dan kebutuhan manusia, Kupang disebut kupang bukan karena hanya keberadaan suku, budaya dan identitas -identitas
marga, tetapi kesatuannya meliputi alam — alamnya.

Jika di monopoli begini, mungkin sedikit berlebihan pendapat saya, ada salah satu bagian dari wilayah kupang yang di sandera, dan di nikmati oleh orang — orang yang membayar.

Salah satu bagian dari kupang di culik dan di pekerjakan secara paksa, alam di paksa untuk bekerja untuk memuaskan mata — mata orang yang membayar, jika sudah rusak, hancur, maka di tinggalkan dan di biarkan begitu saja. Kebebasan — kebebasan alam untuk di nikmati masyarakat secara bebas di ambil, harus melewati pihak — pihak yang memonopoli, membayar atau menyewa, entah apakah itu tempat menginap, restoran, kawasan eliteee, dan segala jenis usaha yang menggunakan daerah pinggir laut sebagai tempat berbayar.

Pembangunan kota bukan hanya berpusat di daerah padat penduduk, dan tidak harus identik dengan bangunan baru, tinggi, dan berwarna cerah serta terlihat mewah. Pelestarian alam juga harusnya masuk dalam acara — acara pembangunan, meniadakan tindakan monopoli dengan alasan apapun juga untuk memiliki spot — spot yang di khususkan hanya bagi orang — orang yang membayar.

Di bayarpun tak dirawat. Kenapa bukannya pemerintah kota yang ambil alih dan menjadikannya tempat publik, kenapa harus di beri pada pihak — pihak swasta, bosan dengan keindahan alam yang selalu di monopoli.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.