Beberapa Hal yang Saya Pelajari Selama Menjadi Pengajar (Bagian 1)


Menjadi seorang pengajar bukanlah impian saya dari lubuk hati yang paling dalam. Seorang pengajar atau guru, menurut saya, selain harus memiliki ilmu yang luas juga harus memiliki sifat-sifat mulia lainnya seperti penyebar, penyayang, kreatif, dan inovatif secara naluriah — dan saya kesulitan menemukan semua hal itu tumbuh dalam diri saya.

Singkat cerita, saya menjadi pengajar karena pilihan yang cukup sulit. Setelah lulus S1, seperti teman-teman lainnya, saya pun bertekad untuk mencari beasiswa bagaimanapun caranya. Saat itu motivasi saya sangatlah besar karena dukungan dari orang-orang sekitar. Namun, karena saya adalah anak terakhir, ibu menumpukan semua harapan pada saya untuk menemani beliau di masa tua nanti.

Ada perang di dalam diri saya, antara sisi egois untuk mewujudkan mimpi saya dan sisi logis untuk menuruti kemauan ibu yaitu mencari pekerjaan, menetap di rumah, dan menikah — Hal terakhir yang disebutkan adalah yang paling jauh dari pikiran saya. Yah, hati nurani saya condong ke pilihan kedua. Bagaimana tidak? Mana mungkin saya tega untuk membiarkan ibu menghabiskan hari tuanya dalam sepi, setelah bertahun-tahun lalu ditinggal pergi oleh satu-satunya tumpuan hidupnya. Tak sanggup saya membayangkan pengorbanan beliau selama sebelas tahun ini, hanya demi kami. Dan jika saya harus egois juga, entah apa yang akan terjadi, saya pun tak sanggup membayangkannya. Akhirnya, saya memutuskan untuk menyimpan mimpi-mimpi itu dan merengkuh ibu. Apapun yang saya pilih, saya yakinkan diri bahwa nanti takkan ada penyesalan.

Saya sempat protes kepada diri saya sendiri dan Tuhan, kenapa saya tidak memiliki banyak pilihan seperti teman-teman saya. Paling tidak, jika bukan untuk melanjutkan studi ke luar negri, saya bisa melakukan pekerjaan yang saya sukai — menjadi selain pengajar.

Namun, di pedesaan seperti rumah saya ini, apalagi yang bisa diharapkan? Tidak banyak pilihan, terutama jika pekerjaan itu haruslah pulang -pergi dari rumah. Beberapa job fair sempat saya kunjungi, dan ibu tidak pernah setuju dengan pilihan-pilihan yang ada karena itu berarti saya harus pergi. Maka, menjadi pengajar adalah satu-satunya hal yang logis menurut saya pada saat itu.

Meskipun menjadi pengajar terlihat seperti pilihan terakhir, hal ini tidak begitu mudah juga ternyata. Saya lulusan jurusan sastra, maka jika sekolah adalah tujuan utama, akan sangat sulit. Hal ini dikarenakan tidak ada kenalan yang bisa ‘membawa' saya masuk kesana. Saya pun menghibur diri, “yah, lagipula menjadi guru bukan impianku, kan?”. Hidup ini keras. Sungguh.


Pada suatu hari saya termotivasi untuk mencari pekerjaan sendiri, tanpa bantuan siapapun. Satu-satunya tujuan adalah menjadi pengajar di tempat kursus. Singkat cerita, saya menjadi pengajar di lembaga kursus Bahasa Inggris. Disinilah saya menemukan banyak hal untuk dipelajari. Banyak hal ajaib terjadi di sini, yang tidak pernah saya duga sebelumnya. Ya, siapapun tidak akan tahu apa yang akan terjadi. Saya pun berusaha tetap optimis, sambil belajar menjadi manusia yang sesungguhnya.


Sekian dulu untuk bagian ini, hal-hal ajaib itu akan saya ceritakan pada bagian-bagian selanjutnya.

Klik tanda cinta hijau, jika anda penasaran. Silahkan respon jika anda punya pengalaman yang mirip. Terima Kasih. :-)