Tentang Musik


Bagi sebagian orang, musik sudah seperti teman. Saat tak ada yang memahami, musik yang tepat bisa memberikan nasehat, motivasi, semangat bahkan olokan. Namun pada saat yang paling rumit, musik juga bisa membuat kesedihan berlarut-larut. Untuk itulah, memilih musik yang tepat pada saat yang tepat itu perlu dan penting (untuk saya).

Berikut ini adalah coretan tentang musik, bukan dari sudut pandang seorang musisi, atau ahli sejarah musik, cukup dari sudut pandang seorang penikmat musik, yang gampang terbawa arus modernisasi, digitalisasi, dan emansipasi (lhoh)

Saya tidak hanya menyukai satu genre musik saja. Apapun jenis musiknya, asalkan itu enak di kuping dan ngena di hati, jadilah itu musik favorit. Mungkin bagi orang lain musik atau lagu favorit haruslah berdasarkan genre tertentu, tapi tidak bagi saya. Akan tetapi ada beberapa genre musik yang belum pernah menjadi favorit saya, seperi campursari, koplo dan metal.

Sebelum membahas lebih jauh tentang hal ini, alangkah baiknya jika membagi tingkatan mood kedalam level 1–10. Dimulai dari angka 1 untuk tingkatan kesedihan paling mendalam, hingga angka 10 untuk kebahagiaan yang paling tinggi. Dan yang paling utama, setiap genre punya moodnya masing-masing.

  • Untuk skala mood 1–3, lagu yang cocok adalah yang bergenre akustik. Tentu saja dengan lirik dan nuansa yang sesuai. Biasanya lagu bertemakan depresi diiringi lantunan piano atau biola. Bisa didengarkan saat kehilangan gebetan gara — gara ditikung teman sendiri. Namun perlu diperhatikan, mendengarkan lagu dengan pesan yang kurang tepat dapat membuat kegalauan semakin menjadi-jadi. Pada tingkat yang paling ekstrim, menjadi depresi atau punya niatan bunuh diri (istighfar)
  • Lagu-lagu Pop dan Jazz, cocok untuk mood berskala 4–6, karena lagu-langu dengan genre ini biasanya punya mood yang ringan dan santai. Jenis lagu ini bisa didengarkan pada saat hati sedang bahagia tipis-tipis. Misalkan saat menemukan uang di saku sendiri, bersua idola di jalan, atau jika cukup beruntung mendapatkan makanan gratis.
  • Skala mood berikutnya adalah 7–8, lagu pop yang sedikit upbeat hampir rock, sangat dianjurkan untuk didengarkan. Tingkatan kebahagiaan bisa dirasakan saat gaji baru saja cair.
  • 9–10 adalah tingkatan mood paling akhir dan sakral, yang mungkin skala terjadinya adalah jarang. Perasaan ini bisa dirasakan saat mengetahui cintamu tidak bertepuk sebelah tangan, atau saat mendapatkan kabar bahwa dosen pembimbing sudah memberikan acc untuk sidang skripsi. Nah, lagu yang bisa didengarkan adalah rock, dengan catatan lirik dan nuansa yang sesuai.

Begitulah macam — macam genre musik yang saya sukai. Meski sedikit ngawur dan sedikit maksa, itu adalah hak pribadi tiap warga negara.

Nah, Bagaimana dengan selera musikmu? Silahkan tulis di kolom respon.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.