Pahlawan saya sekarang

Umur 7 tahun.

Aku belum mengerti apa-apa tentang dunia. Betapa tak berdosa nya aku saat itu. Yang kuinginkan cuma nonton Doraemon jam 8 pagi setiap hari minggu. Oh. Dan juga nonton Power Ranger, aku ingin sekali jadi ranger pink. Nggak lama, aku rebutan sama sepupuku yang pengen jadi ranger pink juga. Yang kuinginkan bisa makan es krim dengan Bapak setiap hari, sambil mendengar kisah-kisah konyolnya semasa kecil. Seperti kisahnya yang 'menyelamatkan' teman-teman dari ujian dadakan dengan melemparkan petasan bau di kelas.

Ya. Bapak. Idolaku. Pahlawanku.

Selalu permisif sama kelakuanku kalau aku nggak mau ngerjain PR. Bantu belajar, tapi besoknya malah bikin aku dapet nilai jelek. Kekonyolan yang melekat erat dengan kewibawaan itulah yang membuat saya selalu hormat sama Bapak. Setidaknya, saat itu.

Umur 9 tahun.

Badai datang. Pernikahan Ibu dan Bapak terancam. Rupanya ada wanita lain. Dengan kekuatannya yang luar biasa, Ibu merawatku. Ibu memastikan masa pendidikan ku tidak terganggu, walaupun beliau bertengkar hebat dengan Bapak setiap hari. Kabur dari rumah kami ke rumah Oma, sibuk menyiapkan buku-buku sekolahku di pagi hari dan berurusan dengan perempuan durjana itu hampir setiap hari.

Tak terelakkan lagi. Aku mengganti posisi pahlawan di hati ini. Bapak. Aku nggak bisa hormat lagi. Posisi pahlawan otomatis berpindah ke Ibu.

Umur 17 tahun.

Lihat aku sekarang. Aku berani klaim aku datang dari keluarga berantakan. Walaupun Bapak dan Ibu masih mempertahankan pernikahan mereka. Cuma status. Lihat semua. Lihat betapa hancurnya diriku. Terporak poranda akan pahitnya hidup. Betapa nikmatnya menghancurkan diri sendiri. Aku berganti pasangan hampir setiap bulan. Aku mengandalkan diri pada asap rokok dan minuman keras. Semakin kasar bahasaku, semakin hebat kelihatannya.

Siapa kali ini pahlawanku? Yang tidak akan mengkhianati ku dengan perbuatan bodoh seperti selingkuh dan menyakiti Ibu?

Mereka. Para musisi band.

Mereka yang dengan semangat memperjuangkan idealisnya. Mengobarkan sakit hati mereka. Mereka yang terlihat gagah dengan anting di hidung, rambut panjang, tak ketinggalan menggenggam botol bir kemana mereka pergi.

Aku mengurung diri di kamar. Aku meniru mereka dengan patuh. Belum berani buat tato, sayatan di tangan pun aku buat sebagai gantinya. Lirik mereka yang penuh kebencian merupakan mars dalam hidupku.

Umur 25 tahun.

Lucu kalau mengingat masa puberku. segitunya berusaha menghancurkan hidup, padahal banyak di luar sana yang tidak seberuntung aku. Betapa beruntung. Masih punya atap untuk bernaung, makan enak dan penghasilan yang lancar setiap bulan.

Pribadiku sudah jauh berubah. Aku berhasil mengubah perspektif ku menjadi orang yang lebih baik. Teman-teman dan keluarga tak berhenti memberikan support. Terutama manusia yang satu ini.

Pacarku.

Si keren yang punya berbagai macam keahlian. Terutama di bidang kreatif. Satu lagi idolaku. Pahlawanku. Pahlawan yang suka membuaiku. membuatku lupa akan masalah keluarga. Lupa sama Ibu. Lupa sama Alm. Bapak. Lupa jadi kakak yang baik. Lupa kalau aku anak pertama yang harusnya jadi panutan untuk adik-adikku. Lupa pulang dengan kedok kerja sampai larut malam. Iya. Karena aku memilih bersama si pacar ini. Satu lagi pahlawan semu.

Umur 28.

Pacar yang kemarin? Oh. cuma dua tahun. Dia nggak sanggup mengenalkan saya dengan keluarganya setelah semua yang udah kita lakukan. Pengecut. Saya sudah punya pacar baru sekarang. Sebentar lagi akan meresmikan hubungan ke yang lebih jauh. Dia jauh lebih baik dari pacar saya sebelumnya. Berkat support dari dia juga, saya sudah lama tidak merokok dan tidak menggunakan alkohol sebagai pelarian dari masalah (padahal anaknya mah nggak berhenti, tapi persuasif-nya oke). Pahlawan saya yang sekarang? Oh bukan. Bukan.

Kemarin malam saya berhasil memperjuangkan hak saya.

Sebagai karyawan yang cuma berbekal lulus SMA dan kuliah 1 tahun. Saya sangat minder. Banyak kolega kantor yang support untuk saya naik pangkat, naik gaji, atau cari kantor yang lebih baik. Tapi saya takut. Apalah saya? Bisa dapet gaji diatas UMR aja udah bahagia.

Tahun lalu, saya berhasil masuk perusahaan yang saya idam-idamkan. Dengan gaji dua kali income sekarang. Terlihat menjanjikan. 3 bulan masuk, saya sudah berhasil naik pangkat. Oke. Mungkin untuk sebagian orang, pangkat itu nggak penting. Tapi buat saya perlu. Apalagi dengan latar belakang pendidikan saya yang kurang, saya merasa percaya diri dengan adanya status ini. Terdengar sangat indah. Apakah ini happy ending? Belum.

Setelah berbulan-bulan lembur di kantor, dengan apresiasi yang sangat kurang. Di perparah dengan kehadiran atasan yang bukan orang Indonesia dan staff yang sangat minim.

Kemarin malam saya berhasil memperjuangkan hak saya. Saya bertengkar hebat dengan si pak boss. Drama. Sampai berderai air mata. Menit itu saya takut dipecat. Dua jam setelahnya saya baru bisa tidur dengan tenang.

Kenapa?

Karena saya tahu saya memperjuangkan hak saya dan teman-teman saya. Mereka nggak ada yang nyalahin saya atas perseteruan tadi. Mereka semua bangga sama saya. Karena saya bisa ngomong sm boss, apa yang selama ini jadi uneg-uneg tim. Yang selama ini cuma jadi bahan gosip di belakang saja, tanpa ada solusi.

Sejam berlalu sejak perseteruan itu. 
Boss saya kirim chat. Dia bilang terimakasih sudah mengucapkan uneg-uneg. Dia juga minta maaf kalau saya merasa kurang di apresiasi. Sebagai 'hadiah’nya. Saya dikasih cuti satu hari. Saya nggak bisa lebih bersyukur dari ini. Karena sebelumnya, saya takut sekali dipecat. Alasan saya gemetar sekujur badan sampai dua jam setelah pertengkaran hebat itu.

Pahlawan saya sekarang?

Diri saya sendiri.

Saya bangga atas semua yang terjadi dalam hidup saya. 
Dari yang terburuk sampai yang terbaik.

Dari teman-teman yang menyakitkan, (mantan) pacar yang cuma anggep saya ban serep, pekerjaan yang super melelahkan, iri akan nasib keluarga lain, diusir dari rumah sendiri oleh istri kedua Bapak persis sebelum ujian akhir SMA, kepergian Bapak untuk selamanya, nggak bisa lanjut kuliah di saat lagi seneng-senengnya sama kuliah. Bahagianya dapet gaji pertama. Bahagianya pertama kali traktir Ibu dan adik-adik. Bangganya bisa bayar biaya rumah sakit Ibu di saat di butuhkan. Bahagianya lihat senyum adik-adikku setiap hari. 
Dan banyak lagi. Semuanya. 
Tidak ada yang saya sesali. 
Semuanya membentuk karakter saya yang sekarang.

Saya sayang sekali sama Ibu saya yang begitu kuat dan tabah dalam merawat anak-anaknya. Saya nggak akan bisa mengalahkan talenta Ibu yang satu itu. Pacar saya sekarang, yang soon-to-be-husband. Kegigihannya, tekun, agresif, dan asertif nya banyak menginspirasi saya. Walaupun terkadang sifat kerasnya bikin saya frustasi, saya sangat bersyukur ketemu dia. Teman-teman saya yang sangat inspiring dengan kisah hidup mereka. Ketabahan dan kegigihan mereka juga membantu saya bisa menjadi seperti ini. Dari suicidal-bitch jadi dedicated-team-player yang dibanggakan teman-temannya.

Di umur saya yang hampir 30 ini, saya nonton film superhero dan tertawa. Saya tidak ingin menjadi seperti mereka.

Saya akan menjadi pahlawan dengan cara saya sendiri.

Seperti Ibu, pacar saya, dan teman-teman saya yang selalu menjadi pahlawan buat saya.