kamu
dan bahagiamu yang selalu terpancar
dan senyum di paras yang tak pernah pudar
yang dulu jingga
kini gulita
kini hampir temaram
menghilang bak tenggelam
atau sudah ditelan karam
hingga terangmu padam
sayang,
mungkin dunia ini ini terlalu fana
dipenuhi serapah
dan keluh kesah
sayang,
mungkin kamu butuh ruang lebih besar
untuk menyusun gelisah
tidak apa, sayang
kamu dan sendirimu
sudah terlalu nyaman berkawan
kamu dan penatmu
sudah akrab dengan nikotin
walau paru parumu benci
asal kepalamu ringan
bakar lagi.
tidak apa, sayang
jika hilang
adalah yang kamu damba sekarang
hilang lah
sampai nanti saat
orang pikir kamu mati
“hanya lari”
aku berkelik
tidak apa, sayang
larilah
jika tidak mau di temani
aku akan menanti
hingga
termakan detik
terbakar menit
menjadi abu
disapu semilir
tidak apa, sayang
mungkin badai masih belum mau berhenti
mungkin memang hidup pahit begini.
