Ahok dan Meng-qi (孟琪) di Singhosari

Jagat kebhinneka-an di Republik ini sedang dalam pertaruhan besar dan rumit.Apa yang selama ini menjadi suatu faham kepatutan dan azaz umum kehidupan beragama di masyarakat. Soal norma kepatuhan terhadap Kitab Suci mendadak menjadi doyong dan rapuh. Akibat suatu ujaran tidak pada tempatnya, yang-kalau ustadz saya bilang-memang disengaja oleh seorang WNI keturunan.Bernama Basuki Tjahaya Purnama.Atau biasa dipanggil Ahok. Yang di kemudian hari, 4 huruf ini kerap menghiasi headline berbagai media massa milik Republik Indonesia.

Kejadian di pulau seribu,27 september 2016 yang lalu,soal Ayat suci QS Al Maidah 51.Merupakan suatu tindakan yang diduga disengaja oleh petahana Gubernur DKI limpahan ini.Karena kalau difikir secara nalar logika umum. Mana ada seorang yang beragama Nasrani dengan lancang menilai,menyatakan di hadapan calon pemilihnya yang mayoritas muslim,bahwa ayat suci tersebut sebagai alat untuk berbohong. Apapun alasannya tetap tidak dibenarkan. Karena jika dibalik, andai ada Walikota muslim, katakanlah mengenakan hijab lantas berucap bahwa kitab injil adalah alat untuk berdusta. Juga akan menimbulkan kekacauan toleransi antar umat.

Walaupun memang masih dapat menimbulkan berbagai pro dan kontra. Akan tetapi formatnya tetaplah sama. Tidak pantas seorang yang beragama lain,menilai kitab suci agama lainnya.Hal seperti ini sebenarnya berkaitan satu sama lain.Coba lihat saja dari riuhnya suasana di temlen media sosial Facebook,twitter,Instagram,grup-grup pertemanan whats app.Kebanyakan suara penolakan atau dukungan didominasi oleh dua kubu.Baik yang pro dan kontra.

Di masa sekarang,dua kutub pemikiran ini,juga banyak dikuasai oleh buzzer-buzzer bayaran.Yang dibentuk dulu sebagai grup militan masing-masing calon,dalam kancah pertempuran pilpres 2014.Dan bisa dibilang theory joseph goebbels-master propaganda asal jerman-menemui pembenaran.Karena buzzer yang difasilitasi dengan gaji, laptop dan internet unlimited tersebut. Lebih banyak menyajikan fitnah berbentuk hoax terhadap lawan-lawannya.Ketimbang mengedepankan program-program yang akan jadi gacoan dari majikan yang membeli harga diri mereka.

Di fenomena sosial yang sebenarnya, perlawanan masyarakat yang didominasi oleh umat muslim.Dan yang dengan lantang menyuarakan penegakan hukum bagi penista agama. Malah mempunyai cara elegan,indah dan teratur melalui aksi damai.Yang bisa berjilid dari 1,2, dan 3.Juga perlu digaris bawahi,bahwa ummat muslim ini melakukannya dengan cara sholat dan dzikir secara jamaah. Yang dipimpin oleh Ulama,Habib mereka.Jika saja diantara pembaca merupakan salah satu alumni dari gerakan -rohani-sosial-moral tersebut, pasti akan bergetar hatinya,saat mengenang betapa kecilnya kita saat bersama-sama bersimpuh memohon pertolongan pada Allah SWT. Angka-angka 411 dan 212 merupakan deretan angka biasa bagi kalangan pembela penista agama. Namun akan bermakna esoteris bagi para mujahid yang datang pada momen akbar dan jarang terjadi tersebut.

Kalau difikir,apakah hati dan telinga penguasa sudah sedemikian akut tertutupi debu kekuasaan?Atau jangan-jangan sudah dikunci mati oleh Allah SWT.Naudzubillah.Karena apapun jabatan mereka,baik Presiden,Wapres, Menteri,Panglima atau Kapolri sekalipun semuanya berdasarkan asumsi umum adalah beragama islam.Hal apa yang menyebabkan mereka terus berada di dalam tarian kemunafikan yang gendangnya ditabuh oleh kaum kiri/ komunis,oportunis dan borjuis palsu.

Golongan yang dapat ditafsirkan sebagai kaum yang di-Firmankan Allah SWT dalam QS 5:52 ini semakin berani dan terang-terangan menghina,mencibir sampai memfitnah gerakan aksi damai. Baik 411 dan 212.Sebab apa? Ya itu tadi,harga diri mereka telah sangat murah ditukar dengan lembaran rupiah. Atau mungkin mereka mempunyai sebagian 'harapan jahat' soal harus berlangsungnya masa jabatan petahana. Seperti reklamasi misalnya.Kan sudah investasi ratusan trilyun,awas saja kalau sampai batal.Demikian hati yang jahat berujar pada jiwa yang gelap.Titipan proyek saya di APBD bagaimana?Masa gagal?Terus saja iblis tamak harta membisikan pengaruhnya di jejeran anak manusia yang menyembah lezatnya dunia.Jadi kalau mereka all out membela petahana,contoh-contoh diatas adalah suatu nukilan dari gunung es keadaan yang sebenarnya.

Memang kaum QS 5:52 ini belakangan tampak terlihat panik ketika fragmen hukum yang menyeret junjungan mereka masuk dalam episode TERDAKWA. Artinya adalah,sang penista agama harus duduk dikursi pesakitan.Dan itu tentunya akan membuat gelegak api di kaum kurang akal tersebut. Mereka kini sudah gunakan segala cara dan cenderung akhir-akhir ini berbentuk fanatik buta. Kubu mereka biasanya mengaitkan peristiwa penistaan agama ini dengan adanya agenda politik jelang pilkada di bulan februari 2017 depan.Sementara disisi sebaliknya,kubu yang kontra-sekaligus sudah menyematkan justifikasi- jelas mempersepsikan bahwa Ahok telah mengunci dirinya di pasal 156 huruf KUHP.

Nah pembaca sekalian,untuk memperjelas situasi keruh yang telah melahirkan gelombang demonstrasi massal di berbagai belahan Indonesia ini.Ada baiknya kita sejenak meninjau sejarah atau latar belakang yang mungkin bisa menyumbang sedikit pemikiran.Yang tentunya terlepas dari sentimen etnis,kebencian terhadap golongan tertentu.Semata-mata hanya sebuah tinjauan multi diskusi yang seharusnya bisa membuka cakrawala berfikir bagi kita semua.

Jauh sebelum Republik ini lahir,nenek moyang Ahok sendiri telah memberanikan diri untuk ekspansi pada masa itu demi perluasan wilayah.Mereka Bangsa Tiongkok telah berusaha untuk menancapkan hegemoni di tanah jawa melalui invasi Kekaisaran Tiongkok-Mongol di bawah Dinasti Yuan ke tanah Jawadwipa.Atau Indonesia,pada masa sekarang.Pada tahun 1293, Kaisar Kubilai Khan, Khan Agung dari Kekaisaran Mongol dan sekaligus sebagai pendiri Dinasti Yuan, mengirim invasi penaklukan besar ke pulau Jawa dengan 20,000 sampai 30,000 tentara. Ini merupakan ekspedisi untuk menghukum Raja Kertanegara dari Kerajaan Singhosari, yang menolak untuk menjawab surat penaklukan dan membayar upeti dan bahkan melukai utusan Mongol.

Adalah Men Shi atau Meng-qi (孟琪), salah satu utusannya yang dikirim ke Jawadwipa, tidak diterima dengan baik di sana. Penguasa Kerajaan Singhosari, Kertanagara, tidak bersedia tunduk kepada Mongol. Kertanegara lalu mengecap wajah sang utusan dengan besi panas seperti yang biasa dilakukan terhadap pencuri, memotong telinganya, dan mengusirnya secara kasar.Serta hina dina.

Lalu,demi mendengar kabar tersebut, maka Kubilai Khan membuat perhitungan dengan Kerajaan Singoshari. Berdasarkan naskah Yuan shi, yang berisi sejarah Dinasti Yuan, 20,000-30,000 prajurit dikumpulkan dari Fujian, Jiangxi dan Huguang di Cina selatan, bersama dengan 1,000 kapal serta bekal untuk satu tahun.Pemimpinnya adalah Shi-bi (orang Mongol), Ike Mese (orang Uyghur), dan Gaoxing (orang Cina). Untuk dikirimkan ke selatan,yakni Singoshari di tanah Jawadwipa.Pasukan Yuan berangkat dari Quanzhou bagian selatan,lalu menyusuri pesisir Dai Viet dan Champa untuk menuju sasaran utama mereka. Negara-negara kecil di Malaya dan Sumatra tunduk dan mengirim utusan kepada mereka, dan komandan Yuan meninggalkan beberapa darughachi di sana. Diketahui bahwa pasukan Yuan sempat berhenti di Ko-lan (Biliton, sekarang Pulau Belitung) pada bulan Januari 1293. Setelah itu mereka berlayar menyusuri pantai utara jawa,sampai akhirnya mereka sampai di Pantai Tuban.

Tapi apa yang didapat ketiga utusan tersebut para pembaca?Rupanya saat mereka mempersiapkan pasukan yang jumlahnya puluhan ribu tersebut, konstelasi politik di Jawadwipa telah berubah sama sekali.Kertanegara telah mangkat karena dibunuh oleh Jayakatwang.Yang memberontak terhadap kerajaan Singhosari. Jayakatwang sendiri merupakan seorang Adipati di Kediri, negara federal Singhosari,yang akhirnya memberontak dan berhasil membunuh Raja Kertanagara.

Sementara itu,justru menantu Kertanegara, Raden Wijaya mendapatkan pengampunan dari Jayakatwang yang memberontak dan membunuh Kertanegara.Dan bersiasat dengan jitu akan menggunakan 'jasa pasukan' yang sebenarnya datang untuk ekspansi nanti.Disinilah epik kepahlawanan Raja Besar Nusantara,Raden Wijaya dimulai.

Jayakatwang yang mendapatkan berkah pasukan sisa kerajaan Singhosari, nampak begitu pede dalam menghadapi perlawanan yang dilancarkan oleh Raden Wijaya.Tetapi Jayakatwang juga tidak menyangka bahwa Raden Wijaya ada 'sekutu' mendadak yang mempunyai musuh bersama,yakni Singhosari.Yang harus dihancurkan,harus diberi pelajaran sesuai titah dari Kubilai Khan.Demi melihat derasnya pasukan yang bagaikan air bah tersebut,maka secara jantan dan teratur Jayakatwang mundur teratur ke arah ibukota Singhosari,Tumapel.

Dengan sisa-sisa pasukan yang hancur dan cerai-berai.Kas kerajaan menipis,maka kehancuran Singhosari hanya menunggu waktu saja.Dan dapat dikatakan sudah kalah total.Akibat serangan dari 3 panglima Tiongkok yang bersekutu dengan Raden Wijaya tadi.Namun tinta sejarah belum kering mencatat.Bahwa setelah Jayakatwang dikalahkan oleh pasukan Mongol, Raden Wijaya kembali ke Majapahit, berpura-pura hendak menyiapkan pembayaran upeti untuk Mongol, dan meninggalkan sekutu Mongolnya berpesta merayakan kemenangan semu mereka. Shi-bi dan Ike Mese mengizinkan Raden Wijaya kembali ke daerahnya untuk menyiapkan upeti serta surat penyerahan diri, namun Gaoxing tidak menyukai hal ini dan dia memperingatkan dua komandan lainnya. Raden Wijaya kemudian memakai siasat dengan meminta sebagian pasukan Yuan untuk datang ke negaranya tanpa membawa senjata.Dan anehnya, seperti sudah tersurat,dikabulkan oleh bala tentara yang sedang sorak-sorai mabuk kemenangan tersebut.

Akhirnya, dua ratus prajurit Yuan yang tak bersenjata dan dipimpin oleh dua orang perwira dikirim ke negara Raden Wijaya,Majapahit. Akan tetapi Raden Wijaya dengan cepat memobilisasi pasukannya dan langsung menyergap rombongan pasukan Yuan. Setelah mendapatkan kemengan kecil tersebut,maka Raden Wijaya menggerakkan pasukannya menuju kamp utama pasukan Yuan dan melancarkan serangan tiba-tiba. Dia berhasil membunuh banyak prajurit Yuan sedangkan sisanya berlari kembali ke kapal mereka. Pasukan Yuan mundur secara kacau dan berantakan,ditambah lagi angin muson yang dapat membawa mereka pulang akan segera berakhir, sehingga mereka terancam terjebak di pulau Jawa untuk enam bulan berikutnya. Akibat dari serangan itu, pasukan Yuan kehilangan 3.000 prajurit terbaiknya.

Setelah kemenangan atas pasukan asing tersebut,maka Raden Wijaya kemudian membuka hutan di daerah Tarik dan mendirikan sebuah desa di sana. Desa itu diberi nama Majapahit, yang diambil dari nama buah maja di sana yang memiliki rasa yang pahit, sehingga jadilah namanya Majapahit (maja+pahit) Dan inilah cikal bakal kerajaan besar kedua setelah Singoshari di Nusantara,bahkan di Asia Tenggara.

Kisah perang tersebut diceritakan secara singkat dalam Yuan-shi:
“…Pasukan dari Daha datang menyerang Wijaya pada hari ketujuh bulan itu, Ike Mese dan Gaoxing datang pada hari kedelapan, beberapa prajurit Daha dikalahkan, sisanya kabur ke pegunungan. Pada hari kesembilan belas, pasukan Mongol bersama sekutu mereka tiba di Daha, bertempur melawan lebih dari seratus ribu prajurit, menyerang tiga kali, membunuh 2.000 orang sambil memaksa ribuan lainnya mundur ke sungai lalu meneggelamkan mereka. Jayakatwang mundur kembali ke istananya … ”
— Yuan-shi (Buku 210)

Kegagalan ini sekaligus merupakan ekspedisi militer terakhir Kubilai Khan. Sebaliknya, Majapahit kemudian menjadi negara paling kuat pada masanya di Nusantara.

Dari deretan sejarah yang memang tertulis dalam naskah-naskah china kuno seperti Yuan-shi tersebut. Dengan gamblang dijelaskan bahwa berkat kecerdikan dari Raden Wijaya.Maka Tanah Jawadwipa tetap mendapatkan Marwah kehormatan sebagai kerajaan besar yang patut diperhitungkan di sejarah dunia.

Dan jika kita kembali pada bahasan awal soal fenomena Ahok dan beraninya kalangan pembela penista tersebut,untuk unjuk gigi dan taring.Maka diharapkan pada bangsa ini dan terutama untuk saya sendiri.Agar kita menghadapi agitasi murahan mereka dengan cara yang telah diajarkan oleh Raden Wijaya,nenek moyang kita sendiri.Pribumi berotak cerdas,berjiwa pemberani.Janganlah kita sebelum bertempur sudah takluk, janganlah cengeng.Dan jangan pula mudah putus asa ketika melihat banyaknya jumlah mereka.Bayangkan ratusan tahun yang lalu, mereka datang dengan puluhan ribu pasukan bersenjata lengkap.Dengan puluhan kapal perang yang siap meluluhlantakan negeri Jawadwipa.Tetapi hantaman pertama invasi mereka, justru datang dari ketegasan Kertanegara dalam menghadapi 'utusan' Tiongkok tersebut.Juga pada akhirnya,dengan banyaknya pasukan,malah dapat digunakan oleh Raden Wijaya untuk menghancurkan musuh negara Majapahit muda, yang jelas-jelas menantang. Yakni,Jayakatawang.

Lalu patut diingat, soal Men Shi atau Meng-qi (孟琪),yang sudah berani menantang hegemoni Singhosari,dengan meminta upeti,menghina kedaulatan suatu negeri.Akhirnya, diadili dengan tegas,dijatuhi hukuman layaknya pemberontak dan dihinakan di depan kawula Singoshari.Buat apa? Agar menjadi contoh bagi golongan yang mengikutinya,agar menjadi pelajaran bagi rakyat jelata.Bahwa yang namanya hukum.Apapun resikonya,haruslah tegak.Agar menjadi contoh.Bahwa menghina kedaulatan suatu negeri akan berakibat fatal.

Mungkin dapat disejajarkan disini,dengan mengambil tema yang sama.Apapun bentuk persekongkolan dengan asing, berkhianat atas nama jabatan untuk kepentingan golongan tertentu, ialah sama persis dengan prilaku Men Shi (孟琪) modern.Kalau dahulu Men Shi (孟琪) memang bersujud atas perintah Kubilai Khan,maka yang sekarang bisa jadi bersimpuh di kaki taipan. Mengapa taipan?lihatlah kebijakan Ahok sebagai petahana,lebih membela rakyat atau taipan?Salahkan jika dibilang Ahok sudah berbentuk utusan taipan? Sebagai pengejawantahan Men Shi (孟琪) modern?Lihatlah perilaku Ahok di persoalan reklamasi.Akan jelas tergambar sifat tamak dari dirinya tersebut. Dengan dalih rasional yang dicari-cari,pada ujungnya adalah membela golongan taipan menjual pantai utara jawa. Sebagai bentuk pengkhianatan kasat mata.Kemudian diperparah lagi dengan menghina kitab suci agama umat mayoritas,yang dapat diasumsikan sebagai pemberontakan terhadap norma-norma hukum,sosial di NKRI.

Dan pada akhirnya,sejarah telah mencatat, yang namanya para pengkhianat akan terhina seumur hidupnya.Bahkan sampai keturunannya kelak.Adakah penguasa negeri ini dapat belajar dari sejarah Singhosari dan Raden Wijaya?

Hanya waktu yang dapat menjawabnya.

L.Hakim

*sumber sejarah wikipedia

Like what you read? Give L.Hākim a round of applause.

From a quick cheer to a standing ovation, clap to show how much you enjoyed this story.