Si Mata Satu, Kini Memburu Ke Dalam Kamar Anak Kita

- - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - - -

Sebut saja Bunga, Ia berusia baru 14 tahun dan Ia juga baru menyadari bahwa dirinya kini seorang wanita dewasa yang memiliki jasad merekah semi sempurna. Namun bagi lelaki teman sebayanya, Bunga dapat dijadikan ikon, dari generasi millenial.

Perlu diketahui, dalam beberapa aplikasi grup chatt kekinian, yang berisikan rekan sekolahnya, akun Bunga memiliki rate tertinggi untuk jumlah follower lawan jenis. Cukup kontras dengan keseharian pribadi Bunga, yang lebih banyak mengambil sikap sebagai pendiam. Beda saat On Air diatas jam 12 malam. Manja, menggoda dan sedikit seronok.

Kemudian, yang patut menjadi perhatian adalah, fenomena interaksi real time dengan fitur video chatt ini, tahun sekarang saja, sudah mampu menjebol pagar rumah kita, menyusup terus terang melalui gawai cerdas ke kamar anak kita. Bahkan sampai menemani anak kita tidur. Dan sangat sukar untuk dihadang, karena mereka masuk melalui gelombang 4G LTE. Sementara disaat bersamaan, banyak orangtua masa kini yang justru masih berkutat di frekwensi 3G.

Mau contohnya, gak perlu jauh-jauh, cukup perhatikan, apa saja akun medsos yang digunakan oleh pihak ayah atau ibu.Masih setia dengan FB, Twitter, bahkan blogspot. Paling instant message, seperti whatsapp. Namun sebaliknya, anak-anak kita sudah melangkah pesat dengan mengadopsi semua jenis layanan yang berbasiskan fitur streamin tadi.

Dan setelah penulis beberapa kali interaksi dengan menyamar sebagai salah satu fans-nya, Bunga akhirnya berterus terang membeberkan alasan, kenapa dirinya bergitu berani mengumbar aurat di layanan live streamin.

Dikatakan olehnya, Ia sebenarnya menyadari bahwa hal demikian adalah hal yang keliru, dosa serta bertendensi mempermalukan orangtuanya, jika mereka sampai mengetahui sisi lain narsisme parah yang diderita oleh banyak anak muda masa kini. Namun Ia mengaku tak berdaya, karena sudah barang tentu ini memang era mereka, saat mereka aktualisasikan diri. Dan seharusnya memang ada pendamping yang memahami kegelisahan jiwa muda mereka.

Karena biar bagaimanapun mereka coba membentengi diri dengan nasehat dari kita, namun dipastikan tidak akan dapat bertahan, dari pujian dan jilatan mata lawan jenis yang tiap saat mengintai melalui layanan chat live streamin tadi.

Selain memang sudah terbentuk menjadi suatu budaya, fenomena chatting dengan saling menampilkan video diri ini, diyakini merupakan bentuk paling halus, dari masuknya si mata satu (camera webcam) kedalam kamar pribadi anak-anak kita. Yang berpotensi melumerkan akidah yang selama ini sudah susah payah ditanam oleh pihak orangtua.

Hal ini sebenarnya juga menceritakan, tentang makin terkikisnya peran pengawasan orangtua dalam masa tumbuh kembang anak. Yang jika para orangtua, meleng sedikit saja, peran itu akan diambil alih oleh gawai cerdas. Dan perlu disadari juga oleh pembaca, fenomena chat live real time ini, seperti dua sisi mata uang, yang satu merupakan suatu berkah teknologi serta bencana akidah dan moral di sisi yang penting lainnya.

Salah satu Aplikasi live stream yang dapat dijadikan warning alert, misalnya no** liv*. Aplikasi dengan kelebihan interaksi real time, dan fitur menarik seperti nge-vlog, broadcast private show dan dilalahnya, sudah diunduh oleh 5juta pengguna.(data berdasarkan google play).

-Antisipasi ikhtilat digital

Selanjutnya, tentu pembaca bertanya, apa sih pentingnya, dengan kita ikut serta jadi user di beberapa aplikasi kekinian milik anak millenial tersebut?

Jawabnya adalah, dengan adanya amanah berupa anak dan istri yang resmi diemban oleh orangtua, terutama seorang bapak. Maka sudah selayaknya, jika peran tersebut, sesuai dengan tema godaan masa kini, yakni melalui saluran internet, dapat juga diakomodir antisipasinya. Salah satu caranya, ya dengan jadi pengguna dari aplikasi itu. Walau di belakangan hari, terlibatnya kita disitu hanya sebagai fungsi pengawasan dan penjagaan dari apa yang sudah dititipkan Allah SWT pada kita, yang mana fungsi penjagaan amanah itu, sesuai dengan Firman Allah SWT dalam QS At-Tahrîm/66:6 : 
" Hai orang-orang yang beriman, peliharalah dirimu dan keluargamu dari api neraka yang bahan bakarnya adalah manusia dan batu; penjaganya malaikat-malaikat yang kasar, keras, dan tidak mendurhakai Allâh terhadap apa yang diperintahkan-Nya kepada mereka dan selalu mengerjakan apa yang diperintahkan."

Dari pemahaman yang sederhana dan gamblang dari ayat tersebut, dapat dipastikan Allah SWT sudah memperingatkan para orangtua agar menjaga keluarganya dari gempuran tentara Iblis dan Dajjal laknatullah. Yang disinyalir sekarang mereka sudah merambah masuk melalui aplikasi chatt live real time tadi. Sebagai pancingan agar mereka menjadi penghuni neraka jahanam, naudzubillah.

Rasulullah Saw, juga bersabda : " Jika waktu pagi datang, iblis menyebarkan para tentaranya ke muka bumi lalu berkata : "Siapa saja diantara kalian yang menyesatkan seorang muslim, aku akan kenakan mahkota di kepalanya," Salah satu tentaranya menghadap dan berkata, "Aku terus menggoda si fulan hingga mau menceraikan istrinya." Iblis berkata, "Ah, bisa jadi ia akan menikah lagi." Tentara yang lain menghadap dan berkata, "Aku terus menggoda si fulan hingga ia mau berzina." Iblis berkata "Ya, kamulah yang berhak mendapat mahkota!". (H.R. Ahmad dan Ibnu Hibban)

Dalam beberapa kasus yang ditemukan, banyaknya korban tindak pidana seksual, yang menimpa terutama bagi anak putri, disebabkan oleh makin kendornya peran serta orangtua menanamkan unsur agama, sebagai benteng yang dapat menghalau desiran godaan terhalus milik Al A'war. Atau anak iblis laknatullah penyeru zina.

Sebab lainnya adalah, diantara strategi utama iblis mengambil anak cucu Adam sebagai temannya, adalah menyebarluaskan perbuatan zina di muka bumi. Untuk menyukseskan tujuannya, ia melakukan sayembara bagi anak cucunya bahwa barangsiapa mampu menjerumuskan manusia dalam zina, maka sebuah mahkota akan dipakaikan di kepalanya sebagai tanda jasa. Imajinasikan pikiran anda, pembaca yang budiman, bahwa Al- A'war tadi juga memiliki akun medsos dengan layanan live streamin. Bagaimana jadinya?

Apakah bisa kita halau muslihat mereka, jika kita hanya menyeru atau bahkan menghardik dari ruangan yang berbeda? Maksudnya adalah, ketika anak kita memiliki akun di medsos berbasis layanan stream, sementara ayah dan ibunya, justru membuat status menasehati anak di akun medsos konvensional, seperti FB dan Twitter. Bisakah itu direply mereka? Apakah mereka akan serta merta meresponnya? Tentu bagai jauh panggang dari api, jawabnya.

Beberapa aplikasi layanan chatt basis video streamin ditenggarai juga sebagai ajang pembuka pintu maksiat. Pada awalnya mungkin zina kering, melalui zina mata. Kemudian, menganiaya diri sendiri, masturbasi misalnya. Lantas meningkat hingga step terakhir, yakni kopi darat. Atau melakukan zina terang-terangan.

Artikel ini ditulis bertujuan untuk sekedar mengingatkan, tanpa ada maksud menggurui bagi para pembaca sekalian. Dan kalimat diatas soal adanya beberapa deviasi seksual yang diderita anak-anak abege sekarang. Dirujuk berdasarkan fakta, saat penulis mencoba memasuki dunia anak millenial ini.

Untuk yang terakhir sebagai penutup, penulis juga coba memberikan beberapa tips yang mungkin berguna bagi para pembaca sekalian.

Yang pertama, tentunya adalah frekwensi Interaksi dengan orangtua yang harus semakin sering lagi dilakukan secara bersama. Misalkan, mengerjakan tugas sekolah dirumah bareng bersama kelompok temannya. Dengan kita bertindak sebagai Koki, waitress misalnya. Yang akan menyediakan apa saja kebutuhan mereka saat mereka sedang menyelesaikan tugas kelompok. Maka interaksi mereka di dunia maya setidaknya sedikit tereliminasi dan terkendali.

Kemudian yang kedua adalah, setiap akun medsos keluarga (ayah ibu anak) diharuskan untuk terkoneksi, baik melalui gmail, gplus, dan semua aplikasi yang berada di ponsel pintar masing-masing .

Di point ketiga, gunakan aplikasi medsos sebagai jalan dakwah dan memperkuat silaturahim antar keluarga.Hal ini dapat diwujudkan dengan mengadakan diskusi online, misal : membuat grup2 kajian islam dengan menunjuk salah satu ustadz sebagai admin grup, dan berfungsi sebagai pengajian keluarga online, manakala pengajian manual rutin, terkendala cuaca dan jarak, misalnya.

Dan terakhir, batasi range usia anak untuk mulai diperkenalkan dunia medsos. Jika anak anda ada di level SD, anda bisa browse lah, apa saja aplikasi yang safety untuk anak seusia dia. Meningkat ke SMP dan seterusnya. Menjadi orangtua sekarang harus lebih banyak upgrade diri, dan jauhilah sifat men-downgrade diri. Kalau Ortunya gaptek, sementara dunia sosial anak sudah berpindah ke dunia maya, apa yang mau disampaikan pada mereka? Mereka lebih banyak menghabiskan waktunya di platform medsos yang berserakan sekarang ini.

Akhirul kata, melihat pesatnya teknologi menjangkau setiap sisi kehidupan manusia, dan dikhawatirkan dapat berimbas pada akhlak dan akidah anak-anak kita, marilah sama-sama kita panjatkan doa bagi keselamatan penerus kita.

“ROBBANA HAB LANA MIN AZWAJINA WA DZURRIYATINA QURROTA A’YUN, WAJ’ALNA LILMUTTAQINA IMAMAA.” (Wahai Robb kami, karuniakanlah pada kami dan keturunan kami serta istri-istri kami penyejuk mata kami. Jadikanlah pula kami sebagai imam bagi orang-orang yang bertakwa) QS. Al Furqon:74.

---L.Hakim
Journalist deliknews.com

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.