Durja dan rupa-rupanya

*

Pada sajak ini aku putuskan,
untuk menulis perihal durja.
pada awal oktober yang lembab
bagi masyarakat yang sembab.

Aku membayangkan pohon-pohon, tunasnya, dan lampu jalan rumahku berkata:
durja, ialah perihal yang mudah dimengerti.
seperti rupa langit-langit kamar yang murung, 
dedaunan yang hanyut di bibir kolam renang, 
seperti rupa kain gorden, jendela, dan pintu rumah ku yang dibiarkan tertutup,
dan juga jenis-jenis rupa muram lainnya.
juga televisi rusak pemerintah, peraturan tak sehat, kemiskinan moral kultural, dan blusukan yang usang.

Kemudian kemuraman dan rupa-rupa nya menjelma teriakan saku ibu atau ayahmu, 
menjelma ijazah menganggur dimana-mana,
menjadi raut pagi yang lesu atau sore yang keluh, pada jalan raya yang penuh.
Intelektual apa? Perubahan apa?
Orang muda yang moralis, sedang apa, kemana saja?
Terpelajar apa? Diriku, kenapa?
Jika ada yang bertanya kenapa, tak perlu lah menjawabnya,
sebab Tuhan tidak perlu itu, tapi masyarakat selalu perlu, selalu.

Pada sajak ini aku sudah putuskan:
Aku bermuram durja.
Pada masyarakat yang tinggi angan-angan,
bagi idealismeku yang hilang.

( Puisi Durja dan Rupa-rupanya, Road To UI Art War 2016 )

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.