Menyelam Ke Hitam Malam

*

Terbakar dan tertancap kobar panah nyala api. Begitulah, dan terkadang kau harus ingat bahwa kau tak harus selalu mengapresiasi segala kesepian yang merasuki dirimu. Tetapi, kenyataan-kenyataan, termasuk kesepian, ibarat duduk menunggu dan menunggui. Berhentilah sejenak, menyelamlah kau ke sudut malam yang hitam dan basah. Dan temukan ingatan, dan juga kenangan selalu saja muncul dari perasaanmu yang gerah. Yang di jantung hati pernah merona merah dan berdarah, tertusuk mawar berduri, yang diwaktu lalu pernah singgah.
.
Terbakar hangus oleh kobar panas nyala api. Begitulah, memutuskan mencintaimu berarti sebatang pohon menunggu di hadapan gedung meninggi. Pengharapan-pengharapan akan tetap tumbuh seperti tunas dan cabang selepas musim gugur: Terus bertumbuh tanpa harus peduli dibakar hangus cuaca dan rasa rela. Asap bakarnya lebih besar kini, ketimbang asap dari sebatang rokok yang aku bakar separuh saja, waktu itu. Dan kau larang karena kesehatan dan paru-paru tidak ada duanya, katamu. Dan mampu mematikan aku.
.
Namun kelak kau akan tahu. Aku sudah mati sejak dahulu, tertusuk tertembus dan dibunuh berkali-kali, karena merindu.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ais I. Andiko’s story.