04:00


Jam empat pagi, selepas malam yang sisanya segera ditelan angin subuh. Waktu setiap pedagang menata hari di pasar. Waktu saat seharusnya, siapapun yang tengah memunguti patah hati, istirahat.

Bukankah begitu? Semakin malam, semakin jujur. Di pikirnya, karena senyap tidak ada lagi yang mendengar.

Semua lupa, senyap adalah sebaik-baiknya waktu utuk mendengar. Sejelas-jelasnya untuk melihat. Sejujur-jujurnya masa untuk bertanya dan menjawab.

Sebelum hari bangun dan kembali pada pelarian masing-masing


Orang-orang mulai menutup sisa air mata, memasang air muka terbaik. Karena siapa sudi dipanggil buruk? Menyembunyikan resah yang terpampang di pelupuk.

Ada pula yang baru merangkak ke balik selimut, lari dari dunia sekali lagi.

Kata orang, pagi itu indah, makanya mereka mium kopi untuk menyambut setelah terbit pagi. Atau menyesapnya di kala malam, saat menanti.

Sekarang tidak ada yang benar-benar bisa bicara soal pulang. Yang ada hanya mereka yang menarik tubuh kemana-mana, mencari bahasa baru yang menunjuk jalan ke rumah.

Malam-malam berlalu, dengan hari yang ingin kamu hapus berdiri di depan pintu. Rupa-rupa asing di sepanjang jalan, sebagian adalah milik kemarin, sisanya bukan milik apa-apa atau siapa-siapa.

Bahasa-bahasa kembali diajakan oleh mereka yang menunjukkan cara tersenyum pada diri sendiri, lewat kaca sebelum kamu belah.

Di luar, setiap orang boleh jadi punya rumah tapi tidak semua merasakan pulang. Begitu pula sebaliknya, mereka bisa saja tak mengantongi peta jalan ke rumah tapi selalu merasakan pulang.

Akhirnya pagi menjelang dan lagi-lagi do’a diucapkan sebagai cinta diam-diam.