Seberapa ?


Aku dan bapak mengumpulkan peta.

Kami memberi titik-titik pada tiap tempat yang sudah kami jajaki. Mataku menangkap, titik itu tidak pernah lewat dari kampung halaman. Hanya sebatas kota sebelah, rumah tetangga dan taman kota. Sesekali kami ke pantai, melepas perahu-perahu kertas dan menerbangkan layang-layang.

Lalu aku tumbuh, bapak menua. Tidak lagi bisa membaca peta dan memberi titik. Jadilah aku yang membaca dan membubuhkan tanda-tanda di permukaannya.

Kini peta melebar, tidak lagi nampak rumah tetangga dan taman kota. Pantai yang kutahu hanya sebatas perahu terjauh dari pelupuk mata, berubah jadi samudera.

Kamu ada di antara titik-titik itu. Kulukis, kuwarna dengan baik. Setiap cerita tersambung dari kota menuju kota lain.

Kemudian enyah.

Seberapa jauh jarak untuk tidak merindu?

Di balik tumpukan peta, penuh titik-titik tanda sudah pernah kukunjungi, ia tidak ada. Sampai semua tua, pagi lumat jadi abu dan deru kereta lewat jauh dari telinga.

Dimana tempat untuk tidak merindu itu ?

Bawa saja sekalian bersama angin, biar hilang ke semua penjuru. Karena sudah tidak cukup ruas-ruas do’a.

Kapan waktu untuk tidak merindu, seperti dulu ?

Ada jam rusak yang sudah tandas geraknya. Jemarinya menunjuk sisi yang sama berhari-hari.

Harus berlindung dimana untuk tidak merindu?

Do’a pun kutakuti karena bibir ini bergelut merapal namamu disitu. Meminta agar setidaknya baik-baik saja ia. Potongan-potongannya semacam rusuk yang menutupi jantung, melindungi perasaan yang sebenar-benarnya.

Siapa yang bawa rindu ini? Ada di kuasa siapa ? Rasa-rasanya perlu dilunasi.

Tapi sudah bukan hak lagi.

Seberapa jauh jarak untuk tidak merindu? Tidak tahu.

Bapak di tengah usia senja nya, bercerita tentang hujan di rumah tepi pantai. Rintiknya sudah senyap, sudah berlalu. Pelan-pelan pemiliknya berbenah, menambal atap yang bocor darimana bulir air merembes. Membasahi lantai dimana Puan-nya menangis diam-diam.

Puan-nya menarik tubuh jauh-jauh dari pantai. Ia tak mau lihat, debur ombak yang tak menyerah mengecup tepi pantai walau tak dibalasi berkali-kali. Ia sedang tak mau berkaca.

Seberapa jauh jarak untuk tidak merindu? Apa di balik karang yang tak lelah-lelah menanti ombak bergulung silih berganti, sekalipun yang datang tak sama lagi ?

Seberapa jauh? Dimana ? Apa ?

Kau kini hanya mau mencintai hal-hal yang tidak mengingatkan pada hari kemarin. Yang artinya kamu tidak berani mencintai apa-apa, karena matahari pun mengingatkanmu pada kali pertama ia kecup bibirmu.

Semuanya selalu kembali. Dengan mudah. Dengan sederhana. Dengan tidak adil membabi-buta, tanpa permisi.

Tidakkah indah ? Ketika segala hal atau siapa-siapa saja, yang kita cintai, menemukan jalan kembali pada kita