“Lelaki jam empat subuh dan Perempuan yang meledak dalam catatan tiga tahun terakhir”
Jauh di dalam sana, yang mampu kau jarah hanya dengan kemaluanmu
Yang sedang khusyuk
Yang melebur lalu memisahkan diri dari pintu-pintu masuk
Orang-orang menyimpan gelapnya sendiri-sendiri
Kau telah memakai baju, lihatlah dunia tak seperti adanya lagi?
Apa yang tertinggal dan dilupakan
Putih dan hitam bisa saja bertemu di garis waktu
Semesta seharusnya telah takluk
Setelah tubuhku di pahat dengan kecantikanmu, ia menuntut abadi.
Lalu balutlah dengan moral dan kesalehan, di hadapan pohon khuldi, aku disebut manusia?
Sebelum aku meledakan jantungmu dengan sebuah kata
Hidup hanyalah apa yang ada di depan mata mu
Kebisingan di jalan adalah cerita tentang asal dan tujuan
Mati hanyalah gelagat dari berbagai rupa tak fana , adalah puisi yang menguburkan ciuman yang tertunda.
Adalah pengulangan yang tak berkesudahan.
