“Puisi Yang Seharusnya Dikumandangkan Kemarin Subuh”

Untuk perempuan yang mengingatkan saya tentang hal-hal kecil yang jarang diperhatikan.

Malam. Setelah agak malam.

Dinding-dinding runtuh. Sebelum kita berterus terang dengan prasangka yang sedari awal telah disepakati. Jalan-jalan memang tak pernah ambil pusing. Ketika aku keluar dari belenggu tubuhmu. Mereka hanya memuntahkan bau anyir di antara rongga-rongga udara. Lalu mengikis, mengikis perlahan radius yang sebelumnya tak pernah berubah. Antara apa yang masuk mondar-mandir di dalam hidung. Aroma serbuk tembakau atau bau harum tubuhmu. Tidak ada lagi

Lalu hujan memperbesar bayangan seorang perempuan. Kecantikannya mulai menderai. Jatuh diantara puing-puing rayuan. Aku belum bisa mengerti, bagaimana puisi disisipkan ke dalam tubuhmu.

Label yang mengikat kaki para lelaki yang berlari. Entah maju atau mundur, masuk atau keluar, adalah jembatan yang mengantar cerita, ke pangkuanmu aku tak tahu.

Apakah kau,

Tanyamu; di antara lengkingan detik; yang meredam nanyian lelaki tua renta memintal kefanaan sepeninggalan istrinya. Rajutan-rajutan kata yang mengaborsi memori sejarah dari bilik ke bilik. Kau rasakan puisi ini telah menciptakanku berulang-ulang.

Sebelum malam ini usai.

Dinding-dinding runtuh. Setelah bagian paling dingin dari tubuhmu memperbanyak dirinya dengan mesin printer. Berputar kelindan menjarah kesunyian.

Apakah kau,

Tanyaku; sebagaimana lukisan Lisa del Giocondo yang terpanjara dalam museum Louvre, meminjamkan bayangan yang menembus batas-batas identitas. Aku rasakan puisi ini telah menyeret tubuhku kemana-mana, sampai bagian-bagiannya tanggal satu persatu.

Sebelum terlalu malam. Sebelum tubuhku disusun kembali dengan mesin penenun bahasa.

Dinding-dinding runtuh. Kita sudah berterus terang, tapi tetap saja.

Aku belum bisa mengerti, bagaimana puisi disisipkan kedalam tubuhmu..

Kotamobagu, 16 mei 2017.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Ady Ramli Gunawan’s story.