SLASHER FILM

Secara harafiah berarti ‘film penggorok atau penyayat’, slasher film lebih sering diidentifikasi dengan ‘horor dimana ada orang gila yang membunuh membabi-buta’. Berbagai pengamat budaya sepertinya setuju dengan identifikasi ini, karena horor pada dasarnya adalah genre yang tujuannya amat sederhana : membuat penonton merasa takut. Penjabaran yang makin rumit akan membuat dampak yang timbul makin lemah.

Gelar untuk slasher film pertama dalam sejarah dipegang oleh film ‘Psycho’ [1960] garapan Alfred Hitchock. Di film itu Norman Bates [Anthony Perkins] digambarkan berkepribadan ganda dan selalu membunuh wanita yang tiba di motelnya. Dikenal lewat adegan pembunuhan di shower yang tak terlupakan, film ini meletakkan pola dasar slasher film; harus ada orang sakit jiwa yang menjadi pemburu, harus ada korban yang biasanya tampil lebih lemah dan senjata yang dipakai untuk membunuh harus senjata tajam.

Saat ‘Psycho’ menjadi superhit di seluruh dunia, para pembuat film yang paling cepat mengadaptasi pola slasher film ini muncul bukan di Amerika, tapi di Eropa. Sutradara yang paling konsisten mengusung pola ini adalah Dario Argento, yang membuat film ‘The Bird With The Crystal Plumage’ [1969], yang kesuksesannya mencipatakan istilah ‘Giallo’, atau ‘kuning’ dalam bahasa Itali yang mengacu pada cerita-cerita seram.

Masuk ke dekade 70’an, pembuat film Amerika mulai menerapkan pola ini lewat film ‘The Last House On The Left’ [1972] , ‘Black Christmas’ [1974] dan ‘The ‘Texas Chain Saw Massacre’ [1974]. Titik kulminasi kepopuleran slasher film dicapai di tahun 1978 saat ‘Halloween’ dirilis. Pola-pola baru seperti tokoh yang selalu bertopeng, adegan pengejaran yang berkepanjangan , pemunculan nudity, serta korban yang berusia remaja muncul memperkaya vocabulary jenis film ini.

Sukses besar’Halloween’ membuat para produser langsung mengkopi elemen apapun yang ada di film itu untuk dijadikan acuan pembuatan slasher film berikutnya. Mereka menggunakan judul dengan menggunakan nama hari perayaan ; ‘My Bloody Valentine’ [1981] , ‘New Year’s Evil’[1980] , ‘April Fool’s Day’[1986] , ‘Silent Night, Deadly Night’[1984] , ‘Mother’s Day’[1980] dan juga mengajak bintang ‘Halloween’ Jamie Lee Curtis berakting di film macam ‘Prom Night’ [1980] dan ‘Terror Train’ [1979] .

Dari semua pengekor, tercatat hanya film ‘Friday The 13th’ [1980] dan ‘A Nightmare On Elm Street’ [1984]yang berhasil mendapat keuntungan berlipat dan diteruskan menjadi franchise horror baru. Dengan munculnya tokoh Freddy Kruger, tokoh pembunuh di slasher film pun mengalami peningkatan ; mereka tidak lagi manusia yang terganggu akal sehatnya, melainkan mahluk supernatural yang mampu menembus ruang dan waktu. Mahluk-mahluk lain pun segera muncul di layar lebar, mulai dari boneka kesetanan Chucky di ‘Child’s Play’ [1988] sampai para iblis dari dimensi lain di ‘Hellraiser’ [1987]

Memasuki dekade 90’an trend sedikit berubah ke arah post-modernisme. Di film ‘Scream’ [1996] sutradara Wes Craven membuat para tokoh menjadi lebih sadar dan melek pola-pola yang ada di slasher film. Dialog menjadi lebih cerdas dan para pemain pun didapuk dari serial tv seperti Neve Campbell yang saat itu tengah tenar di serial ‘Party Of Five’. Fenomena post-modernisme ini akhirnya menggelincir ke parodi di serial ‘Scary Movie’ [2000] di mana seluruh aturan slasher film muncul untuk diolok-olok.

Saat millenium baru tiba, 9/11 dan penyerangan ke Iraq terjadi. Penonton film tersadar bahwa dunia jauh lebih kelam dari yang mereka bayangkan. Semangat untuk menggali lebih dalam dan lebih ekstrim inilah yang kemudian memicu lahirnya film ‘Hostel’ [2005] yang memberi penekanan pada penyiksaan dan tidak kepalang. Di fim karya Eli Roth ini tidak cukup bagi para korban dibunuh, mereka disiksa terlebih dahulu, ditelanjangi sisi kemanusiaannya dibuat tak lebih dari pada binatang. Walau banyak diprotes, pendekatan Eli Roth menginspirasi para pembuat slasher film untuk lebih berani dan nekat. James Wan membuat ‘SAW ‘[2004] yang merupakan parade penyiksaan. Sutradara Alexander Aja membuat ‘High Tension’ [2005] yang mengimbangi level kesadisannya dengan unsur psikologi tinggi.

Dekade pertama millenium baru sudah hampir selesai. Trend slasher film masih belum ada tanda-tanda surut darah. Yang ada justru ‘pesaing’ baru dengan terbentuknya sub-genre baru torture horror . Lewat serial ‘SAW’ dan film seperti ‘Captivity’ [2007] terjadi sedikit perbedaan di mana para korban tidak akan mati dikejar-kejar, tapi binasa karena disiksa perlahan-lahan. Sub-genre manakah yang akan bertahan ? Tentu jawabannya kembali pada para penonton. (pertama dimuat di FIRST Movie Magazine, Oktober 2009)

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.