Selain karena sifat teater kampus yang saya ikuti biasa bekerja dengan asas kekeluargaan — saling membantu — asas gotong royong,
Spotlight Sebuah Pertunjukan Teater
Sambodo Sondang
43

Gimana ya mas, memang asas kekeluargaan-lah yang membentuk sebuah komunitas menjadi lebih hidup dan cair, mencipta suasana yang asyik untuk berproses bersama. Tetapi kemudian, sifat kekeluargaan ini pula yang mengikis keinginan untuk membentuk sebuah menejemen yang memiliki suasana profesional. Profesional disini maksudku adalah saat masing-masing individu memiliki kesadaran atas jobdesk miliknya, kedisiplinan yang menjadi harga mutlak sebagai bentuk menghargai kerja profesional. Bahkan sikap toleran pun dengan terpaksa harus dikurangi sebagai konsekuensi bahwa profesionalisme harus dijunjung dan menjadi sebuah kesepakatan semua pihak.

Aku merasa, sikap pemakluman terhadap pelanggaran nilai-nilai profesional ini yang akhirnya menjadi apologi sebagai bentuk suasana kekeluargaan yang ada.

Dan saat-saat itu yang kemudian menjadikan mlipir sebagai sebuah pilihan terakhir.

“wah kerjaannya kok gak beres ya, padahal udah ada deadline yang udah disepakati, ah yaudah deh gapapa, mungkin dia lagi punya masalah”

Ketika pemakluman hadir, sebagai sikap toleran sesama. Aku hanya bisa merendam sempak imbe diantara berbagai celoteh yang sliwar sliwer, ditengah ujaran-ujaran makhluk yang nggersulo dan sambat.

Wah ranyambung karo tema besar yang coba digagas si penulis wkwkw