Sebuah Review: Wiro Sableng PKMNG 212, Ekspektasi itu Memang Berbahaya!
PKMNG: Pendekar Kapak Maut Naga Geni, disingkat karena kepanjangan, film ini adalah obat buat kamu yang nonton mile 22 tapi lupa minum antimo, pas nonton mile 22 saya udah sengaja pilih seat atas atas tapi asli masih mabuk(ngga biasanya saya pilih seat atas situ mo nonton bioskop apa nonton tipi gede? oiya saya pilih seat atas karena setelah mendengar beberapa review tentang gambarnya yang kacau :))), ngawur betul itu kamera dan plotnya, sayang sekali padahal bisa bagus, iko uwais kamu bagus mainnya tapi sayang filmnya begituh.. eh kok malah ngomongin mile 22, balik lagi coiii
Angka 212 memiliki makna di dalam kehidupannnn
Dalam diri manusia terdapat dua unsur ingat duniawi dan tuhaaaaannnn
Segala yang ada di dalam duniaaa iniiii
terdiriiiii ataas dua bagiaaannn
Yang berlainan namun merupaakan pasangaaan
Semuanya tak dapat terpisahkaaannn
Lirik itu selalu terngiang-ngiang beberapa tahun silam, nonton di RCTI setiap minggu pagi, cuma buat dengerin lagunya si Wiro Sableng. Ceritanya? dulu saya lebih tertarik dengan balapan yang dijalani Go dan Retsu, lalu duel antara Dragoon vs Driger, dan alat-alat ajaibnya Doraemon, mungkin karena masih SD ya, dan menganggap cerita Wiro Sableng itu untuk orang dewasa yang membosankan.
Kembali lagi ke lagunya, arti dari lirik tersebut tak pernah saya mengerti sampai kemarin, ternyata setelah belasan tahun kemudian, film ini muncul di bioskop, dan maknanya dijelaskan baik sekali dengan metode naratif dan cocok untuk mengedukasi penonton yang belum sadar akan kerennya serial 212 ini!

Dijelaskan dengan sangat keren oleh eyang Sinto Gendeng (Ruth Marini) sewaktu menugaskan Wiro Sableng (Vino G. Bastian) untuk mencari Mahesa Birawa (Yayan Ruhian) yang telah membelot ke kegelapan. Wiro Sableng sendiri memiliki kisah tragis di masa lalu, ia kehilangan orang tuanya saat masih kecil, dibunuh oleh Mahesa Birawa dan akhirnya diselamatkan oleh Sinto Gendeng, di saat Wiro tidak tau kalau Mahesa Birawa adalah pembunuh orang tuanya.
Syahdan, selama perjalanan, Wiro bertemu dengan Anggini (Sherina), Bujang Gila Tapak Sakti (Fariz Alfarazi), dan Putri Rara Murni (Aghniny Haque) serta Pangeran yang sedang menyamar menjadi rakyat biasa. Di sini ada konflik juga di mana kerajaan akan digulingkan dengan bantuan Mahesa Birawa, selebihnya nonton sendiri ya nanti spoilerrrr.
Lalu sekarang mari kita bahas kwaliti filimnya, seperti judul di atas, EKSPEKTASI ITU MEMANG BERBAHAYA, jadi buat kamu yang punya ekspektasi rendah mungkin jangan baca review saya dulu karena boleh jadi harapan kamu akan naik dan nanti pas nonton akan b aja atau malah bilang jelek, tapi… saya rasa ngga akan bilang jelek sih, karena BAGUS BENERAN!
Dan jujur, saya sebelum nonton film ekspektasinya mines hahaha, bahkan beli tiketnya aja beli tiket promo dari tix id buy one get one. Dateng ke bioskop pun rada telat, kelewatan bumper tapi untung masih bisa liat awal-awalnya.
Di scene awal, kok kerasa atmosfirnya mencurigakan, bukan film main-main gitu(walaupun saya kelewatan bumper fox searchlight yang kalo liat pasti bakal lebih wow gitu lagi)
“kok?” pikir saya waktu nonton, takjub
terus disuguhi adegan Maddog berantem lawan Marcell Firasat, sinematografinya kok bagus ya….
“lah kok?”, pikir saya takjub lagi
terus setelah scene awal, tiba-tiba ada kakek-kakek cerita, suaranya dalem pisan, ternyata itu suaranya si kakek segala tahu(kata netisen ada nenek segala tempe), super naratif seolah kita lagi diceritain sama naratornya animal planet atau mungkin Morgan Freeman, terus asli saya ngomong gini
“LAH KOK BAGUS YA?” (nggak teriak juga sih bisik-bisik tapi semangat gitu)

Terus udah deh, selanjutnya disuguhin adegan-adegan lain yang magnifiko, gila nggak nyangka banget bisa se oke ini, terlepas dari beberapa dialog dan efek yang cringe(bahasa kids jaman now banget nggak sih cringe, artinya apa emboh). Beberapa kali saya tepuk tangan bodo amat diliatin orang lain, dan ketawa di banyak kesempatan, nah ini penonton lain ketawa juga tenang aja.
dannnn 120 menit lebih kalo nggak salah, nggak kerasa karena saya begitu menikmati film ini, apalagi ada mid after credit yang cukup mengagetkan ala-ala film marvel gitu kan, gokil abis gokil abis.
Tapi asli, beneran jangan berekspektasi pada apapun ya, ini pesan mbah sinto gendeng, tapi keren banget gimana dong, saya langsung ngefans sama ceritanya, karakter-karakternya, berantemnya, MUSIKNYA COI GILA, after creditnya yang saya langsung googling selepas keluar teater(saya ngelakuin ginian cuma kalo nonton film marvel supaya bisa dianggap ahli komik sama orang-orang :’’’ ),
SPOILERT AFTER CREDIT! fyi si Abimana itu jadi Pangeran Matahari salah satu musuh bebuyutannya Wiro Sableng juga, dan di cinematic universe ini dia berguru sama Muka Bangkai yang kakek-kakek nyuruh baca kitab setan apa gitu, di serial/komiknya ceritanya nggak kayak gitu sih kayanya, sama lah kayak MCU, oiya saya tau nama karakternya karena liat creditsnya ada Abimana kok tapi nggak muncul di film, eh taunya di after credit!
Dan jujur sepanjang film saya mikir ini sutradaranya siapa sih, pernah inget tapi lupa, yang saya tau ini filmnya Lala Timothy kaptennya Lifelike(ya ini nggak ragu lah ya kualitasnya), dan paling digembar gemborin sama Sherina(ini juga magnet film bagus kayanya),tapi sutradaranya lupa,
Dan ternyata pas liat credits ini karyanya mas Angga Dwimas Sasongko (haha maap mas Angga), salah satu director favorit saya (filmnya yang paling saya favoritkan itu Surat Dari Praha, kata orang jelek tapi menurut saya bagus karena saya suka premis 65 macam gini dan Filosofi Kopi yang pertama karena ada memori di sana, cihui). Sejujurnya saya masih ragu sebelum nonton film ini, karena seorang Angga Sasongko pun mungkin sulit untuk meledakkan Wiro Sableng, makanya saya lupa sutradaranya hahaha, tapi ternyata saya salah…..
Dan saya lupa juga sama scriptnya dan diingatkan lagi besoknya setelah gugling dan ternyata yang bikin juga master-master….. Lala Timothy, Seno Gumira Ajidarma, sama Tumpal Tampubolon. Mba Lala ternyata mantul juga jadi scriptwriter selain produser (mantap benul, bahasa jaman now juga), SGA aduh ini mah masternya bikin cerita, Tumpal lagi dedengkot film-film keren…..
Aduh handsdown dah sumpa ngomongin filmnya, sekarang ngomongin karakternya deh ah
Awalnya saya jatuh cinta sama karakternya Sinto Gendeng, aduh saya jatuh cinta sama nenek-nenek…. TAPI SERIUS, mainnya bagus banget, di awal saya kira nenek lampir tapi ternyata Sinto Gendeng. DAN TERNYATA dimainin sama mba-mba cantik masih muda namanya Ruth Marini.

Telisik punya telisik(kepo punya kepo), mbak Ruth ini gacoannya Angga Sasongko di salah satu film pendeknya, wah wajar sih kalo kemistrinya begitu amat, gilanya gila beneran, ketawanya itu lho, apalagi makeupnya, setelah googling baru sadar kalo ini orang bukan nenek-nenek beneran tapi mbak-mbak umur 30an kali ya, dan di film ada sih sinto gendeng muda, tapi saya kira itu castnya beda, ternyata sama!
Ngawur asli.

Wiro Sablengnya! Vino G. Bastian! Si ganteng yang punya suara lucu, dan sorotan saya adalah ini adalah Wiro Sableng baru dan mungkin masih dalam tahap pembiasaan, dan beda dengan versinya Ken Ken (awas di film ada doi loh, inget aja ada cluenya kok wkwk) tapi menurut saya cocok dan pembawaannya menarik dan Vino di sini sudah keluar dari karakter Vino(karakter Vino seperti apa silahkan googling, paling nggak nemu), mungkin di film kedua dan selanjutnya akan menjadi lebih indaaah siapakah yang dapat melaksa-
Oke balik lagi
Lalu gengnya Wiro, ada Sherina jadi Anggini, Fariz Alfarazi jadi Santiko atau Bujang Gila Tapaksakti, dan ada mbak cantik Aghniny Haque jadi Rara Murni (ternyata atlet taekwondo pantes ‘bugar’ banget). Anggini jadi karakter yang serius dan mungkin belum terdevelop terlalu banyak karena masih fokus di Wiro(tapi jelas beliau jadi magnet di film ini), Santiko dengan perangai kocaknya yang ternyata nggak garing malah lucu chemistrynya sama Wiro dapet banget! Dan salah satu show stealer buat saya si Rara Murni, asli cakep tapi… ya nonton sendiri deh!

Mahesa Birawa! ini lagi si Yayan Ruhian, aduh udah(it rhymes!) nggak usah diragukan lah pendekar gila satu ini liat dia selalu inget adegan di Yakuza Apocalypse yang ini ni:
Di film Wiro Sableng ini dia punya geng penjahat yang character design-nya nggak main-main juga(nggak kayak kostum murahan deh). Ada si kelabang ijo, setan merah, terus ada si Vannes Wu nyasar, dan kostumnya, KOSTUMNYA asli keren, handsdown buat desainernya, punten nama-namanya saya belum hapal euy. Terus ada Wikana juga yang jadi panglima jahatnya, ini orang mukanya udah jahat sih cocok banget lah jadi penjahat.
Berantemnya! Kalo udah ada Yayan nggak usah ditanya lah berantemnya gimana, tapi mungkin masih belum senyaman nonton berantemnya the Raid sih dari segi kamera, tapi ya nggak sekacau mile 22 juga (peace Iko, your director is shit you know that).
Terus ada juga geng kerajaan, isinya ada Dwi Sasono jadi raja salah satu artis favorit yang bisa jadi apa aja dan di film ini dia keren banget, Lukman Sardi jadi adeknya raja yang adegan terakhirnya nggak kalah sama adegan di Game of Thrones, sama Marcella Zalianty jadi permaisuri yang cuma kebagian 2 kalimat tapi tetep cakep kokkk.
Lalu ada Marsha Timothy jadi bidadari, terus Cecep Arif Rahman juga ada, dan lain lain yang belum bisa saya sebutkan….
See? CASTNYA SABLENG SEMUA KAN? Sumpah best banget.
Jeleknya ni film? apa ya…
oiya, TRAILERNYA!
Ragu karena liat trailernya jelek? terutama efeknya? percaya ngga kalo cuma bagian itu doang yang emang jelek di filmnya(and it still tolerable)?
SISANYA OKE OCE COI SUMPA GA BOONG BINGUNG GW JUGA KENAPA YANG DITAYANGIN DI TRAILER YANG JELEK2NYA
normalnya yang ada di trailer yg bagus2nya kan yah…. apa mungkin biar ekspektasi kita rendah ya? kayak saya, pas nonton film jadinya ga berenti tepuk tangan asli.
Huf, ngomong apalagi ya, kayanya udah semua sih, intinya film ini super recommended banget asli manthullll, jangan sampe kalian ngga nonton di bioskop, iya di bioskop ya! biar mereka bisa bikin film lagi cuyy, dan mudah-mudahan filmmaker yang lain pada nggak latah bikin film superhero tapi malah jadi grade B, ya kalo bisa belajar lah bikin yang seperti ini atau semoga kita punya satu kanal sendiri buat film superhero kayak Marvel or DC,
dannnn habis ini ada Gundala! Sutradaranya Joko Anwar saya rasa bisa keren sih! Asik!
verdict: 9/10
Agustus 2018
wah momennya juara banget, setelah Indonesia menang banyak di silat Asian Games, lalu film ini muncul, ada ngomongin silat juga lagi, mantull!!!!!
