AADC 2: Belum saatnya cinta kembali, Cinta

Sebuah reuni yang tak diekspektasikan akan muncul, dan tak dikira menjadi sekuel yang baik pula.
Kisah cinta legendaris bak Romeo dan Juliet di era 2000 an, yang menjadi kiblat para remaja putih abu-abu di masa itu. Ada Apa Dengan Cinta, Rangga si pujangga menjalin kisah romansa dengan Cinta si perempuan SMA yang sekarang jadi wanita tercantik di Indonesia…. setidaknya itu kata saya.
Film dimulai dengan kata “Tak ada New York hari ini”
Hasil penjelmaan Aan Mansyur sebagai Rangga, seorang poet yang bukunya sampai sekarang jadi bacaan saya di toilet, tulisannya bagus sekali, berkhayal sana sini sambil melihat ilustrasinya(Melihat Api Bekerja) yang saya cuma bisa berpikir, kapan saya bisa gambar dan menulis sebagus ini?
Kembali ke Rangga, empat belas tahun kita menunggu, penonton diberikan pernyataan yang jelas-jelas menggambarkan matinya Rangga di negeri orang, manusia sentimen yang makin melankoli, jelas ada masalah dengan Rangga, begitu pikir saya.
Lalu layar belok ke arah geng perempuan SMA yang telah dewasa, saya tidak terima, semuanya berubah, tapi mau apa dikata, waktu mengubah segalanya bukan? Cinta, dengan teman-teman lamanya, Milly dan Maura, mereka menunggu Karmen yang ceritanya memiliki masalah seperti Alya di film pertama, menjadi konflik pendukung yang ternyata menarik juga.

Bicara Alya, ke mana Alya? Ia terpaksa hilang karena pemeran aslinya, Ladya Cheryl, kuliah ke luar negeri, sayang, dari pengalaman akting, Ladya Cheryl seharusnya menjadi yang paling pengalaman setelah empat belas tahun. Tapi untungnya Cinta, Milly, Maura, dan Karmen masih menyimpan memori dan karakter lamanya di benak mereka.
Cinta, Maura, dan Milly dikisahkan sudah memiliki pasangan masing-masing yang salah satunya mungkin menjadi kejutan, tapi saya nggak kaget, karena sedikit terbaca, Karmen punya masalah dengan pasangannya, yang menjadi pendukung konflik di film ini juga. Yang jadi masalah utama di sini adalah Cinta, ia dilamar oleh Ario Bayu, yang kalau nggak salah namanya Trian, dan di kemudian menit di film, Rangga muncul untuk membuat galau Cinta.

Karakter asli Cinta, belum muncul di awal, baru di 15 menit setelah mulai, Cinta mulai menunjukkan karakter aslinya, terutama ketika setelah bertemu Rangga, yang dulu kita elukan di prequel film ini, ceria, bicara blak-blakan, ketus nan cantik. Tentu saja, hal ini didukung oleh Dian Sastrowardoyo yang semakin matang di usianya sekarang.
Sedangkan Rangga, ia sudah laiknya tempelan yang tak lekas copot dari wajah Nicholas Saputra, ia tak berubah, bahkan sejak ratusan purnama pun(taruhan ini jadi kata-kata yang paling banyak ditulis di review orang-orang). Ada satu tambahan di karakter Rangga, ia menjadi seorang anti move on, yang membuat satu hal yang jelas tak berubah dari empat belas tahun lalu, setelah nonton, seluruh pria ingin menjadi Rangga, seluruh wanita ingin memilikinya.

Saya… jatuh cinta dengan tiga per empat film ini, atau mungkin setengah film, karena seperempat awal saya masih belum biasa dengan gaya cerita dan pengambilan gambarnya yang agak terlalu dibuat-buat, Riri Riza dan Mira Lesmana seakan mengejar plot yang bolong hanya dengan obrolan, seperti masalah Karmen yang dijadikan bahan bincang ketika ia mau datang ke reuni mereka, seolah tak ada waktu lain di masa lalu untuk membicarakannya, gambarnya pun dirasa terlalu cantik, pengalaman sinema yang dirasakan dulu di prequelnya tak terasa sama sekali di sini.
Namun, setelah seperempat awal, saya sebegitu jatuh cinta itu dengan ceritanya, karakternya (seluruh karakter kembali dari masa lalu, bahkan karakter Milly yang makin menyebalkan), konfliknya, hingga asmaranya. Terutama adu mental antara Cinta dan Rangga, masing-masing saling menyerang, kalah menang bergantian, beradu sangat indah, mengingatkan saya akan hal… ah lupakan.
Adegan Cinta dan Rangga di Jogja adalah show stealer di film ini, membawa kita kembali ke empat belas tahun lalu, seakan teater bioskop adalah mesin waktu virtual yang memaksa penonton juga ikut untuk merasakan kisah cinta mereka. Dengan kondisi umur tigapuluhan pun, mereka dapat menyelami jiwa SMA mereka yang tertimbun waktu, begitu indah, saya pun iri melihat kisah ini.
Namun sayang, sayang sekali entah kenapa di 15 menit terakhir saya collapse, kecewa berat karena seakan dipaksakan, seolah penonton dianggap kecewa kalau-kalau Rangga dan Cinta tak dipertemukan di detik itu juga.
Cinta mengejar Rangga ke airport, seperti di film pertama, bedanya bukan Mamet yang menyetir tapi Cinta sendiri, plus, adegan nyaris tabrakan ala ala sinetron, yang saya rasa nggak ada perlu-perlunya sama sekali. Lalu sebegitu mudahnya penyelesaian Cinta dengan Trian, sayang, sebagai seorang pengusaha muda ia tak seharusnya menyerah akan seorang Dian Sastrowardoyo.
Dan apakah perlu? Apakah perlu Cinta langsung dipertemukan dengan Rangga di akhir film?
Padahal untuk cinta, belasan tahun pisah pun dapat dijalani… kemarin pun 14 tahun, kenapa sekarang ditentukan hanya dalam hitungan menit?
Belum saatnya cinta kembali, Cinta.
Sebuah angin segar untuk sinema lokal, yang katanya hingga hari ini sudah menarik 2 juta penonton ke bioskop. Rupanya strategi reuni ini cukup sukses dan ternyata pun ceritanya bagus, hanya saja saya kecewa di akhir tapi bukan masalah yang cukup besar sebetulnya.
Ah satu lagi, persetan dengan yang bilang mirip dengan trilogi before
Saya cuma ingin menyaksikan cerita yang menarik, dan saya ternyata mendapatkan itu di film Ada Apa Dengan Cinta 2 ini, setidaknya untuk 110 menit pertama…. dan sepertinya saya akan nonton lagi, untuk mendalami puisi-puisi Rangga.
Verdict: 8/10