Jakarta dan Edukasinya

p.s. Essay yang belum sempat saya publish tentang pendidikan di Jakarta, sebagai syarat untuk magang di balai kota bulan Agustus lalu, kebetulan dulu belum seperti sekarang yang serba panas dan mengerikan, silahkan dinikmati :)

Sebuah kenyataan kalau pergerakan bapak Ahok adalah suatu gerakan yang tegas dan tidak bertele-tele. Buktinya adalah makin ketatnya pengawasan di bidang pendidikan yang notabenenya adalah bagian krusial dari perkembangan mental manusia, yang mana menjadi slogan Bapak Presiden Joko Widodo, yaitu “revolusi mental”.

Melanjutkan pergerakan program yang dicanangkan bapak Joko Widodo dulu yaitu Kartu Jakarta Pintar, yang mana menjadi kartu as untuk warga miskin sebagai penunjang pendidikan mereka, yang sayangnya malah banyak diselewengkan karena kembali lagi ke mental, yang mana mental dari penanggung jawab kartu tersebut (yaitu orang tua murid) masih belum terevolusi. Kembali lagi, untungnya bapak Ahok, merupakan insan yang tegas, pencabutan KJP yang tidak digunakan semestinya dilakukan untuk mengurangi kecurangan (bahkan saya dengar ada yang mencairkan KJP hanya untuk beli makanan ringan).

Lalu ada BOP yaitu Biaya Operasional Pendidikan, yang menjadi buah bibir ibu-ibu yang memiliki anak yang baru masuk sekolah, di mana tidak ada sama sekali uang liar yang ditarik dari sekolah(setidaknya di lingkungan rumah saya), sangat berbeda jauh dengan waktu saya sekolah dulu, kira-kira sekitar 5–6 tahun lalu, pak Jokowi dan pak Ahok belum menjabat, mau karyawisata keluar X ribu, mau beli buku Tarik ATM X ribu, dll. Tentunya hal ini membuat dongkol punggawa sekolah, namun membuat orang tua murid tepuk tangan karena tak keluar uang, dan membuat saya salut pula ke bapak Ahok ini karena bisa sampai segitunya.

Untuk tenaga kerja sendiri, kebetulan sudah lima tahun saya tak menginjak pendidikan di Jakarta, yang mana saya lihat ada perubahan yang signifikan, yaitu pemutaran guru ke sekolah lain (yang saya lihat di SMA). Hal ini menurut saya menarik, karena boleh jadi guru yang sudah memiliki skill pedagogi yang baik dapat dipindahkan ke sekolah yang masih memiliki murid yang belum pernah diajarkan oleh guru yang sebaik itu, dan guru yang belum memiliki skill pedagogi yang baik, dapat merasakan mengajar murid yang memiliki kemampuan menyerap pelajaran lebih baik. Tapi tentunya ada perasaan yang kurang menyenangkan untuk guru-guru yang diputar tersebut, karena sudah lama mengajar di sekolah mereka lalu tiba-tiba diputar dan harus berpisah dengan sekolah lamanya, saya pun sebagai alumni merasakan kesedihan walaupun sudah tak diajar oleh mereka.

Dari seluruh program pendidikan yang ada di atas, ada beberapa hal yang perlu distimulus dengan beberapa suplemen, yaitu penyuluhan KJP yang lebih berwarna, BOP yang diperjelas supaya tidak menimbulkan kesalahpahaman, dan pendidikan untuk tenaga kerja yang lebih menyenangkan.

Kartu Jakarta Pintar sebenarnya memilliki brand yang menarik, spesifikasi dari penerima KJP ini sendiri mungkin dapat diperjelas dengan membuat infografis dan video animasi yang dibuat viral untuk memberikan penyuluhan yang rata kepada masyarakat. Pembuatan poster digital maupun fisik yang sistematis dan menarik secara desain juga harus diperhatikan di pengembangan KJP selanjutnya. Mengapa demikian? Pengiklanan yang menarik dan menyenangkan dapat menjaring perhatian banyak masyarakat, terutama di media sosial.

Untuk masalah Biaya Operasional Pendidikan, hal yang paling saya takutkan adalah kualitas guru yang menurun secara mental, bisa jadi ada beberapa guru yang tidak suka dengan kebijakan ini karena tidak ada lagi uang yang didapatkan dari murid. Hal ini mungkin dapat ditanggulangi dengan merinci lagi biaya-biaya yang ada dan dibuka dengan jelas, lalu diadakan penyuluhan langsung ke sekolah (seluruh guru harus melihat hal ini) perihal biaya yang masuk dari pemerintah, dengan demikian, hal ini semoga akan tidak begitu menjadi pikiran dari guru-guru yang boleh jadi belum tahu akan penyebaran dana BOP.

Pendidikan tenaga kerja ini yang paling penting, guru adalah orang tua kedua bagi anak, sudah semestinya guru adalah inspirasi untuk muridnya, Ketika guru menginspirasi, murid akan mendengarkan guru tersebut. Oleh karena itu, guru harus memiliki pendidikan yang mengarah ke sana, yaitu bagaimana mereka dapat menginspirasi, boleh jadi dari kemampuan mereka bercerita, kemampuan pedagogi mereka, dan kemampuan bersosialisasi mereka. Hal ini dapat dicontoh dari program Indonesia Mengajar yaitu Kelas Inspirasi, mereka menggunakan metode yang menyenangkan untuk mengajar, sehingga murid tidak selalu tertekan dalam kegiatan belajar mengajar, metode ini dapat digunakan di tahap sekolah dasar (SD).

Dalam dunia pendidikan, terutama di DKI Jakarta, banyak sekali masalah yang tidak dapat diduga sebelumnya. Lingkungan sekolah yang boleh jadi tidak nyaman, keluarga yang kurang mendukung pendidikan anaknya, dan lain lain. Peran dari pemerintah, guru, hingga keluarga menjadi elemen yang sangat penting untuk menunjang pendidikan anak. Oleh karena itu marilah kita selalu berkontribusi dalam dunia pendidikan kita sendiri, semoga pendidikan kita semakin maju! Amin!

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.