1 Cara Mudah Atasi Penundaan

Hampir setiap menjelang pergantian tahun, seperti sekarang ini, kegiatan membuat “resolusi awal tahun” menjadi agenda rutin yang saya lakukan. Banyak mimpi yang ingin saya raih dan capai. Saya menyusun beragam aktivitas agar resolusi-resolusi saya bisa terwujud. Berbagai macam keinginan antri berdesakan seolah berebut supaya segera dipuaskan. Satu keinginan belum terlaksana sudah menyeruak keinginan yang lain.

Selain itu di penghujung tahun juga sering saya gunakan untuk mengevaluasi bulan-bulan yang terlewati. Namun sayangnya, tak jarang membuat saya geleng-geleng kepala sebagai tanda bingung, mengapa dari sekian banyak resolusi hanya sedikit yang menunjukkan kemajuan berarti bahkan ada yang sama sekali tidak saya lakukan?

Salah satu penyebab yang mungkin adalah kebiasaan saya untuk menunda. Sulit fokus untuk memulai perubahan baik dan menyelesaikan segala yang benar-benar penting. Saya justru lebih sibuk meladeni gangguan-gangguan pikiran yang datang silih berganti, menunaikan kegiatan-kegiatan yang membuat nikmat sesaat dan itu sebenarnya menyita banyak tenaga serta tidak terlalu penting bagi kehidupan saya.

Tak hanya berkaitan dengan resolusi tahun baru, kebiasaan menunda juga terjadi dalam kehidupan sehari-hari. Misal, ketika melihat artikel yang saya butuhkan, pikiran yang seringkali terlintas pertama kali, “saya baca nanti saja.” Padahal itu seharusnya tak terjadi dengan membiarkan keinginan untuk melakukan kegiatan lain mereda sendiri. Sehingga saya membaca, tidak menunda. Toh hanya sejenak, beberapa menit saja, dan ada kemungkinan saya mampu mendapatkan manfaat yang tak terhitung jumlahnya.

Saya terus belajar untuk mengatasi penundaan, dan dari sekian banyak cara yang ada, saya menemukan cara yang sederhana untuk mengatasi kelemahan yang dimiliki banyak orang ini. Cara ini mudah, tapi seperti pada umumnya, membutuhkan latihan.

Cara sederhana yang saya lakukan seperti ini:
 
Menentukan 1 hal yang paling penting yang harus saya lakukan hari ini. Saya memutuskan untuk melakukannya hanya bagian awal dan sedikit dari kegiatan tersebut. Hanya sejenak, beberapa menit, atau bahkan hanya 30 detik. Memulai sesuatu adalah suatu hal penting dalam hidup ini.

Saya menyingkirkan semua gangguan, juga mematikan yang berpotensi menimbulkan gangguan, misal gadget, televisi, dan sebagainya. Menutup semua aplikasi dan program. Jadi saya menciptakan kondisi di mana hanya ada saya dan 1 kegiatan yang sudah saya tentukan.

Duduk, bersiap melakukan, dan fokus untuk memulai. Bukan melakukan seluruh kegiatan itu, saya hanya memulainya.
 Saya memperhatikan pikiran saya, saat ia mulai mempunyai keinginan untuk melakukan kegiatan yang lain. Berkeinginan untuk cek email, membaca komentar teman di Facebook, menulis tweet, atau mengunjungi website kesukaan saya. Selain itu, kadang muncul keinginan untuk bersantai di depan televisi, berbincang tak tentu arah dengan teman, atau sekadar ingin melakukan kegiatan yang lainnya. Saya hanya menyadari setiap keinginan itu.

Tetapi saya tidak goyah. Hanya menyadari keinginan itu, tetapi diam, dan membiarkan semua keinginan berlalu sendiri. Keinginan muncul secara bertahap meningkat, lalu berlalu, hilang, layaknya gelombang ombak. Saya membiarkan satu per satu berlalu begitu saja.

Kesadaran juga saya butuhkan ketika pikiran mulai mencoba cari pembenaran untuk menunda dan tidak melakukan kegiatan yang sudah saya tentukan. Seperti tadi menyikapi keinginan, saya pun membiarkan pikiran yang berusaha merasionalisasi ini mereda sendiri.

Hanya mengambil satu langkah kecil untuk memulai. Langkah yang begitu sederhana yang mungkin saya lakukan saat ini, di sini-kini.

Memulai, dan selanjutnya akan mengikuti …

Dengan menerapkan seluruh inspirasi dari cerita-cerita pada ebook Sadar Penuh Hadir Utuh, maka dengan mudah kamu dapat menciptakan rasa bahagia hanya dengan diam dan melatih pikiran. HADIAH untuk kamu yang sudah baca tulisan saya ini: Download GRATIS ebook Sadar Penuh Hadir Utuh dengan klik → Latih pikiran untuk hidup bahagia

Originally published at adjiesilarus.com.