2 Cara Melatih Diri Supaya Tidak Korupsi
Korupsi seolah menjadi bagian yang tidak bisa dipisahkan dalam berita yang saya baca maupun dengar setiap hari. Satu kasus korupsi belum usai, sudah berjajar kasus korupsi berikutnya. Sambung-menyambung tiada jeda. Dari pejabat negara yang santer ditayangkan media hingga masyarakat biasa yang diketahui hanya di lingkungan sekitar saja.
Apa yang sebenarnya menjadi penyebab tindakan korupsi?
Apa yang terjadi jika kita mengendalikan diri dari keinginan untuk serakah mendapatkan, hingga sadar diri tak melakukan korupsi?
Sebagai langkah awal untuk hidup bahagia, kita perlu berlatih untuk bebas dari siklus penderitaan. Melepaskan diri dari kenikmatan hidup yang bersifat sesaat, semu, mengendalikan diri supaya tidak harus memuaskan keinginan untuk serakah mendapatkan dan mengurai ikatan-ikatan yang tanpa disadari membuat kita menjadi budaknya. Salah satu yang perlu kita pahami adalah perihal keuntungan-mendapatkan dan kerugian-kehilangan. Korupsi berkaitan dengan ini.
Mengenai untung-rugi ini dapat menciptakan banyak masalah dalam kehidupan. Menjadi penting untuk diperhatikan karena selama kita tunduk padanya, perkara mendapatkan-kehilangan ini mempunyai daya untuk mempengaruhi perasaan dan tindakan kita, termasuk tindakan korupsi. Ketika tindakan kita dilandasi oleh salah satunya, ingin mendapatkan atau takut kehilangan, maka menghasilkan stres. Jika semakin membesar, alhasil penderitaan akan semakin kita rasakan, kebahagiaan malah semakin menjauh.
Untung-rugi atau mendapatkan-kehilangan adalah sepasang kata yang saling berlawanan dan menjadi salah satu hal yang sebaiknya kita pahami. Selain: pujian-hujatan, nama baik-reputasi buruk, dan kenikmatan-rasa sakit.
Semakin menjadi budak uang dan harta, semakin kita menderita. Maksud menjadi budak adalah sangat ingin mendapatkan keuntungan dan sangat takut kehilangan keuntungan atau sangat takut mengalami kerugian. Juga berarti, kita hanya merasa bahagia saat mengeruk harta dan mendulang kekayaan, dan merasa begitu menderita saat kita tidak mendapatkannya atau kehilangan itu semua. Sekarang ini, dengan merebaknya fenomena berwirausaha, juga penyebab lainnya, kecenderungan menjadi budak harta merambah luas. Diiringi dengan bertambah jumlah insecurepreneur (wirausaha yang sering merasa cemas untuk mendapatkan keuntungan pada segala kesempatan dan sangat takut jika tidak berhasil menambah pundi-pundi hartanya).
Kita yang menghujat koruptor ini, apakah kita, terutama saya, pasti tidak akan melakukan korupsi serupa jika kita mendapatkan kesempatan yang sama?
Tak jarang kita beranggapan bahwa kita bukanlah kaum budak harta. Menyangkal bahwa kita tak mungkin melakukan korupsi walaupun kelak mungkin mendapatkan kesempatan untuk menjadi koruptor. Tetapi kenyataan berbicara lain. Anggapan itu menjadi tidak benar ketika seseorang mengambil yang kita rasa milik kita atau ketika seseorang meminta sesuatu yang merupakan kepunyaan kita. Kita berat hati untuk memberi bahkan enggan memberi segala yang sudah tidak kita gunakan.
Saya berusaha mempelajari mengenai mendapatkan-kehilangan. Berikut 2 latihan yang saya lakukan supaya tidak terlalu ingin mendapatkan dan tidak terlalu takut kehilangan. Latihan sederhana yang bermanfaat dan sampai sekarang pun saya masih belajar. Saya masih mengalami kegagalan dalam proses belajar. Masih banyak yang belum saya pelajari.
1. Tidak tergesa memuaskan
Saya hanya manusia biasa yang masih punya keinginan mendapatkan, apalagi mendapatkan keuntungan. Sah menjadi malaikat kalau saya sudah tidak punya keinginan itu. Tapi saya selama ini berlatih, ketika ingin mendapatkan sesuatu atau membeli barang tertentu, saya membiasakan diri untuk tidak tergesa memuaskannya walaupun mungkin saya mampu. Berhenti sejenak dan bertanya pada diri saya sendiri, “Apakah saya memang benar-benar membutuhkan atau sekadar ingin?”, “Bukankah saya sudah punya untuk memenuhi kebutuhan serupa, hanya saja ini wujud barangnya berbeda?”. Saya hanya menjadi pengamat perasaan ingin yang menyapa. Ia seperti ombak, ada kalanya meninggi, tapi semakin lama, ia pun mereda dengan sendirinya, tanpa harus dipuaskan. Mendapatkan hanya sewajarnya saja sesuai yang saya butuhkan.
2. Terbiasa kehilangan
Bagaimana pun cerita hidup kita, pengalaman kehilangan akan selalu mengisi di antaranya.
Tidak takut karena terbiasa. Menjinakkan rasa takut kehilangan dengan membiasakan diri dengan kehilangan. Saya membiasakan diri dengan kehilangan melalui memberi, bahkan tidak menutup diri berbagi barang-barang yang masih saya suka. Upaya ini agar saya terlatih memberi. Memberi tak melulu harus barang, tapi bisa juga menjadi relawan memberikan waktu dan tenaga. Dengan memberi, mengurangi ketamakan saya untuk memiliki. Dan dengan berkurangnya perasaan punya ini dan itu, maka berkurang juga kemungkinan saya untuk kehilangan. Karena kehilangan hanya terjadi jika saya merasa memiliki.
Semakin diperbudak oleh sesuatu, kita lebih sedih, juga marah, saat sesuatu itu hilang atau diambil dari kita sehingga kita tak lagi berhak berkata, “Itu punyaku …”. Kita khawatir tiada henti untuk terus mendapatkan, menimbun, dan memaksa diri supaya segala yang kita punya tidak diambil orang lain. Betapa menderita hidup kita.
Karena penderitaan itu, karena menjadi budak harta, kita melancarkan berbagai tindakan, bahkan tindakan yang dilarang dan semena-mena, termasuk korupsi, dalam rangka mendapatkan keuntungan sebanyak mungkin dan memeluk erat uang serta harta kekayaan.
Sikap dan perbuatan ini akan menambahkan penderitaan, lebih menghadirkan ketidakbahagiaan dan juga mendapatkan balasan setimpal yang memperburuk keadaan.
Dengan menerapkan seluruh inspirasi dari cerita-cerita pada ebook Sadar Penuh Hadir Utuh, maka dengan mudah kamu dapat menciptakan rasa bahagia hanya dengan diam dan melatih pikiran. HADIAH untuk kamu yang sudah baca tulisan saya ini: Download GRATIS ebook Sadar Penuh Hadir Utuh dengan klik → Latih pikiran untuk hidup bahagia
Originally published at adjiesilarus.com.