4 Cara Mengelola Cemas

Barangkali, selama hidup adakalanya rasa cemas memang datang menjenguk, sebab ia adalah reaksi wajar ketika tekanan menghampiri. Dan pada beberapa waktu, ia memberikan manfaat dalam menjaga keberlangsungan hidup. Tetapi saat ia tengah menguasai diri ini, rasa nyaman pergi menjauh. Bagi seseorang dengan laju pikiran begitu cepat, rasa cemas seolah telah menyatu dengan hidupnya.

Masa kecil saya cukup akrab dengan rasa cemas. Sering cemas perihal pekerjaan rumah yang harus sudah saya kerjakan sebelum tanggal pengumpulan. Juga saat berusaha semaksimal mungkin untuk mendapatkan nilai tertinggi di kelas supaya mendapatkan pengakuan dan hadiah. Beberapa kawan masa kecil saya masih mengejek saya karena dulu saya jarang bermain dan lebih memilih belajar. Seiring bertambahnya usia, saya berlatih untuk mengelola cemas yang saya rasa, tetapi kadang saya masih mengalami ia lebih kuat daripada saya.

Rasa cemas datang layaknya ombak. Ada masa saya tak merasakannya sama sekali, dan ada masa ia menghajar saya bertubi-tubi tak berkesudahan. Bisa kamu bayangkan, rasa cemas melengkapi perjalanan saya dalam berlatih hidup hanya di sini-kini, mindfulness (sadar penuh hadir utuh).

Entah benar atau tidak bahwa rasa cemas menemani perjalanan setiap manusia, sekarang ini ia mudah dirasakan, bahkan oleh orang-orang yang sebelumnya selalu diselimuti ketenangan. Penyebab cemas bisa bermacam-macam, diantaranya adalah mempersiapkan sidang skripsi, presentasi di depan klien dan atasan, jenjang karir di masa depan, juga membuka pesan singkat dari mantan, dan sebagainya. Semua itu bisa membuat kewalahan. Rasa cemas seolah selalu mampu membombardir dengan caranya sendiri, karena bukan hanya mengusir nyaman, tapi juga kedatangannya bisa bersamaan.

Banyak ternyata yang merasakan serupa, jadi saya akan berbagi tentang beberapa cara yang saya lakukan untuk mengelola rasa cemas. Selama ini, sudah banyak cara yang saya coba lakukan untuk mengelola rasa cemas dan saya merasa masih ada banyak cara lainnya, tetapi berikut ini adalah cara-cara yang saya lakukan dan saya rasakan manfaatnya.

Cara terbaik untuk menutup mulut kecemasan adalah dengan proaktif. Cemas ada karena ada keinginan, lalu ada jarak yang jauh antara kenyataan dengan keinginan, dan tidak percaya diri mampu mewujudkan keinginan. Saya bertanya kepada diri sendiri: Apa yang bisa saya lakukan untuk mendekatkan jarak antara kenyataan dengan keinginan sehingga rasa cemas mereda? Contoh: Cemas akan keuangan? Mulai menata keuangan, belajar mengurangi, dan menyisihkan untuk tabungan. Cemas akan sidang skripsi? Mulai mempersiapkan sebaik mungkin apapun yang dibutuhkan dan mempelajari skripsi yang dibuat. Cemas akan berat badan? Mulai singkirkan makanan dan minuman yang berlemak, makan buah dan rajin berolahraga. Proaktif berarti melakukan sesuatu, daripada terus larut dalam kecemasan.

“Ganggulah cemas dengan syukur”, begitu kata Danielle LaPorte. Seketika mulai memikirkan akan segala hal yang sudah saya miliki (kesehatan, keluarga, teman, rumah, makanan, air putih bersih yang aman untuk diminum, pengalaman selama ini, dan sebagainya), maka volume suara rasa cemas mengecil. Meskipun kadang lupa untuk bersyukur, tapi setiap kali teringat maka syukur selalu punya kekuatan yang maha untuk diadu dengan cemas. Rasa syukur akan mengurangi keinginan yang membabibuta.

  1. Berkencan dengan rasa cemas

Sebagai manusia biasa, saya berusaha untuk melindungi diri dari celaka dengan menganalisa apa saja yang telah gagal di masa lalu dan apa saja yang mungkin melukai di masa depan, tapi kadang saya terlalu asyik melakukannya hingga kebablasan dan inilah yang menyebabkan cemas. Salah satu cara yang saya lakukan untuk mengelola cemas adalah berkencan dengannya. Saya menentukan tanggal, jam dan durasi kencannya. Misal: besok, pukul 8 pagi, selama 15 menit. Ketika waktu itu tiba, saya menuliskan semua, apapun, yang membuat saya cemas. Tidak perlu dipikirkan, beri ruang dan waktu kepada rasa cemas untuk bersuara. Dengan melakukan ini, ia menjadi tahu diri untuk tidak selalu menunjukkan dirinya di waktu-waktu yang tak saya duga. Berkencan dengan rasa cemas juga memberi peluang kepada saya untuk lebih mampu menelaah keadaan yang sedang saya hadapi.

Terakhir, tetapi bukan yang paling akhir dari segalanya, adalah dengan belajar memisahkan diri saya dengan pikiran saya. Mungkin ada yang belum memahami: saya bukanlah pikiran saya. Sekali lagi saya tuliskan (mungkin kamu terlewat membacanya): saya bukanlah pikiran saya. Seolah apapun yang ada di pikiran adalah kenyataan, dan benar-benar nyata. Tetapi sebenarnya, pikiran hanya ada di dalam kepala. Pikiran bukanlah bagian dari kenyataan yang hidup. Karenanya, saya tidak harus menerimanya mentah sebagai kenyataan. Contoh: Berpikir akan segala yang ditakutkan terjadi hingga membuat cemas bukan berarti saya adalah kecemasan itu. Hanya karena saya merasa cemas bukan berarti pula saya adalah kecemasan itu. Semakin saya dapat memahami bahwa pikiran terpisah dari diri, semakin mudah saya berteman dengannya, dan semakin membantu saya lepas dari pilin tak terkendali yang menjajah pikiran saya.

Saya tidak tahu apakah cara-cara yang saya lakukan selama ini juga berlaku serupa jika dilakukan oleh orang lain. Saya pun tidak tahu mengapa cara-cara tersebut dapat membantu saya dalam mengelola rasa cemas. Karena merasakan manfaatnya saat saya membutuhkan, maka saya bagikan melalui tulisan ini. Selamat mencoba sehingga tahu cara-cara apa saja yang paling bermanfaat untukmu.

Apa ceritamu yang berhubungan dengan rasa cemas?

Dengan menerapkan seluruh inspirasi dari cerita-cerita pada ebook Sadar Penuh Hadir Utuh, maka dengan mudah kamu dapat menciptakan rasa bahagia hanya dengan diam dan melatih pikiran. HADIAH untuk kamu yang sudah baca tulisan saya ini: Download GRATIS ebook Sadar Penuh Hadir Utuh dengan klik → Latih pikiran untuk hidup bahagia

Related


Originally published at adjiesilarus.com.