Hasil dari Kebiasaan

“Apa yang kamu pilih lakukan sekarang, lalu kamu pilih lakukan lagi kemudian, akan menentukan siapa dirimu.”

Senja itu, saya duduk sendiri di sebuah kursi, di teras rumah. Saya memegang gelas berisi air hangat. Meminumnya perlahan diselingi jeda. Lihat kamu yang sekarang, Djie: Apakah kamu menyadari, baik burukmu sekarang adalah hasil dari kebiasaanmu selama ini?

Apapun itu bisa menjadi kebiasaanmu karena pengulangan yang kamu lakukan. Semakin sering kamu mengulanginya, semakin terbiasa, maka kebiasaanmu semakin mendarah daging. Ia mengakar begitu dalam nan kuat, hingga acapkali setiap upaya untuk berbenah dari kebiasaan buruk menjadi tak mudah.

Sudut rumahmu yang menjadi tempat langganan membaca buku di waktu-waktu tertentu. Menu makananmu setiap hari yang kadang tak pernah berganti. Hanya saat hari-hari khusus saja mencoba mengubah makanan yang kamu santap untuk mengatasi rasa jemu. Cara menggerakkan ragamu sudah bisa ditebak, juga pilihan jalan ke suatu tempat. Terbiasa memilih jalan yang sama. Dan tatkala ada yang memberitahumu jalan lain dengan tujuan yang sama, seringkali membuatmu heran. Begitulah kebiasaan. Ia punya kekuatan. Ketika keluar dari kebiasaan, dapat mengagetkan.

Djie … kebiasaan tak selalu jadi masalah, tapi ia akan menjadi masalahmu, hanya akan menguras tenagamu, saat kamu melakukannya tanpa kamu benar-benar menyadarinya.

Kehidupan ini luas, sangat luas. Kamu melakukan kebiasaan, mengisi kehidupan dengan berhati-hati menapaki satu jalan yang telah kamu pilih. Tak jarang kamu merasa kebiasaan itu sudah terukir di nadimu dan melupakan kamu sejatinya berjalan di tempat, sebentuk labirin, yang sangat luas. Setiap pilihan yang telah kamu pilih seolah akan menutup pintu-pintu pilihan lainnya. Dan kamu hanya bisa memilih satu pintu di suatu waktu.

Sifat alami kebiasaan yang seperti ini bisa menyebabkanmu stres, tapi juga membuatmu bebas. Kebiasaan tidak tercipta dengan sendirinya dalam sekejap, sehari semalam. Ia adalah akumulasi dari yang kamu lakukan selama ini. Setiap kali kamu bangun siang, bermalasan-malasan nonton tv, makan dan minum yang jauh dari upaya menjaga kesehatan, berarti kamu memilihnya dan tidak memilih yang lainnya, seperti bangun pagi, berolahraga, makan dan minum yang dibutuhkan tubuh supaya sehat. Setiap pilihan selalu bersedia terbuka untuk kamu pilih, tapi kamu biasanya tak mau bertanggung jawab, beberapa di antaranya dalam hal menjaga kesehatan, kebersihan dan kesejahteraan dirimu secara utuh, apalagi saat yang terjadi tak sesuai harapan.

Apa yang kamu pilih lakukan sekarang, lalu kamu pilih lakukan lagi kemudian, akan menentukan siapa dirimu, Djie …

Saya meneguk air di dalam gelas untuk ke sekian kalinya. Lalu, bagaimana sebaiknya saya memperbaiki kebiasaan buruk?

Janganlah langsung menjauhkan diri dari kebiasaan burukmu. Jangan pula tiba-tiba menghilangkannya serentak dalam rangka merevolusi hidupmu. Tak akan pernah berhasil. Lebih baik kamu mulai memberdayakan kesadaranmu. Mengenali cara bagaimana kebiasaan burukmu itu berulang kali mampu menyusun pola yang rapi untuk membuatmu nyaman sehingga kamu pun tunduk untuk mengulanginya lagi, lagi dan lagi. Atau juga mempelajari bagaimana caranya berhasil membuatmu tersungkur dan merasa malang. Sederhana, ini hanya proses mengenali diri sendiri, “bercermin”. Ketika mulai mengenalinya dengan kesadaran penuh dan utuh, kamu akan lebih tenang untuk berupaya perlahan memperbaiki diri.

Matahari berangsur sembunyi dan awan mulai gelap. Saya ingin memulai menyapa malam di hari itu — malam di mana saya berkenalan dengan kebiasaan saya. Semoga berlanjut dengan keakraban.

Dengan menerapkan seluruh inspirasi dari cerita-cerita pada ebook Sadar Penuh Hadir Utuh, maka dengan mudah kamu dapat menciptakan rasa bahagia hanya dengan diam dan melatih pikiran. HADIAH untuk kamu yang sudah baca tulisan saya ini: Download GRATIS ebook Sadar Penuh Hadir Utuh dengan klik → Latih pikiran untuk hidup bahagia

Originally published at adjiesilarus.com.