Kepala yang Tidak Keras

Sewaktu saya masih berusia remaja, masa di mana lebih banyak yang saya lawan, daripada yang menjadi kawan, ibu memanggil saya dan mengatakan sesuatu yang terus saya ingat sampai sekarang. Kami berdua sedang berada di ruang makan, duduk di kursi di sebelah meja makan yang kuno, di salah satu bagian rumah tua, tempat kami tinggal dulu. Ibu meletakkan sendok dan garpunya, menatap saya dan berkata, “Djie … tidak setuju boleh saja, tapi janganlah terlalu keras kepala.”

Saya hanyalah seorang remaja yang hanya ingin melakukan apapun yang saya suka pada waktu itu. Perkataan ibu saya sekadar masuk lewat telinga kiri, lalu keluar melalui telinga kanan, berlalu begitu saja. Karena cukup sering saya dengar, saya tahu pesan itu adalah sesuatu yang tidak bisa diremehkan. Hingga saya selalu mengingatnya.

Ketika saya beranjak dewasa dengan merantau di beberapa kota, saya kembali merenungkan kata-kata ibu saya. Kepala saya, juga kita, pasti keras karena ada tulang tengkorak di dalamnya untuk melindungi otak dari benturan. Mustahil jika kepala ini dengan sengaja dapat kita kendalikan supaya melunak. Tetapi saya lalu menyadari bahwa bukan itu maksud ibu sebenarnya. Apa yang terkandung dalam perkataan ibu, seperti sebuah bekal dalam perjalanan, merupakan sebuah pesan pengingat yang pernah saya dengar, terutama dalam menjalin hubungan dengan siapapun, “Tidak setuju boleh saja, tapi janganlah terlalu keras kepala.”

Ibu saya mengingatkan agar pikiran dan hati saya tenang dalam menjalin hubungan dengan siapapun. Bukan tergesa melawan. Sehingga lebih bersikap dewasa, mampu meluaskan sudut pandang, bijaksana. Saking begitu penting, pengingat yang begitu bermanfaat, ibu saya tak jemu mengulanginya dengan sungguh-sungguh.

Di setiap hubungan antar manusia akan ada masalah dan salah satu pihak merasa lebih benar daripada pihak lainnya. Sebelum mengurainya, penting membekali diri dengan pikiran dan hati yang tenang. Paling tidak, agak tenang. Sayangnya, banyak orang yang terlalu keras kepalanya, bahkan hanya untuk membicarakan baik-baik permasalahannya saja sudah menyiapkan pembelaan diri. Mungkin mereka ingin selalu benar. Mungkin mereka tidak akan mau mengakui kesalahan yang telah mereka perbuat. Mungkin mereka tidak suka kalau harus mengucapkan kata maaf. Mungkin mereka tidak suka berdiskusi menemukan jalan terbaik. Setelah saya alami sendiri dan pelajari, semua sifat ini hanyalah sifat kekanak-kanakan.

Murid kehidupan pun tidak bisa mengelak dari kecenderungan keras kepala. Ketika mulai muncul gejala keras kepala, ia berusaha mengenali dan menyadari sifat kekanak-kanakan ini, menerimanya dengan kesadaran penuh, sehingga ego mengecil, lalu bibir pun tidak kaku untuk mengucapkan kata maaf.

Dari kepala yang tidak keras, dapat terbuka jendela untuk mengakui kesalahan dan meminta maaf.

Membicarakan baik-baik masalah yang terjadi dan berusaha menemukan jalan terbaik. Murid kehidupan tidak takut kalau memang harus menjadi yang pertama untuk meminta maaf. Mengayunkan langkah, melanjutkan perjalanan yang lebih baik dan terarah.

.

Untuk Pre-Order Buku tentang Memperbaiki dan Mempererat Hubungan Cinta — “Love Out Loud”, Klik sekarang: Books

Untuk Ikut Sesi Memperbaiki dan Mempererat Hubungan Cinta — Sesi Hening 8 jam: “Love Out Loud” Jakarta, Klik sekarang: Session

.

Sementara rasakan manfaat baik dari tulisan ini maka silakan dibagikan sekarang.

Terima kasih.

.

Jika ingin baca tulisan-tulisan saya yang lain, dipersilakan ke: Archives

Originally published at adjiesilarus.com.

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.