Memadamkan Api Cemburu

Hubungan manusia tidak bisa terhindar dari rasa cemburu. Beberapa waktu yang lalu, teman saya membanggakan hubungan cinta dengan istrinya, juga membanggakan dirinya sendiri, karena ia merasa tidak pernah merasa cemburu dengan pasangannya. Tidak seperti hubungan cinta yang dialami teman-temannya. Banyak temannya ingin meminta saran untuk mempunyai hubungan yang bebas dari rasa cemburu, yang begitu nyaman dalam keindahan cinta.

Suatu ketika, saya ikut sesi meditasi dan ternyata teman saya itu juga ikut. Tak ada keinginan saya untuk menyelidiki mengapa ia bisa terbebas dari rasa cemburu dalam hubungan cintanya. Jadi saya tidak menyinggung perihal itu, tapi membicarakan mengenai hal lain berkaitan sesi dan meditasi.

Sore tiba, menjelang matahari terbenam, peserta sesi dibagi menjadi beberapa kelompok dan dipersilakan duduk di suatu ruangan. Kebetulan saya sekelompok dengan teman saya. Setiap kelompok dibimbing satu guru. Secara bergiliran, masing-masing peserta diminta untuk menceritakan masalah yang sedang dihadapi dan diberi kesempatan untuk bertanya.

Sampai giliran teman saya dan saya kaget. Mengapa? Karena ia bercerita mengenai hubungan pernikahannya yang dipenuhi rasa cemburu. Ia menceritakan pengalamannya saat suatu hari menerima telepon dari istrinya.

Dia mendengarkan yang dikatakan istrinya, lalu bersambung dengan nada suaranya yang keras, meminta istrinya untuk melakukan ini dan itu, mengatur sedemikian rupa. Seolah menjadi ajang untuk memuaskan keinginannnya untuk menguasai istrinya. Percakapan berujung dengan bentakan, tanpa ucapan pamit untuk mengakhiri telepon tersebut, langsung ia mematikan teleponnya

Setelah cukup lama bercerita, dari suara yang terbata-bata, dengan senyum santai yang terasa dipaksakan, dia mulai menanyakan mengenai hubungan pernikahannya selama ini kepada guru yang membimbing kelompok kami.

Guru itu menanggapi yang ia sampaikan sambil tertawa, “Saya menyimak ceritamu tadi. Ketegasanmu layak dipuji setinggi langit. Dan hubunganmu dengan istrimu … Yah! Hubunganmu nyaris bebas cemburu …”

Ekspresi wajahnya berubah heran. Tubuhnya jadi diam kaku seperti tembok. Senyum santainya terpeleset dari wajahnya dan jatuh menjauh entah ke jurang mana. Ia sepertinya sudah tahu kalau guru meditasi berkata sambil tertawa biasanya penuh makna.

“Ma … mak … maksud guru apa?”, dia tergagap bingung.

“Ap … apa yang guru maksud “nyaris bebas cemburu”?”.

“Guru … Sudah lama saya sebenarnya merasa hubungan pernikahan saya dipenuhi rasa cemburu. Tapi malu untuk berusaha mencari tahu bagaimana caranya biar tidak cemburu. Bagaimana supaya saya ini tidak lagi terus-terusan cemburu?”

“Kamu benar-benar ingin tahu caranya?”, tanya guru itu untuk memastikan niatnya.

“Iya, mohon guru.”

Lalu guru itu memperlihatkan telunjuk tangan kanannya. Perlahan dia mengarahkan telunjuknya itu ke tengah dadanya. Lantas, diiringi dengan senyum ketenangan seseorang yang tekun berlatih meditasi, dia beberapa kali mengarahkan telunjuknya ke tengah dadanya. Semua anggota kelompok, termasuk saya dan teman saya, kebingungan tidak memahaminya, dan masih saja guru itu mengarahkan telunjuknya ke tengah dadanya. Ketika keheningan sejenak telah menemani, barulah dia berhenti.

Teman saya terperanjat. Ia menjadi semakin tidak menemukan cara memadamkan api cemburu. Cerita dan pertanyaannya seolah jadi percuma. Rasanya dia ingin memarahi guru itu, namun guru pembimbing hanya tersenyum sambil melihat sekeliling untuk menikmati muka bingung murid-muridnya. Lalu, dengan sebuah nada suara yang menenangkan gundah, dia berkata ramah kepada kami semua, “Saat cemburu, langkah penting untuk memadamkannya adalah dengan melangkah ke dalam diri … memeriksa ke dalam diri …”

Cemburu tidak mudah dikendalikan. Seolah cemburu muncul begitu saja. Tidak ingin cemburu, tapi toh cemburu juga. Cemburu kepada saudara karena ia lebih sukses. Cemburu kepada suami, istri atau pacar karena ia digoda orang lain. Cemburu kepada teman maupun sahabat karena ia lebih cantik atau tampan.

Cemburu punya daya mengikis hubungan cinta. Cemburu dengan takaran yang pas adalah wajar. Tapi kalau berlebihan maka melahirkan kebutuhan semu untuk sepenuhnya menguasai pasangan. Alhasil berbuah pertengkaran yang sia-sia, dan saling menderita.

Saat bermasalah karena cemburu, daripada hanya berusaha mengusir rasa cemburu, yang lebih penting adalah memeriksa ke dalam diri dan menemui pangkal dari cemburu, biasanya itu perasaan tidak aman (insecure). Perasaan tidak aman ini bisa berkaitan kenangan masa kecil atau hubungan cinta masa lalu yang meninggalkan luka.

Sementara rasakan manfaat baik dari tulisan ini maka silakan dibagikan sekarang.

Terima kasih.

Kuasai cara sederhana Memperbaiki dan Mempererat Hubungan Cinta

untuk menciptakan kebahagiaan bersama

dengan mudah, perlahan, dan kesadaran penuh.

Penasaran ingin ikut sekarang Sesi ‪#‎LoveOutLoud klik: Sesi Love Out Loud


Originally published at adjiesilarus.com.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Adjie Silarus’s story.