Pengakuan Seorang Atasan Perusahaan

Sebelum mengurangi kegiatan yang mengharuskan saya hampir setiap hari bepergian ke luar rumah, dulunya saya sering menemui orang-orang yang mengajak saya bertatap muka, dari yang meminta saran serius dari saya sampai yang tujuannya sekadar menghabiskan waktu dengan obrolan tak tentu arah. Saya masih ingat, bahkan ada beberapa yang saya catat, mengenai pengalaman bertemu dan mendengarkan cerita ini, karena bisa saya pakai sebagai pengingat sederhana seandainya saya sendiri sampai harus mengalami tantangan serupa.

Di awal saya terkejut dan terkesan akan bertambahnya orang yang meminta bertemu dengan saya dan seolah saya mampu memberi saran yang tepat sebagai bekal untuk melalui tantangan yang sedang mereka alami. Padahal saya pun masih belajar untuk melangkah. Cukup banyak pertemuan dengan salah satu saran yang saya berikan adalah berlatih meditasi. Meskipun sering saya menyarankan untuk berlatih meditasi. rupanya tak semuanya punya niat untuk berlatih meditasi. Suatu waktu, pada sebuah pertemuan dengan seorang atasan di sebuah perusahaan besar, saya penasaran untuk bertanya,

“Kalau berlatih meditasi adalah jalan keluar yang tepat untuk tantangan yang sedang kamu hadapi.” tanya saya, “apakah kamu mau melakukannya?”

“Mau … tapi saya tidak punya waktu untuk melakukannya.”, jawabnya.

Sekarang saya tahu mengapa tak semuanya yang saya sarankan untuk berlatih meditasi benar-benar melakukannya. Rupanya mereka menginginkan ketenangan dan kebahagiaan, mau berlatih meditasi, tapi merasa tidak punya waktu untuk melakukannya.

Saya bilang kepadanya bahwa hal itu tidaklah mustahil, namun itu memang perlu niat yang kuat, dan itu pun butuh pengulangan latihan yang tidak sekejap langsung bisa. Pada kesempatan berikutnya, saya bertemu lagi dengan orang lain yang mempunyai jabatan pekerjaan serupa. Berlatih meditasi adalah salah satu saran yang saya berikan. Ia mengangguk setuju, karena ternyata dengan latihan meditasi, ia mendapatkan waktu tambahan untuk tidur.

Setelah beberapa tahun membuka diri untuk melayani konsultasi personal, saya jadi mengenal beberapa orang dengan akrab. Salah satu hal yang saya temukan adalah seorang atasan perusahaan yang terbiasa mengharuskan ini dan itu karena tuntutan pekerjaan di kantor, mengaku merasa bersalah karena kebiasaan itu ia bawa dalam kehidupan keluarganya. Ia merasakannya sepanjang hari, dalam aliran darah yang tak mengenal berhenti. Ia hanya menceritakan hal ini kepada teman dekat saja, orang yang bisa ia percaya, walaupun untuk sejenak saja. Ia akan membuka diri dan mengungkapkan rasa bersalah karena menuntut yang kelewat batas. Di depan banyak orang, ia menampilkan sikap yang tegas khas bos. Saya menjadi diingatkan untuk tidak berlebihan menuntut.

“Orang tua saya seharusnya mengizinkan saya mengejar impian. Istri saya seharusnya memberikan penghargaan atas kerja keras saya. Suami saya seharusnya rajin bekerja, bukan malah terus malas-malasan. Anak saya seharusnya jadi murid yang paling pintar di sekolah.” Dan contoh seharusnya-seharusnya yang lain … Seringkali terjadi, kita menuntut dan mengharuskan orang lain begini dan begitu.

Mempunyai beberapa permintaan adalah wajar, misal meminta pasangan hidup untuk setia, meminta anak untuk bersikap sopan, dan sebagainya. Tapi tanpa disadari, permintaan itu malah melambung terlalu tinggi, hingga yang terjadi adalah menuntut kesempurnaan. Bahkan seseorang pun tak bisa mengharuskan pasangannya untuk selalu memikirkannya. Pasti pasangannya berhak memikirkan dirinya sendiri dan yang lainnya ‘kan?

Siapapun bukanlah manusia yang sempurna. Toh tak ada manusia yang sempurna. Tuntutan yang kelewat batas akan melahirkan kekecewaan, juga kemarahan.

Menyembuhkan diri yang selalu menuntut ini dan itu adalah dengan mengurangi menuntut dan menambah menuntun, saling bergandengan tangan, melangkah seperjalanan hidup. Memberikan kesempatan kepada orang lain untuk menjadi dirinya sendiri, dan menerimanya, serta mencintainya apa adanya.

Sementara rasakan manfaat baik dari tulisan ini maka silakan dibagikan sekarang.

Terima kasih.

Jika ingin baca tulisan-tulisan saya yang lain, dipersilakan ke: Archives

#LoveOutLoud

HADIAH untuk kamu yang sudah baca tulisan saya ini. Download GRATIS karya saya di: Gift

Originally published at adjiesilarus.com.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Adjie Silarus’s story.