Seolah-olah Hidup
Ada saatnya saya merasa apapun yang saya alami lekas berlalu begitu saja … kadang-kadang pengalaman adalah selingan kehidupan.
Pada suatu pagi, saya duduk di tepi tempat tidur untuk bernegosisasi dengan rasa malas. Kemalasan tak mau bergegas pergi. Ia seolah telah begitu nyaman singgah.
Suara rintik hujan, udara sejuk dan aroma air hujan, sekejap menggiring pikiran saya mengenang hari kemarin yang dipenuhi penyesalan, bersamaan dengan berandai-andai hari esok yang diiringi kecemasan. Seolah ini adalah cara produktif yang harus saya pilih, seolah ini adalah usaha untuk menciptakan jalan keluar atas segala masalah yang sedang saya hadapi, atau upaya untuk mencari celah menuju hidup yang bahagia.
Ironisnya, kebiasaan seperti ini malah menjadi salah satu masalah terbesar buat saya. Kebiasaan ini menyajikan ilusi bahwa segala sesuatunya bisa saya kendalikan, hingga saya bersedia menguras energi untuk melakukannya. Padahal energi itu sebenarnya bisa saya gunakan untuk menikmati pengalaman-pengalaman yang tersaji di depan mata saya, pada masa sekarang, saat ini, di sini-kini.
Saya berdiri dan berjalan perlahan meninggalkan tempat tidur untuk melakukan rutinitas pagi. Saya bertanya pada diri sendiri, “Apakah saya sudah hidup?”
Saat tidak sadar penuh, hadir utuh — hanya berada di sini-kini, saya tetap hidup, tapi sebenernya hanya seolah-olah hidup. Sampai pada waktunya tersadar, dengan cara seperti itu, saya tak punya kesempatan untuk benar-benar hidup.
Saya harus memilih untuk benar-benar hidup di waktu yang ada, bukan hanya seolah-olah hidup.
Banyak dari kita yang memahami ini secara logika. Kita tahu, hidup hanya berlangsung pada masa kini, bukan masa lalu, maupun masa depan. Dan akhirnya pun, waktu seolah tak tahu diri. Ia akan terus bergerak tanpa kompromi.
Kita tahu, orang-orang yang kita cintai, tak terkecuali, tak akan selamanya di sini menemani. Dan karenanya, masa kini adalah waktu yang memberi kita peluang untuk mensyukuri kehadiran mereka, menikmati bermacam peristiwa bersama mereka, merayakan kehidupan dengan sekadar memeluk mereka.
Kita pun menjadi tahu, segala tantangan yang menghadang di jalan menjadi sangat kecil dibandingkan rancangan maha megah atas keindahan hidup ini.
“Apakah saya sekarang lebih hidup daripada beberapa waktu yang lalu?”, saya bertanya, penasaran. Saya tidak menjawab langsung. Tapi saya memahami maksud pertanyaan itu. Saya melontarkan pertanyaan lain: “Banyak orang berkata, kalau kita senang, berani, tenang atau nyaman, kita akan merasa benar-benar hidup dan berlimpah rasa bahagia. Apakah benar seperti itu?”. Saya menganggukkan kepala dan tak tahu harus bergumam apa.
Lagi-lagi, saya mudah lupa akan keindahan hidup ini, terutama di kala merasa kewalahan, frustrasi, sedih atau takut. Sebanyak apapun pengetahuan yang saya peroleh, saya masih terus belajar untuk sadar. Ini adalah bagian pembelajaran untuk saya menjadi manusia.
Yang bisa saya lakukan hanyalah meluangkan waktu, walaupun sejenak, setiap hari, untuk tekun berlatih sadar penuh, hadir utuh, hanya berada di sini-kini. Hingga saya menyadari, kesederhanaan dapat membuahkan perubahan yang megah.
Sudahkah kamu hidup?
Dengan menerapkan seluruh inspirasi dari cerita-cerita pada ebook Sadar Penuh Hadir Utuh, maka dengan mudah kamu dapat menciptakan rasa bahagia hanya dengan diam dan melatih pikiran. HADIAH untuk kamu yang sudah baca tulisan saya ini: Download GRATIS ebook Sadar Penuh Hadir Utuh dengan klik → Latih pikiran untuk hidup bahagia
Originally published at adjiesilarus.com.