Surat 1000 Hari

Saya menulis ini sambil ditemani alunan piano dari Yiruma — Moonlight. Dipersilakan jika mau baca tulisan ini sambil dengarkan.

Surat untuk ayah saya yang sudah beralih melanjutkan kehidupannya 1000 hari yang lalu …

Saya memanggilnya Momo. Waktu kecil saya pikir karena saya memanggil ibu saya dengan sebutan mama, maka saya memanggil ayah saya, momo. Mama dan momo. Hanya sesederhana itu pola pikir saya atau juga itu merupakan kebodohan masa kecil saya. Tapi ternyata seiring bertambah usia, saya menjadi tahu bahwa momo dari kata bahasa Jawa, “romo”, yang berarti ayah.

Momo,
 apa kabar?

Aku menulis ini, sembari membayangkan seperti apa kehidupan momo sekarang ini …
 yang momo lihat dan rasakan entah di mana … semoga baik dan indah adanya ya …

Aku memanjatkan doa buat momo …

Momo yang berbadan besar
 Momo yang rambutnya rapi dan kulitnya bertato
 Momo yang tak setiap hari bertemuku
 tapi kadang menggendongku dan mengajakku naik kuda.

yang memangkuku duduk waktu TK bersama rasa takutku dan maluku untuk sekolah dan bermain drama
 yang beliin kaos
 yang tersenyum padahal risih melihatku berambut panjang tak beraturan apalagi saat rambutku ku cat warna
 hingga beberapa kali menghadiahiku sisir
 yang sering menyuruhku ngegym, biar badanku tegap dan kekar
 yang beliin aku berbagai suplemen fitness
 yang ngasih aku lauk pas mau makan siang di rumah
 yang nengokin aku kuliah, malam-malam ke Yogya bersama beberapa teman
 yang berfoto bersama di teras rumah (sekarang rumah sepi)
 yang selalu ketawa lihat mukaku sebagai anak bungsu
 yang suka melihatku dari kejauhan
 yang suka menanyakan kabarku tanpa bertanya langsung ke aku
 yang kadang mengajakku makan malam bersama di daerah sriwedari
 dan pernah selesai makan tidak bayar, langsung pulang, kita tertawa geli (ternyata momo hanya pura-pura, hanya supaya kita tertawa)
 yang sering memanggilku tapi tak kuhiraukan
 yang tiba-tiba membuka pintu, masuk rumah, dan mencariku dengan suara lantang
 yang suka Elvis Presley
 yang dulu setelah punya hp lalu menelponku (meskipun kadang tak dengar suaraku) dan mengirim sms
 yang punya kuda
 yang suka motor gede
 yang memberiku pesan, “dadi wong lanang kuwi kudu wani tanggung jawab.” — “jadi seorang lelaki itu harus berani tanggung jawab.”
 yang berbicara berdua bersamaku di meja makan dan kita tertawa, karena momo salah dengar antara brokoli dan Jokowi
 yang dilarikan ke Rumah Sakit PKU
 yang musti dirawat di ICU
 yang tidak mampu meninggalkan kata-kata terakhir karena pendarahan otak
 yang memberiku kesempatan untuk menemanimu menghembuskan napas terakhir,
 tangan kami bergenggaman dan mataku memandangmu haru, terucap dari bibir kakuku, “sembah nuwun, momo …” — “terima kasih, momo …”
 yang sekarang masih hidup di setiap tarikan dan hembusan napasku
 yang sekarang jadi penenangku

terima kasih, momo …
 cinta dan kasih untuk mama juga, yang masih tangguh jadi lenteraku di sini.
 bersama Indri, mas Adit dan Terry, mba Ayu
 Devan dan Raphael (cucu momo yang sempat momo rangkul bangga foto bareng)

sendu senja ini untuk kerinduanku
 mata yang sesekali berkaca ini untuk mengenang momo
 aku tak bisa menahan aliran air perlahan membasahi tepi mata hingga mengalir di pipi
 sebagai rasa syukur yang membuncah akan kehidupan yang indah kulalui selama ini, hingga kini

untuk momo yang sampai saat ini mengajariku untuk setia dan juga menjagaku untuk selalu bahagia

selamat hari ayah, momo … aku kangen.

Dengan menerapkan seluruh inspirasi dari cerita-cerita pada ebook Sadar Penuh Hadir Utuh, maka dengan mudah kamu dapat menciptakan rasa bahagia hanya dengan diam dan melatih pikiran. HADIAH untuk kamu yang sudah baca tulisan saya ini: Download GRATIS ebook Sadar Penuh Hadir Utuh dengan klik → Latih pikiran untuk hidup bahagia

Originally published at adjiesilarus.com.