Takut Ketinggalan
“Takut ketinggalan zaman malah membuat lebih lamban.”
Kunci untuk mendapatkan kembali kendali atas waktu, kreativitas, produktivitas, juga kebahagiaan saya adalah dengan tak lagi punya salah satu ketakutan yang sudah mendarah daging, yaitu takut ketinggalan zaman, takut tidak up to date atau takut tidak kekinian.
Saya pernah merasa, sekeras apapun saya berusaha, sebanyak apapun saya punya kawan, sejauh apapun saya memaksa diri untuk datang di setiap acara, di mana semua orang berkumpul (kenyataan yang terjadi bukan semua orang, hanya banyak orang), tetap saja ada hal-hal yang saya tidak ketahui. Saya tetap ketinggalan informasi, tak akan mampu mengikuti semua kabar yang tersebar.
Mungkin ketika berada di sebuah pertemuan dengan seorang kawan atau di suatu acara, lalu melihat linimasa melalui akun media sosial, tetiba saya mengetahui kabar sebuah acara lain yang ingin saya ikuti atau bahkan saya butuhkan di waktu yang bersamaan pada saat itu juga.
Perasaan seperti ini ternyata akrab juga dengan kawan-kawan saya, mungkin termasuk kamu. Dan semakin banyak yang mengalaminya.
Takut ketinggalan merupakan masalah kemanusiaan dan semakin menjadi semacam wabah di budaya sekarang. Beberapa berpendapat bahwa ini karena media sosial. Ada juga yang berasumsi, karena laju hidup yang terlalu cepat dan semakin cepat, serta gaya hidup yang terlalu tergantung pada teknologi.
Juga ada yang berkata, inilah cacat karakter yang dipunyai generasi mendatang.
Saya tidak terlalu mempermasalahkan apapun penyebab “takut ketinggalan” ini, tapi ada satu hal yang tidak bisa disangkal, yaitu takut ketinggalan berdampak pada kehidupan saya, di beberapa bidang yang benar-benar penting. Beberapa di antaranya, mempengaruhi saya dalam berkarya, berinteraksi dengan kawan-kawan, menjalin hubungan dengan orang-orang yang saya cinta, di keluarga, juga dalam hubungan dengan diri saya sendiri serta kesehatan, terutama kesehatan pikiran.
Seolah bertentangan dengan anggapan selama ini bahwa perasaan takut ketinggalan dapat memompa semangat saya untuk berusaha lebih giat, bergerak lebih cepat dan berjuang lebih keras untuk meraih lebih banyak lagi. Tetapi penelitian telah membuktikan, takut ketinggalan benar-benar mempunyai efek yang sebaliknya. Takut ketinggalan zaman malah membuat saya lebih lamban. Takut tidak up to date malah membatasi kemampuan saya untuk benar-benar sadar penuh hadir utuh bersama dengan apapun yang sedang saya lakukan saat ini, di sini-kini. Takut tidak kekinian malah jadi penghalang buat saya untuk menghasilkan karya berdasarkan keseluruhan daya cipta, rasa dan karsa yang sudah saya punya sebagai manusia.
Jadi saya bertanya kepada diri saya sendiri, “Bagaimana caranya supaya saya punya keberanian untuk ketinggalan?”
Dengan menerapkan seluruh inspirasi dari cerita-cerita pada ebook Sadar Penuh Hadir Utuh, maka dengan mudah kamu dapat menciptakan rasa bahagia hanya dengan diam dan melatih pikiran. HADIAH untuk kamu yang sudah baca tulisan saya ini: Download GRATIS ebook Sadar Penuh Hadir Utuh dengan klik → Latih pikiran untuk hidup bahagia
Originally published at adjiesilarus.com.