Tidak Berlebihan Merayakan Pujian
Cerita berikut ini adalah salah satu cerita yang selaras dengan filosofi rendah hati.
Sementara saya tahu menyombongkan diri bukanlah cara yang baik untuk menjalani hidup, di tengah hujatan yang ada, saya merasa saya juga mendapatkan godaan-godaan untuk mendongakkan kepala dan menepuk dada. Baik ucapan terima kasih yang diberikan kepada saya dari pembaca-pembaca tulisan di blog saya dan kedua buku karya saya, maupun dari peserta-peserta yang sudah mau ikut sesi latihan bersama saya. Pujian yang saya terima atas dasar manfaat-manfaat baik yang mereka rasakan.
Di suatu waktu, saya benar-benar menikmatinya, senang mendapatkannya, sebagai apresiasi terhadap jerih payah saya selama menciptakan karya dengan harapan dapat memberikan manfaat yang berarti buat banyak orang. Tetapi cerita berikut ini adalah inspirasi saya untuk tidak berlebihan merayakan pujian, tidak menyombongkan diri, menyikapi keberhasilan sewajarnya saja dan selalu ingat untuk rendah hati.
Seorang guru memanah di suatu sekolah dikenal juga sebagai guru kebijaksanaan hidup. Suatu hari, salah satu murid berbakatnya berhasil menyabet semua medali emas di pertandingan tingkat nasional. Semua orang memberikan ucapan selamat kepadanya. Pujian bertubi-tubi dilayangkan untuknya, tak lupa juga untuk gurunya. Guru itu seolah tidak merayakan kemenangan muridnya, bahkan raut mukanya biasa saja. Selang beberapa saat, ketika muridnya bertanya mengapa beliau bersikap seperti itu, guru itu menjawab, “Kamu belum belajar bahwa suatu target bukanlah target yang sebenarnya.”
Dengan menerapkan seluruh inspirasi dari cerita-cerita pada ebook Sadar Penuh Hadir Utuh, maka dengan mudah kamu dapat menciptakan rasa bahagia hanya dengan diam dan melatih pikiran. HADIAH untuk kamu yang sudah baca tulisan saya ini: Download GRATIS ebook Sadar Penuh Hadir Utuh dengan klik → Latih pikiran untuk hidup bahagia
Originally published at adjiesilarus.com.