Untuk Apa Membalas Marah

Ada yang bilang buku-buku saya sampah, bahkan ada yang menyampaikan di media sosial, buku-buku saya mau dibakar. Dan juga ada yang berkata sesi latihan bersama saya tidak layak untuk diikuti, bahkan ada yang menyebarkan pesan kepada semua orang yang ia kenal agar tidak ikut sesi saya karena sesi saya menyesatkan.

Seorang kawan tanya, bagaimana saya menanggapi komentar-komentar seperti itu.

Pertama, saya percaya selera masing-masing orang tidak sama. Jadi dia berhak berpendapat begitu. Dan saya memang sama sekali tidak berusaha menyamakan perbedaan gagasan. Keindahan ada karena perbedaan.

Kedua, buku-buku dan sesi-sesi saya hanyalah sebagian sangat kecil dari diri saya, hanya secuil dari diri saya, bukan diri saya secara utuh. Bagian sangat kecil inilah yang diterimanya hingga membentuk asumsi dalam pikirannya mengenai saya.

Jadi asumsi yang terbentuk dalam pikirannya hanya berdasarkan bagian sangat kecil dari diri saya. Dan pembentukan asumsi dalam pikirannya ini pun secara alami mengalami distorsi, bias. Sehingga asumsinya mengenai saya bukanlah diri saya secara utuh. Asumsinya sama sekali tak punya hak untuk mewakili diri saya secara utuh. Apalagi kalau ia ternyata tidak pernah baca buku saya secara utuh, tidak pernah ikut sesi saya dan tidak benar-benar mengenal dekat saya. Bagaimana ia bisa memberikan penilaian seperti itu? Dan bagaimana ia bisa menganggap penilaiannya terhadap saya adalah benar adanya?

Ketika ia berkomentar seperti itu, sebenarnya yang terjadi adalah ia memberikan penilaian dan marah kepada asumsinya sendiri mengenai saya, sekali lagi, bukan marah kepada diri saya secara utuh. Sehingga untuk apa saya membalas kemarahannya?

Ketiga, saya percaya setiap kita berubah. saya berubah, dia pun berubah. Komentar itu dilontarkan dulu, masa lalu, beberapa waktu yang lalu, beberapa bulan, minggu, hari, jam, menit, detik yang lalu. Sudah berlalu. Sehingga saat ini, di sini-kini, sekarang, tak lagi ada, sudah berubah. Dirinya yang dulu marah pun mungkin sudah tidak ada sekarang. Karenanya saya tak marah kepadanya.

Begitu pun saya. Saya yang ia marahi, ia beri komentar-komentar bernada benci pun tak lagi ada, sudah berubah, karena itu masa lalu, sudah berlalu. Bahkan saya yang menulis buku-buku itu dan berbagi di bebagai sesi pelatihan merupakan bagian masa lalu, juga tak lagi ada, sudah berubah.

Kebenaran masa lalu bukanlah kebenaran saat ini. Dan kebenaran saat ini bukanlah berarti kebenaran saat nanti. Tulisan-tulisan saya dan segala yang saya bagikan di sesi pelatihan saya belum tentu selalu dan selamanya benar. Saya hanya terus belajar, belajar, dan belajar … termasuk belajar untuk tidak merasa paling benar.

Dengan menerapkan seluruh inspirasi dari cerita-cerita pada ebook Sadar Penuh Hadir Utuh, maka dengan mudah kamu dapat menciptakan rasa bahagia hanya dengan diam dan melatih pikiran. HADIAH untuk kamu yang sudah baca tulisan saya ini: Download GRATIS ebook Sadar Penuh Hadir Utuh dengan klik → Latih pikiran untuk hidup bahagia

Originally published at adjiesilarus.com.