Waktu Bersama

Beberapa tahun yang lalu, saya berkenalan dengan dua orang, Santoso dan Putra. Mereka yang tidak saling mengenal ini punya latar belakang kurang lebih sama, sudah berkeluarga, pekerja kantoran, memangku jabatan cukup penting dalam struktur organisasi, sehingga arus pekerjaan yang harus diselesaikan seolah tiada henti. Pertemanan ini terjalin cukup lama sehingga keakraban terjadi. Akan tetapi ada perbedaan di antara kedua teman saya ini.

“Weekend ini kamu acara apa, San?”, tanya saya di sela obrolan kami.

“Nonton konser musik anakku, Djie. Dia ujian kenaikan tingkat kursus musiknya. Paling lanjut acara santai sama keluarga.”

Lain dengan Putra. Saya bertemu beberapa waktu lalu, saat jam istirahat makan siang.

“Putra, weekend ini acara ke mana?”

“Ada urusan kerjaan, Djie. Masih banyak yang harus kuselesaikan”, jawabnya sambil menghadap ke layar laptop untuk menyusun rencana pemasaran produk baru yang diluncurkan perusahaannya belum lama ini.

Kemudian saya bertanya, “Sabtu dan Minggu?”

“Iya”, sahutnya singkat.

Pada kenyataannya, kedua teman ini memiliki tingkat kesibukan kerja yang mirip, bahkan kalau ditilik lebih cermat, pekerjaan Santoso lebih banyak. Tetapi ia berupaya meluangkan waktu bersama keluarganya. Kalau tidak bisa setiap hari, paling tidak salah satu hari di akhir pekan, ia berusaha mewujudkan kebersamaan keluarga secara nyata. Beberapa kesempatan sederhana ia gunakan sebaik mungkin untuk bertemu keluarga. Sementara Putra selalu merasa pekerjaannya belum selesai dan terus dikejar-kejar untuk segera merampungkannya. Bahkan waktu yang bisa ia nikmati bersama keluarga pun ia korbankan, ia seolah tidak punya kendali. Sepanjang tahun, musim sudah berganti berulang kali, keadaan ini terus bertahan. Lalu tibalah akibat yang harus dituai.

Akibatnya membuat merinding, tetapi tidak membuat saya kaget. Putra bersama istrinya mengajak saya bertemu, menceritakan kerikil-kerikil, juga batu besar yang membuat mereka tersandung di tengah perjalanan pernikahan mereka, bahkan salah satu pihak sudah berniat bercerai. Dan meminta saya memberi saran. Pada kenyataannya, akibat ini wajar karena dulunya mereka sangat jarang punya waktu bersama. Mereka masing-masing tenggelam dalam kesibukan kerja. Dan Santoso, walaupun tanggungan pekerjaannya lebih banyak, ia tetap meluangkan waktu bersama keluarga. Malahan saya mendengar kabar, ia ditawari jabatan yang lebih tinggi karena prestasi yang berhasil ia raih.

Di tengah semakin meningkat kesibukan dan semakin sengit persaingan, orang-orang yang terjalin dalam sebuah hubungan menjadi tak punya waktu untuk bersama hanya menikmati detik yang terus melaju. Bahkan hanya untuk bertemu saja ada yang sampai tak sempat. Orang tua yang sudah lama tidak bercanda bersama anak-anaknya, kakak-adik yang seringnya hanya bertemu dengan bantuan teknologi, suami-istri yang serumah tapi terasa tidak serumah karena sangat jarang duduk berdua. Semakin lama tak bertemu dan tak punya waktu untuk bersama, maka hubungan akan lebih mudah meregang. Alhasil muncul niat untuk mengambil jalan perpisahan.

Kalau bertemunya harus ramai-ramai, bersama orang lain, itu baik, tapi lebih baik lagi kalau meluangkan waktu bertemunya hanya bersama orang-orang dalam hubungan inti. Misal, hubungan keluarga, maka sediakan waktu hanya bersama keluarga saja.

Selama suatu hubungan dianggap penting, akan ada saling upaya untuk meluangkan waktu bersama dan akan selalu ada cara untuk mewujudkannya.

Toh kebersamaan tak harus dengan kemewahan, malah acapkali bisa lebih bermakna berhias kesederhanaan.

Saat bertemu, menikmati bersama detik waktu yang terus melaju, berupaya untuk benar-benar hadir utuh. Bukan hanya bersama secara raga, tapi pikiran pun terajut menjadi satu.

Untuk Pre-Order Buku tentang Memperbaiki dan Mempererat Hubungan Cinta — “Love Out Loud”, Klik sekarang: Books

Untuk Ikut Sesi Memperbaiki dan Mempererat Hubungan Cinta — Sesi Hening 8 jam: “Love Out Loud” Jakarta, Klik sekarang: Session

Sementara rasakan manfaat baik dari tulisan ini maka silakan dibagikan sekarang.

Terima kasih.

Jika ingin baca tulisan-tulisan saya yang lain, dipersilakan ke: Archives

#LoveOutLoud

Originally published at adjiesilarus.com.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Adjie Silarus’s story.