Berlalu (1)
“saat ini aku sedang dihadapka pada 2 pilihan, menunggu atau pergi berlalu? situasi dimana harus jeli untuk lebih mengikuti hati atau pikiran”
ada satu hal yang membuat aku memilih untuk pergi berlalu, adalah seseorang yang aku cinta, seseorang yang aku rindukan tiap harinya dan seseorang yang saat ini mengalihkan duniaku, membuatku berjuang untuknya. dengan merelakan segala yang aku pernah anggap sebuah pertemuan menjadi sebuah kehilangan yang percuma, karena tak sekali pun ada rasa yang demikian juga dirasa olehnya. tapi aku tau, kalau sebuah kehilangan adalah awal dari menemukan yang lainnya.
“Saat ini aku sedang menikmatimu dalam hening, menyakiti diriku dengan segala cara hingga aku yakin bahwa baik tidak selalu sama-sama”
mungkin ada kelegaan ketika aku melepasmu, tapi untuk melepasmu itu tak mudah tak semudah berpindah tempat duduk didalam bis. dan yang lebih sulit dari melepaskan adalah kembali mempercayai seseorang di kemudian hari, yang lebih sulit adalah akan bagaimana setelah melepasmu. ada kawah besar tercipta didalam dada, berairmata.
satu hal yang harus kamu mengerti, aku melepasmu bukan karena benci, atau tak ingin memilihmu. tapi, aku tak ingin membuat keputusan-keputusan permanen disaat yang belum seharusnya. tidak ada yang harus dihakimi cukup dipahami karena mungkin semua akan kembali.
“kita bagimu adalah ujung goresan ombak di pasir-pasir pantai. membekas, tapi lantas kandas dibelai ombak, ia hilang dicumbu buih yang sisanya hanya perih”
aku sangat berterima kasih pada semesta yang dengan segala cara mempertemukan kita. membuat aku dan kamu tidak lagi menganggap masing-masing sebagai asing. membuat namamu terpatri dalam ingatan, seperti akar yang menancap pada tanah. dipertemukan denganmu aku belajar banyak tentang penerimaan, bahwa menerimamu adalah salah satu bagian paling bermakna dalam perjalanan hidupku. bahwa untuk menggandeng tanganmu dan berjalan menuju arah yang sama, aku, hatiku, otakku, seluruhku harus menerima seluruhmu. dan aku tak lupa bahwa pertemuan merupakan bom waktu dari perpisahan, aku tak akan menyalahkan semesta jika akhirnya kita berjalan saling memunggungi.
semoga aku tidak keliru.