Yang Paling Kusuka dari Sendiri

Aku tidak mengatakan bahwa aku suka sendiri, menyendiri, ataupun kesendirian. Sejujurnya aku tak nyaman sendiri. Aku lebih suka sendiri bersama orang lain. Iya, memang sedikit paradoks. Tapi di titik itu aku sangat nyaman.

Hal yang paling menarik dari sendiri adalah tiadanya yang lain. Tiadanya yang lain untuk kau salahkan. Tiadanya yang lain untuk kau bergantung. Tiadanya yang lain selain diriku sendiri.

Ketika sendiri, aku tak bisa menyalahkan siapapun selain diriku sendiri. Ini adalah momen yang tepat untuk berkaca kembali, bahwa hanya diriku lah yang memang patut disalahkan atas apapun yang menurutku buruk.

Ketika sendiri, aku tak bisa bergantung pada siapapun. Dan ini menarik. Aku bisa melihat bahwa diriku yang kukira kuat, ternyata selemah itu. Aku masih bergantung pada yang lain ketika tak sendiri. Walaupun aku juga tak tahu pasti, apakah kebergantungan adalah pertanda dari kelemahan?

Sendiri memang menarik. Kamu bisa melihat banyak hal yang selama ini tersembunyi. Namun bagiku, sendiri memakan energi yang cukup banyak. Banyak hal yang akhirnya harus kusadari dan kuterima ketika sendiri. Dan menerimanya bukanlah sesuatu yang mudah. Ada dua pilihan ketika kamu memahami dirimu sendiri. Yang pertama, memahaminya sebagai kekalahan. Yang kedua, memahaminya sebagai tantangan.

A single golf clap? Or a long standing ovation?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.