Bacalah!

http://i.huffpost.com/gen/1546331/images/o-READ-BOOK-facebook.jpg

Buku, membaca buku, menebar semangat baca buku, jadi tema utama MATA NAJWA malam lalu. Kata salah satu narasumber, di Indonesia minat baca kurang bukan karena tak ada minat sama sekali, tapi Indonesia kekurangan buku-buku. Lantas ketidak tersediaan buku ini bukan menjadi masalah pemerintah saja, tiap orang punya tanggung jawab moral untuk menyediakan buku-buku. Inilah pandangan yang membawa Bapak Misbah (ingat bukan kak Misbah Maggading ya ) guru sekaligus kepala sekolah di Papua untuk menggerakkan guru lain berdonasi buku, mengakomodasi muridnya bacaan demi meningkatkan pengetahuan dasarnya.

Tidak berhenti sampai di situ, bersama relawan lainnya, Kaka ( anggaplah nama samaran, saya lupa namanya) misalnya, atlet angkat berat ini juga ikut dalam Noken Pustaka Papua ( Noken, ini head-bag, tas tradisional papua yang dipasang di kepala, tidak diselempang). Ia menghabisakan waktu 2 kali seminggu untuk membawa buku ke pelosok Papua.

Sepertinya tak perlu jauh-jauh ke Papua jika itu menyoal menebar virus baca. Beberapa kalian mungkin tahu, atau setidaknya pernah mendengar Becak Pustaka di Makassar, Perahu Pustaka di Mandar. itu hanya beberapa. Di Pangkep sendiri, menebar virus baca ini juga dilakukan oleh kakak relawan Pangkep Initiative melalui program pop-up library dan ngaBookRead ( plesetan ngabuburit) yang tiap pekan digelar di alun-alun kota Pangkajene. Bukan hanya itu, Passaraung juga ikut andil menebar semangat baca dengan menyajikan tulisan indah ( ingat tulisan indah yang saya maksud bukan tulisan bersambung ya) di laman www.saraung.com .

Bahkan passaraung berada satu level lebih tinggi, yakni “memaksa” ( baca : memotivasi ) orang pangkep menulis dan punya buku sendiri. sekedar info, www.saraung.com lewat rumah saraung telah menerbitkan buku “Catatan Nhany” milik kak Nhany Rachman Khan dan Kenali Pangkepmu, kumpulan tulisan saraung.com 2016.

Jika belum punya segera dapatkan di Toko Pelajar Pangkep. Nah, kalau kondisinya seperti ini, siapa lagi yang mau mengelak untuk tidak membaca? ya minimal membaca status panjang ini.

Soal baca-membaca, harus diakui, perpustakaan, rumah buku itu sendiri, masih amat sepi pengunjung. baik perpus sekolah, kampus maupun daerah. Satu-satunya yang mungkin ramai adalah perpus kampus. Itu pun jika jelang skripsi. Sampai sekarang pun saya masih ragu, apakah kumpulan puisi saya bersama penyair Indonesia “Puisi Menolak Korupsi” & “Memo untuk Presiden” pernah sekalipun terbaca?. Mungkin buku itu kesepian di rak perpustakaan SMA Negeri 1 Bungoro. Jika kalian sering “kongkow” di Taman Musafir, pasti taulah jika sekarang sudah ada taman baca di sana, walau terakhir kali saya lewat, lebih banyak produk konsumsi perut ketimbang bacaan. Tapi saya tak perlu berburuk sangka, bisa saja ada menu bacaan enak di sana.

Membangun tempat membaca mungkin sudah maksimal, kini tinggal bagaimana yang hobi bacanya sudah tingkat “dewa” mau mengajak atau bahkan memaksa pembaca “awam” untuk membaca. Apalagi pada bulan ramadan ini. Bulan yang cukup baik untuk membaca. Bagi saya, hal yang paling mantap untuk dibaca adalah “diri kita sendiri”, selain kitab Suci dan buku tata cara nikah. Bacalah!

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.