Kau takkan melihat emas di atas tumpukan pasir.

Sedikitpun tak ada terlintas di benakku. Bahwa kau mampu mengatakan kata itu sangat mudah, Lembut di telingaku. Ya! Aku cukup kecewa.

Aku pernah meminta hujan reda ketika ku ingin tenang, aku pun pernah meminta hujan agar datang saat aku menangis. Aku selalu menyalahkan hujan jika aku tersendu diruangan ini. Sesungguhnya hujan mengajarkanku banyak hal tenatang mu. Tentang mu yang tak kunjung pulang. Yang sepertinya tak punya rumah. Atau kau memiliki rumah yang lain?. Aku tak pernah lelah menunggumu. Maaf. jika aku memaksamu untuk berteduh di rumahku. Maaf, jika aku memaksamu agar tetap tinggal di sini. Maafkan aku.

Masih tetang harapanku terhadapmu Indra. berbaliklah. aku hanya pasir yang tak ternilai. dan sedangkan kau emas yang sangat di cintai banyak orang. Ya, jika aku emas, sepertinya kau juga tak kan mampu menerimaku. Aku emas yang terbuang. Aku semakin gila dengan kata-kata cinta, Dan sekarang aku semakin suka membaca tetang tubuhmu. tentang hembusan nafasmu yang hangat. Tentang masalalumu, yang tak kunjung kau lupakan.

Pernahkah kau tau tangisku? yang tak berujung, tangis tentangmu. Ini memang terlihat bodoh di matamu. Namun tidak bagiku. Banyak harapku tentangmu. aku bahagia kau seperti itu. Aku bangga kau masih bisa seperti ini, bebaskan dirimu.

Aku akan mencintaimu tanpa banyak kata~

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.