Hal-hal yang Perlu Saya Pelajari

Salah satu hal paling buruk yang bisa saya miliki adalah-saya punya hal buruk lainnya juga. Tidak mudah menghapal nama orang lain dan setiap kali berpapasan, mereka selalu menyapa lebih dulu. Hal itu bisa semakin menumbuhkan asumsi bahwa, saya adalah orang yang menutup diri dari lingkungan sosial. Di kelas 10, dua semester berturut-turut, dengan dua guru bahasa Indonesia yang berbeda, mereka selalu menulis di rapot saya : coba dikurangi rasa cueknya terhadap lingkungan sekitar. Jangan sendiri terus. Dan seterusnya.

Mengenal banyak orang dan mengobrol kedengaran menyenangkan. Tapi diabaikan atau menyaksikan orang lain hanya menggaruk-garuk kepala saat mengobrol dengan saya juga menyebalkan dan menyedihkan. Hal ini membuat saya lebih banyak berbicara pada benda mati seperti buku harian yang bernama Joe dan ya, 80% barang-barang pribadi saya punya dialog. Misalnya pintu lemari yang enggan dibuka orang lain karena menyimpan banyal rahasia. Atau kucing hitam bernama Jiji yang selalu mengikut ke mana pun selain ke gedung sekolah. Saya bisa tahan tidak berbicara pada siapapun (kalau mereka juga enggan) kecuali dengan benda-benda yang dengan senang hati saya miliki. Bulan Maret lalu, Oggy, kawan saya yang banyak membantu mengerjakan tugas dan menyimpan kenangan SMA akhirnya meninggal. Beberapa perangkatnya rusak parah dan tidak bisa diperbaiki sama sekali. Tahun ini, saya harus mengumpulkan tabungan lebih lagi untuk mencari pengganti Oggy yang malang ini.

Dengan semua kenormalan yang saya sadari ganjil ini, orang-orang di sekitar saya tetaplah berharga. Mereka membantu saya banyak hal dan juga beberapa teman begitu baik karena rela membuang waktunya mendengarkan keganjilan-keganjilan yang juga kadang menyebalkan ini. Mengingat nama mereka yang rela menghabiskan sekian energi otot bagian wajah untuk senyum pada saya juga hal penting untuk saya lakukan. Mengingat nama jurusan mereka. Mengingat nama kampung halaman mereka. Dan tentu mengingat, mereka pernah berbuat baik pada saya.

Show your support

Clapping shows how much you appreciated Akrimah Azzahrah’s story.