M.A.T.I

Akrimah Azzahrah
Aug 22, 2017 · 2 min read

Beberapa pekan yang lalu salah satu paman dari pihak ayah saya meninggal. Ketika pertama kali tiba di rumah beliau, saya sama sekali tidak pernah menyangka hari ini akan tiba. Saya menyadari kematian akan tiba juga. Cepat atau lambat. Tapi melihat kondisinya yang sebelumnya penuh semangat untuk berubah (sekalipun sempat putus asa juga) saya tidak pernah sampai pada konsep soal, dia lebih baik meninggal daripada merasakan penderitaan berkepanjangan. Hampir semua orang menangis hari itu. Pakaian berwarna hitam ada di mana-mana. Mata yang basah dan berkabut. Sebagiannya lagi datang untuk memberi penguatan kepada yang ditinggalkan (tidakkah semua orang seharusnya merasa ditinggalkan?). Saya merenung saat itu. Mengapa rumah kita hanya akan ramai saat pesta dan kematian? dua hal yang bertolak belakang. Bahagia dan duka. Padahal dalam perjalanannya, kita mungkin lebih banyak merasakan keduanya. Mungkin karena manusia enggan merayakan hal-hal biasa yang justru menjadi jembatan menuju akhir hidup. Mengapa orang yang meninggal lebih banyak menerima pujian dan kunjungan lebih dari ketika mereka masih hidup? Kita memang selalu bertindak “sementara”. Saat dimakamkan, siapa yang rela menemani kita selain kita sendiri? Atau kalau saya harus lebih bijak lagi, selain bersama amal kita saja. Sementara ketika hidup kita mungkin merasa memiliki semuanya. Harta, keluarga, teman, ilmu, dan lain-lain. Bertahan hidup setengah mati untuk hal-hal tersebut. Dan saat mati kita justru berakhir dengan tangan kosong. Kedengaran klise. Tapi itulah adanya hidup kita. Lahir. Bertualang dengan kehidupan. Mencari penguat. Sampai di puncak. Jatuh. Bangun. Jatuh. Begitu seterusnya lalu mati. Saya sendiri lebih sering menganggap hidup saya monokrom. Tapi akhir hidup saya juga akan sama dengan manusia lainnya. Berakhir menjadi mayat. Teman-teman saya akan datang. Keluarga saya akan menangis. Barang-barang saya akan kesepian. Orang-orang akan berbicara, “Dia baik sekali waktu hidup” dan kalimat pujian lainnya yang sungguh jarang saya dengarkan. Sometimes the last part will be the kickest part. Tidak akan ada lagi kesempatan berikutnya karena kita semua punya giliran.

Tanggal 18 Agustus siang yang mendung, kepala sekolah pertama saya di SMA meninggal. Kabar itu baru sampai pada saya saat malam dan membuat saya bersedih. Sehari sebelumnya kakak kelas saya yang kebetulan kuliah di fakultas lain mengatakan bahwa beliau sedang sakit. Sejak dipindah tugaskan beliau memang sering keluar-masuk rumah sakit. Malam itu saya tidak tahu mengapa saya bersedih. Mungkin karena mengingat semua kisah-kisah yang beliau sampaikan selepas shalat subuh (yang waktu itu jujur justru membuat saya mengeluh karena jatah antrian mandi akan lebih lama) dan hal-hal yang beliau pernah sampaikan perihal guru yang sejujurnya selalu mendukung saya dari belakang sekalipun di depan saya tampak menyeramkan. Kalimat-kalimat beliau yang akhirnya membuat saya urung pindah sekolah. Dan hal-hal lainnya. Kita seringkali terlambat menyadari pentingnya sesuatu dan seseorang di bagian akhir.

Libur kemarin, hampir setiap subuh di masjid mengumumkan obituari. Mungkin ini memang akhir zaman? Kabar kematian datang dari berbagai penjuru. Entah kenapa baru kali ini saya baru benar-benar meresapi berita kematian. Tinggal tunggu giliran kapan nama kita akan diumumkan juga. Karena pada dasarnya kita semua sedang dalam antrian. Cepat atau lambat.

)
Akrimah Azzahrah

Written by

menulis rahasia yang pemalu