Dokumen Tanpa Judul

Azhar Muhammad Hasan
Nov 5 · 1 min read

Kami lahir semenjak raja membutuhkan tenaga.

Berlagak membuka ruang kerja bersama,

kita dibodohi lantaran alat produksi dimiliki oleh segelintir penguasa.

Kami lahir semenjak raja memaksa bekerja tanpa istirahat.

Berdiri di bawah mesih-mesin pembual,

Memforsir diri atas ketakutan,

Untuk mereka yang mencukupi pasar.

Kami lahir semenjak raja berusaha merampas tanah

Berlagak membangun dinding di taman-taman bunga

Alih-alih kemegahan, menjadi hantu yang menerka-nerka

Kita terlahir di dunia adalah hasil dari genosida.

Ilmu dibunuh; pengetahuan di tabukan; dan wajah realitas semakin dilanggengkan.

Buku-buku yang kita baca hanyalah sebatas sampah-sampah yang mengambang di otak kita.

Pemahaman atas sebuah keutopisan ditelan banal-banal hingga melahirkan ejakulasi yang gagal total.

Nada-nada eksotisme membuat cita-cita hanya sebatas bayang-bayang hitam.

Perbudakkan akan keniscayaan selalu menjadi pemenang dalam seluruh kontestasi.

Hari ini

Kita lahir sebagai pecundang yang congkak atas dalih-dalih surgawi.

Harapan akan dunia yang chaos, semakin diagung-agungkan.

Kita ditelanjangi oleh teori-teori kemapanan.

Bersenggama dengan realitas tak akan membuat kita berdiri di atas kedua kaki;

Justru kita menuhankan impunitas

Derajat kita lebih kecil daripada debu-debu kosmik yang menempel pada paru-paru kemunafikkan.

Hari esok

Malik akan menyiksa kita. Dicambuk, dicincang, hingga dipasung.

Dan kita, masih saja merasakan klimaks yang nikmat.

Karena kita semua adalah masokis

Dan mereka adalah kanker yang menempel di dinding-dinding kemenangan.

Trunojoyo marah

Ken Arok marah

Kidung Ranggalawe marah

Nambi marah

Lembu Sora marah

Kuti marah

Kami semua marah!

Jika Louis masih saja tertawa

Jika Marrie masih saja tak percaya

dengan apa yang menimpa kami

Maka, kami siapkan untukmu,

Pemberontakkan!

Yogyakarta

10 Oktober 2019

    Azhar Muhammad Hasan

    Written by

    Mohon ampun wahai ibu bumi.