Dokumen Tanpa Judul
Kami lahir semenjak raja membutuhkan tenaga.
Berlagak membuka ruang kerja bersama,
kita dibodohi lantaran alat produksi dimiliki oleh segelintir penguasa.
Kami lahir semenjak raja memaksa bekerja tanpa istirahat.
Berdiri di bawah mesih-mesin pembual,
Memforsir diri atas ketakutan,
Untuk mereka yang mencukupi pasar.
Kami lahir semenjak raja berusaha merampas tanah
Berlagak membangun dinding di taman-taman bunga
Alih-alih kemegahan, menjadi hantu yang menerka-nerka
Kita terlahir di dunia adalah hasil dari genosida.
Ilmu dibunuh; pengetahuan di tabukan; dan wajah realitas semakin dilanggengkan.
Buku-buku yang kita baca hanyalah sebatas sampah-sampah yang mengambang di otak kita.
Pemahaman atas sebuah keutopisan ditelan banal-banal hingga melahirkan ejakulasi yang gagal total.
Nada-nada eksotisme membuat cita-cita hanya sebatas bayang-bayang hitam.
Perbudakkan akan keniscayaan selalu menjadi pemenang dalam seluruh kontestasi.
Hari ini
Kita lahir sebagai pecundang yang congkak atas dalih-dalih surgawi.
Harapan akan dunia yang chaos, semakin diagung-agungkan.
Kita ditelanjangi oleh teori-teori kemapanan.
Bersenggama dengan realitas tak akan membuat kita berdiri di atas kedua kaki;
Justru kita menuhankan impunitas
Derajat kita lebih kecil daripada debu-debu kosmik yang menempel pada paru-paru kemunafikkan.
Hari esok
Malik akan menyiksa kita. Dicambuk, dicincang, hingga dipasung.
Dan kita, masih saja merasakan klimaks yang nikmat.
Karena kita semua adalah masokis
Dan mereka adalah kanker yang menempel di dinding-dinding kemenangan.
Trunojoyo marah
Ken Arok marah
Kidung Ranggalawe marah
Nambi marah
Lembu Sora marah
Kuti marah
Kami semua marah!
Jika Louis masih saja tertawa
Jika Marrie masih saja tak percaya
dengan apa yang menimpa kami
Maka, kami siapkan untukmu,
Pemberontakkan!
Yogyakarta
10 Oktober 2019
