Kepada Siapa?

Telah ku kirim secarik kertas untuk mempertanyakan kabarmu

Sedikit lega, walau kau tak ingi tauh tentang kondisi kita saat ini

Kepada angin aku bersiul, berharap tirani akan kalah

Manusia-manusia ber-oligarki akan musnah

Revolusi tak bisa dihindarkan

Reformasi terus bersuara

Hak-hak tak henti-hentinya berkumandang

Rezim-rezim tercipta

Siklus dimana tatanan dunia baru telah kembali terlihat

Kau tau, madam?

Kekayaan akan membutakanmu

Harta bendamu akan merusak nilai kemanusiaanmu

Semoga kau sedikit membagikan kepada kaum proletar

Hari berganti bulan

Selamanya manusia bukanlah suatu bualan

Bulan berganti tahun

Ilmu akan disalahgunakan dan terus menurun

Tahun berganti abad

Demi Gajah Mada sebagai pemicu perang Bubad

Kepada Adam sebagai moyang pertama manusia

Kepada Qobil yang telah membunuh Habil

Kepada keserakahan Bangsa Yahudi

Kepada Noah sang pembuat kapal

Kepada Perang Salib

Kepada Sultan Saladin yang telah mengalahkan Bizantium Timur

Kepada saracen yang sedang mengalami kemunduran

Kepada Revolusi Perancis

Kepada kebiadaban kaum borjuis

Kepada keabsolutan Raja Charles Perancis

Kepada Felice Orsin yang telah gagal membunuh Napoleon III

Kepada Revolusi Amerika

Kepada negara boneka Inggris

Kepada konstitusi kerajaan Insulinde

Kepada seluruh teori yang terdapat pada Buku Das Capitalis

Kepada Makelar di Pasar

Kepada Raden Wijaya sebagai pemerkasa Majapahit

Kepada seluruh ramalan Jayabaya

Kepada seluruh pemikiran Tan Malaka

Kepada kecintaan Max Weber terhadap alam

Kepada seluruh kitab suci

Kepada seluruh Tuhan di hati setiap manusia

Kepada perbedaan yang tersembunyi

Kepada kepercayaan takdir

Kepada orang-orang atheis

Kepada mitologi Yunani Kuno

Kepada wabah nasionalisme yang mewadahi korupsi

Kepada ilmu yang ada di dalam kepala setiap manusia

Kepada teori dosa sosial yang diajarkan Budha

Kepada seluruh filsafat Konfusius

Kepada hukum yang merupakan lawan dari hak

Kepada hukum yang menjadi kewajiban pada setiap orang

Kepada Sirus sebagai pusat sistem solar

Kepada puisi sebagai bahasa tertua

Kepada anak-anak, cerita fabel dan dongeng

Kepada perceraian sebagai jalan utama dari dua belah jiwa

Kepada konsekuensi atas kemiskinan bahasa Perancis

Kepada ketiadaan puisi di setian penggubah musik

Kepada hasil dari arsitektur Moor

Kepada Kekejaman Hitler terhadap Yahudi

Kepada keotoriteran seluruh pemimpin

Kepada pengkhianatan Aru Palaka terhadap Bone

Kepada sistem demokrasi-oligarki

Kepada kezhaliman yang ada di dunia

Semua berjalan tanpa dosa

Moralitas tak lagi menjadi landasan

Kedok agama tak lagi disakralkan

Rasional hanya sebatas alat memperkaya diri

Hingga, mentari akan selalu sengaja ditunda

Lupa akan selalu menjadi alasan yang rasional

Ketidaktahuan atas sesuatu selalu menjadi apa yang diperbincangkan

Suara melawan Wiji Tukul akan tumbang dengan kejahatan politik

Hingga pada akhirnya api menjadikan awan yang menurunkan abu

Politik balas dendam terus saja menjadi senjata di akhir cerita

Ketika daun telah gugur, maka

Tibalah berjuta hembus angin melengking menjauh

Permukaan neraka selalu menaik

Air-air akan mendidih akibat hati manusia

Meluluh menukik seperti elang yang mencari lawan

Dan akan tiba saatnya perlawanan hanyala sebuah khayalan

Oh, sialnya negeri para penjilat

Dimana ketika harga diri tak lagi berharga

Kata cinta menjadi omong kosong

Suara janji manis kampanye hanya sampah manusia rendahan

Pengkhianatan dalam partai politik

Ketidak disiplinan para kaum agamis

Gerakan yang tak berfaedah dari manusia berdaya fikir rendah

Hingga pada ayam menjerit kesakitan di setiap subuh tiba

Akankan Aufklarung kembali terulang, Tuhan?

Jawablah dengan bantuan kasih sayangmu

Sadarkanlah mereka di setiap relung batinnya

Semoga pagi menjadi pagi yang sebenarnya

Dan malamku tempat istirahat dari kejahatan pagi

Kepada pemimpinku, aku bertanya kepadamu

Apakah arti dari sebuah jabatan yang telah kau dambakan?

Akankah aku menjadi hina ketika aku telah memangkunya?

Ah, sebercanda itukah diriku, disaat aku mengharapkanya?

Ingin ku menjadi pemimpin, lalu mengokang pistol pembunuhku

Dan ku arahkan tepat di ujung dahi dari kepalamu

Aku akan tertawa, lepas tanpa ragu

Tapi, sebentar!

Kakekku pernah berpesan kepadaku,

”Harga badanmu terletak pada cara pakaianmu”

“Harga dirimu terletak pada setiap relung lidahmu”

Ah, terlalu rumit untuk melakukkannya

Kepada dewa senja di ufuk barat

Ku persembahkan semua kebaikanku untukmu

Agar diriku selalu dikenang, oleh mereka yang sedang mencinta

One clap, two clap, three clap, forty?

By clapping more or less, you can signal to us which stories really stand out.