Zootopia — Bungkus Menarik dari Kritik Sosial

Angga Putra Fidrian
Jan 5, 2017 · 3 min read

Film ini adalah sebuah kartun yang brilian. Bungkus animasi ringan tentang cita-cita yang menyisipkan berbagai macam pesan sosial-politik. Sutradara berhasil memperlihatkan kejadian tersebut melalui beberapa adegan yang lucu sehingga pesan yang muncul bisa tersampaikan dengan mulus.

Zootopia (2016) diawali dari beberapa anak-anak yang menceritakan tentang awal mula nenek moyang mereka, herbivora yang menjadi mangsa dari para karnivora. Pada satu titik pemangsa dan mangsanya berdamai untuk menyudahi tradisi makan-memakan dan mendirikan sebuah kota.

Para hewan anthropomorphic (hewan yang berdiri di atas kaki belakang dan menggunakan teknologi) akan menjadi bankir, astronot, petani dan polisi.

Judy Hopps adalah kelinci yang memiliki cita-cita menjadi polisi. Motivasinya karena ingin membuat dunia menjadi lebih baik. Sebuah cita-cita yang dicibir oleh masyarakat di desanya. Kelinci dianggap sebagai hewan yang lucu, imut, dan kecil sehingga tidak akan cocok dengan pekerjaan polisi yang membutuhkan kemampuan fisik yang mumpuni.

Pada 15 Tahun kemudian, Judy Hopps berhasil menjadi lulusan terbaik dari akademi kepolisian Zootopia. Tapi, stereotype masih berlanjut karena kelinci yang lulusan terbaik ini hanya diberikan tugas mengawasi area parkir.

Kejadian menarik ketika Opsir Hopps bertugas adalah ketika menolong Nick Wilde. Seekor rubah, yang mendapatkan diskriminasi ketika akan membelikan anaknya sepotong es krim di kedai es krim untuk gajah. Si pelayan tidak mau menjual es krim kepada Nick Wilde karena dia rubah.

Opsir Hopps membela Hak sipil si rubah untuk bebas dari diskriminasi, tidak seharusnya rubah yang dianggap sebagai penipu dilarang membeli es krim meskipun pada akhirnya Nick Wilde memang menipu Opsir Hopps.

Kejadian diskriminasi semacam ini familiar dengan apa yang ada di dunia nyata kita bukan? Hanya karena bernama asing maka ia akan mendapatkan perlakuan spesial di Bandara. Contoh lainnya adalah gereja yang tidak boleh dibangun di jalan yang namanya bernuansakan Islam.

Hal serupa juga terlihat lewat percakapan Clawhauser dengan Hopps, “cute” hanya boleh diucapkan kelinci kepada kelinci lainnya. Namun, jika diucapkan oleh spesies lain, maka “cute” akan dianggap rasis. Seperti “nigger” yang hanya boleh diucapkan oleh sesama kulit hitam, atau “Cina” yang hanya boleh digunakan oleh etnis Tionghoa di Indonesia.

Tidak hanya kejadian yang bernuansa rasis, film ini juga mengangkat tentang bahayanya diskriminasi. Bellweather, Sekretaris Walikota yang merupakan domba, menyiapkan sebuah konspirasi untuk bisa menduduki kursi walikota. Salah satu caranya adalah menjebak Walikota Lionheart dengan tuduhan penculikan terhadap hewan predator yang menjadi liar.

Predator yang liar tersebut adalah konspirasi yang disusun oleh Bellweather untuk meningkatkan sentimen antipredator di Zootopia. Para Predator disingkirkan dari masyarakat karena dianggap berbahaya dan mengancam keberadaan herbivora.

Familiar dengan konflik ini? Dalam konteks Indonesia, mungkinkah hal yang sama juga terjadi dalam kampanye penolakan terhadap LGBT, Syiah, Ahmadiyah, Komunisme?

Ada satu bagian kritik yang menarik yang ingin coba disampaikan. Seekor kungkang yang bernama Flash, hewan yang gerakannya sangat lambat, berperan sebagai bagian administrasi di pemerintahan.

Apakah di negara asal sang sutradara, bagian birokrasi ini berjalan sangat lambat sehingga digambarkan oleh kungkang? Yang pasti, di Indonesia penggambaran kungkang terhadap birokrasi bisa jadi benar. Pada akhir film, Kungkang yang lambat tersebut justru mengebut dijalan menggunakan supercar.

Beberapa contoh tadi adalah pesan-pesan yang secara brilian dimasukkan oleh Byron Howard dan Rich Moore yang menyutradarai film ini. Mereka membungkus kejadian tersebut dalam sebuah cerita animasi keluarga yang dapat dinikmati oleh anak-anak dan orang dewasa.

Selepas menonton film tersebut, para orang tua dapat mengajarkan kepada anak-anaknya tentang bahaya rasisme, diskriminasi, dan pentingnya toleransi untuk hidup berdampingan.

Welcome to a place where words matter. On Medium, smart voices and original ideas take center stage - with no ads in sight. Watch
Follow all the topics you care about, and we’ll deliver the best stories for you to your homepage and inbox. Explore
Get unlimited access to the best stories on Medium — and support writers while you’re at it. Just $5/month. Upgrade