21 Hari di Cihea

Syams Harli
Aug 31, 2018 · 3 min read

Pagi hari, pukul 07.00, aku berangkat bersama peserta KKN lainnya menuju Desa Cihea dengan menggunakan truk yang dimiliki oleh TNI AD. Sesampainya di Cihea, kami semua disambut oleh acara pembukaan yang dihadiri oleh kepala desa beserta dan jajarannya di lapangan badak. Setelah acara pembukaan selasai, maka dimulailah petualangan kami sebagai peserta KKN dimulai dan aku sendiri membuka petualanganku bersama teman-teman satu tema, tema pendidikan.

Dimalam saat kedatangan di desa cihea, kami melakukan briefing pertama kami untuk kegiatan ini yang dipimpin oleh sang bapak koorlap, yaitu fahri. Briefing adalah kegiatan yang kami lakukan setiap malam dengan tujuan kegiatan pada esok hari berjalan sesuai rencana. Briefing pada malam itu adalah kegiatan yang membuka awal terciptanya ikatan diantara kami.

Pada awalnya kami ingin melakukan semua kegiatan sesuai dengan jadwal yang telah dibuat, tapi apalah daya karena lapangan sangatlah dinamis maka kita harus menyesuaikan dengan keadaan saat itu. Kejadian yang mengubah jadwal kami adalah ketika kami akan melakukan diskusi dengan perangkat desa di balai desa, tapi pada saat tiba di balai desa hanya ada satu orang perangkat desa disana dan yang lainnya sedang mengawasi kegiatan pembangunan jalan cor. Pada saat itulah aku belajar bahwa semua yang kita rencanakan belum tentu bisa berjalan dengan lancar, perlu adanya alternatif lain.

Dari hari ketiga sampai hari terakhir, kegiatan kami selama KKN kebanyakan berinteraksi dengan anak-anak SD yang ada di desa. Mulai dari kegiatan yang formal dengan datang kesekolah-sekolah sampai mengajar ngaji di mesjid, banyak ikatan yang terbentuk dengan anak-anak disana. Selain anak-anak, kami juga memiliki ikatan dengan warga lainnya, dari yang masih muda sampai yang sudah menjadi kakek atau nenek. Ikatan tersebut terbentuk akibat interaksi yang terjadi dengan mereka, dari hanya sekedar berbelanja ke warung sampai membantu warga dalam kegiatannya.

Hal yang paling berkesan bagiku selama di cihea adalah ketika saat aku mengenal seorang warga yang bernama bapak hasanudin, atau lebih dikenal dengan nama pa ujang. Pada saat berkenalan dengan pa ujang, beliau sangat ramah dan sangat senang berbicara bahkan kami selalu diajak untuk mampir dan menginap di rumah beliau. Aku dan ketiga temanku, gege, dani, dan rifan pada akhirnya sering berkunjung ke rumah pa ujang. Pa ujang menganggap kami sudah seperti anaknya sendiri, sampai-sampai setiap kami berkunjung selalu dibuatkan susu putih dan makanan. Banyak kisah yang diceritakan oleh pa ujang, baik cerita tentang kehidupannya maupun wejangan tentang kehidupan.

Pada saat malam penutupan, warga desa batununggul mengadakan acara dangdutan. Mereka mengajak kami untuk mengikuti acara dangdutan tersebut, tetapi kami sudah mempunyai agenda untuk berkumpul bersama. Beberapa saat kemudia, datanglah pa ujang dari rumah sambil memakai sarung dan berkata

“jang, sudah ke tangkolo saja. ga usah ikutan acara dangdutan, lanjutin acara kalian.”

“iya siap, pak. Kami mau berangkat sebentar” jawab kami serentak

“buat mahasiswa mah jangan ikutan dangdutan ya, soalnya takut kenapa kenapa sama kaliannya nanti. Kadang suka ada kejadian yang diluar kendali.”

Begitu pedulinya pa ujang pada keselamatan kami di desa tersebut. Beliau rela datang ke tempat tinggal para laki-laki hanya untuk mengingatkan kepada kami untuk tidak mengikuti acara dangdutan tersebut yang sebenarnya kami sudah mengetahui jika kami mengikuti acara tersebut, ada kemungkinan besar kami akan terlepas kendali. Setelah pa ujang mengingatkan, beliau pergi ke acara tersebut untuk melihat keadaan dan kemudian pulang kembali ke rumahnya untuk beristirahat. Hal ini menunjukkan bahwa untuk berbuat baik tidak peduli siapa orang yang akan ditolong, apakah baru dikenal atau tidak.

Banyak pelajaran yang didapat selama KKN ini, Melalui interaksi dengan warga yang dilakukan selama kegiatan banyak sekali hal yang didapat olehku, baik secara langsung maupun tidak langsung. Mulai dari kebiasaan-kebiasaan baru yang baik, saran-saran mengenai kehidupan, dan tips & trick seperti cara masak nasi liwet serta cara membuat api yang cepat dan masih banyak hal lain lagi yang didapat disana.

Pernah ada yang berkata seperti ini, “Dalam kegiatan KKN ini, sebanyak dan sebagus apapun program yang mahasiswa buat, yang akan menerima paling banyak manfaat dan pelajaran adalah mahasiswa itu sendiri’. Perkataan tersebut terbukti benar adanya dan akupun merasakannya.

Kegiatan kami berakhir pada tanggal 13 agustus 2018. Jam 09:30 kami pulang kembali ke Bandung dengan membawa banyak pelajaran baru yang mungkin tidak akan kami dapatkan didalam perkuliahan. Semoga semua pelajaran yang kami dapatkan akan bermanfaat kedepanya baik bagi diri sendiri maupun orang banyak

    Syams Harli

    Written by