Ch. Anwar

HAZIL Tanzil pernah menuliskan cerita saat Chairil Anwar beraksi di depan murid-murid Tanzil di Taman Siswa. Saat itu Chairil berkata, “Kalau penyair dari Pujangga Baru jatuh cinta, maka yang dilakukannya ialah membuat sajak tentang bunga mawar; kalau kami jatuh cinta, maka kami ajak si gadis ke restoran Baltic minum es krim!”

Bagi saya Chairil tak sekedar bermaksud bergurau. Kata-katanya adalah olok-olok untuk Pujangga Baru: yang ia inginkan adalah suatu kesegaran. Pada angkatan sesudah perang, kesusastraan tidak lagi memahami keindahan dalam pengertian yang lama. Sejak masa Chairil, sastrawan mulai menyebut diri mereka sekedar sebagai “penulis”, bukan “pujangga”. Sebab dalam kata “pujangga” ada kesan merasa lebih tinggi: seperti seorang guru dan agitator yang memberi pengajaran pada khalayak. Pada angkatan yang lama, seorang pujangga mesti menyusun kata-kata indah nan elok dengan lagak seorang bijak.

Dalam puisinya, Chairil lebih individualistis. Ia marah, mampus dikoyak sepi, mengancam, atau menyesal oleh cinta. Puisi Chairil sibuk dengan hal-hal ‘sepele’ yang berlangsung dalam kehidupan. Pada tahun 1943, misalnya, ia menulis puisi tentang cintanya sendiri — bukan tentang bagaimana harus bersikap demi sebuah revolusi. Saya kutip sajak Taman:

Taman punya kita berdua
tak lebar luas, kecil saja
satu tak kehilangan lain dalamnya.
Bagi kau dan aku cukuplah
Taman kembangnya tak berpuluh warna
Padang rumputnya tak berbanding permadani
halus lembut dipijak kaki.
Bagi kita bukan halangan.
Karena
dalam taman punya berdua
Kau kembang, aku kumbang
aku kumbang, kau kembang.
Kecil, penuh surya taman kita
tempat merenggut dari dunia dan ’nusia.

Perkataan-perkataan yang terdapat dalam puisinya, mengutip H.B. Yassin, “langsung mengenai isi”, terkadang dengan “keras dan kasar”. Ia bukan tukang ceramah: ia mengatakan, suatu kali, “Aku ini binatang jalang”. Pada sajak Kabar dari Laut, Chairil mengumpati diri sendiri: “Aku memang benar tolol ketika itu,/ mau pula membikin hubungan dengan kau”. Sajak-sajak yang demikian mengesankan kita, bahwa setelah masa-masa Pujangga Baru, sastrawan tak ingin mengambil jarak dengan pembaca: mereka tak ingin dilihat sebagai pembawa petuah atau pemberi hidayah. Ia sama saja dengan kita, pembacanya.

●●●

Yang menarik dari Chairil, ia hanya menghasilkan 70 puisi + 6 prosa asli selama 7 tahun kepenyairan, tapi orang-orang membicarakannya tak selesai-selesai. Meski sejak tahun 1942 tak sekolah lagi, Chairil adalah seorang lelaki yang datang dari ramalan: jauh-jauh hari guru bahasanya telah meramal bahwa Chairil akan jadi pengarang besar.

Selain sajak dan prosa asli, dua sajak dalam kumpulannya dianggap sebagai sajak saduran. Puisi Kepada Peminta-minta adalah saduran dari Tot Den Arme karya William Elsschot, sementara puisi Krawang-Bekasi yang ditampilkan di Mimbar Indonesia pada November 1948 merupakan saduran dari sajak Archibald MacLeish berjudul The Young Dead Soldiers yang pernah tampil di Reader’s Digest tahun 1945. Bait-bait yang sama itu, diantaranya: they have a silence that speaks for them at night/ and when the clock counts. Chairil menulis dalam sajak: kami bicara padamu dalam hening di malam sepi/ jika dada rasa hampa dan jam dinding yang berdetak… Beberapa juga mengatakan bahwa puisi A Pact karya Ezra Pound telah ditiru dalam Persetujuan dengan Bung Karno. Larik kedelapan bikinan Pound: we have one sap one root. Dalam puisi Chairil: kau dan aku satu zat satu urat. Tapi yang terakhir ini orang banyak yang tak setuju. Puisi itu pada akhirnya dianggap bukan saduran karena berbeda nota dan emosi. Puisi Ezra Pound, seluruhnya, malah bernuansa kebencian.

Ada satu penjelasan yang agaknya masuk akal mengenai kemiripan-kemiripan itu. Di Medan, Chairil bersekolah di MULO — sekolah yang cukup ternama di masa itu. Chairil Anwar remaja otomatis menguasai tiga bahasa asing: Inggris, Belanda, dan Jerman. Penguasaan tiga bahasa asing itu, dengan demikian, memperkenalkan Chairil amat erat dengan Andre Gilde, WH Auden, Ernest Hemingway, Conrad Aiken, Hsu Chih-Mo, Edgar du Perron, J. Slauerhoff, dan sastrawan-sastrawan dunia lain. Tak heran bila Chairil bisa rakus membaca buku: matanya selalu merah, seperti orang jarang tidur. Tak heran bila beberapa kalimat dalam puisi-puisinya hampir mirip atau nampak sangat dipengaruhi karya sastrawan-sastrawan itu: hafalannya yang seperti busa karet memungkinkan Chairil Anwar menyerap sajak-sajak sampai ke level alam bawah sadar.

Kerakusannya terhadap buku dan cepatnya ia menghafal sajak barangkali bisa ditilik lebih jauh. Ia pernah berbicara mengenai vitalisme dan “tenaga hidup yang berkobar-kobar”. Dalam pidatonya di tahun 1943, pada masa penjajahan Jepang, Chairil mengungkapkan kekagumannya pada perwira-perwira Jepang yang berani mati demi Tenno Heika, nusa dan bangsa. Itulah yang diresapkannya ke seni: “Tenaga hidup! Api hidup!” Dalam baris lain ia pernah menulis: “tiap seniman harus seorang perintis jalan”, di mana ia “tidak segan memasuki hutan rimba penuh binatang-binatang buas, mengarungi lautan lebar-tak-bertepi”.

Kekaguman Chairil dan pendapatnya mengenai vitalisme agaknya dilatari suatu bentuk prinsip yang dipegangnya dalam ketidakpastian hidup di Jakarta. Chairil terlihat amat serius dan meyakinkan dalam mendalami sastra. Sejak awal, Chairil telah mendeklarasikan diri akan menempuh jalan hidup dan mati dalam puisi.

●●●

Tapi Chairil bukan sekedar “perintis jalan” yang melawan tradisi lama. Nirwan Dewanto mengatakan bahwa khalayak sering kali terlalu berlebihan dengan menganggap Chairil Anwar sebagai “pembaharu” atau “pelawan tradisi”. Pada sajak Taman di awal tulisan ini, misalnya, masih terlihat anasir bunyi dan ritme yang mencoba tertib. Chairil meletakkan kata “Karena” dalam larik tersendiri untuk menghasilkan akhiran a yang sama dengan kalimat “dalam taman punya berdua”. Chairil bahkan memendekkan kata “manusia” menjadi “nusia” untuk mencapai keseimbangan rima dan bunyi. Kalau kita lihat sajak Taman secara keseluruhan, bunyi dan bentuk bukan lagi yang terpenting seperti puisi-puisi pada angkatan Pujangga Baru, namun juga bukan tanpa kendali.

Kesetiaan Chairil pada tradisi persajakan lama kembali terlihat pada tahun 1946 melalui sajaknya yang lain. Saya kutip sebagian, Senja di Pelabuhan Kecil:

Ini kali tidak ada yang mencari cinta
di antara gudang, rumah tua, pada cerita
tiang serta temali. Kapal, perahu, tiada berlaut
menghembus diri dalam mempercaya mau berpaut.

Kutipan sajak di atas merupakan kuatrin dengan rima a-a-b-b. Ada tertib di situ. Tapi ada hal lain yang berlawanan dengan tertib: tiap-tiap lariknya bukan satu kalimat yang utuh. Dalam syair atau pantun, tiap larik adalah barisan kalimat yang lengkap dan selesai. Dalam sajak Chairil, kalimat-kalimatnya seperti menggantung. Ada yang tak selesai di sana: kalimatnya terpenggal dan dibiarkan berpencar. Kata “mencari cinta” pada ujung baris pertama seakan masih terhubung dengan “di antara gudang”, begitu juga dengan kata “pada cerita” pada ujung baris kedua yang mungkin tersambung dengan “tiang serta temali”.

Ekspresi sajak dengan kalimat-kalimat tanggung yang tetap memunculkan tenaga kata semacam itu, menurut Nirwan, tidak akan lahir dari mereka yang tidak memiliki hormat dan visi yang kuat terhadap bentuk syair atau pantun. Seseorang yang tidak memahami tradisi lama, jika menggunakan teknik yang sama, mungkin sekali hanya akan menghasilkan sajak yang rusak.

Di situ, di antara gairah dan hasrat untuk “selalu baru”, Chairil telah menunjukkan kemahirannya mencuri tradisi lama dengan sangat baik.