Joko Pinurbo dan Pecahan Hidup Sehari-hari

JIKA hidup sehari-hari ingin memecah diri menjadi puisi, mereka akan memilih Joko Pinurbo sebagai penggubahnya. Itulah yang mungkin terjadi ketika kita membaca puisi-puisi pilihan dalam buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi karangan Joko Pinurbo.

Kita akan menemukan dengan mudah pada sajak-sajaknya keberanian menggunakan kata-kata dari bahasa percakapan sehari-hari, seperti “duh”, “ya”, “kok”, “Ah”, “Hai”, “Ha-ha-ha…”, “Maaasss…”, “pangling”, sampai bahasa umpatan seperti “Asu lu!”. Tidak cukup sekali Joko Pinurbo bereksperimen melalui kosa kata benda atau suasana yang akrab dengan keseharian kita di rumah, menjadikannya sebagai obyek untuk suatu persoalan atau perumpamaan dalam puisi, seperti kulkas (dalam sajak Di Kulkas, Namamu dan Bayi di dalam Kulkas), celana (Celana, 1; Celana, 2; Celana, 3), ranjang (Keranda, Daerah Terlarang, Tahanan Ranjang, Ranjang Ibu), mandi (Di Sebuah Mandi, Mei, Antar Aku ke Kamar Mandi, Di Tengah Perjalanan, dan Atau), jendela (Jendela), serta penggambaran suasana rumah yang terbentuk dari “ranjang bobrok, onggokan popok, bau ompol, jerit tangis berkepanjangan, dan tumpukan mainan yang tinggal rongsokan” (Pertemuan).

Tak cukup di situ, dalam puisi-puisinya, Joko Pinurbo menjadikan hidup sehari-hari rakyat biasa sebagai pokok soal utama. Misalkan soal naik bus di Jakarta:

Sopirnya sepuluh,
kernetnya sepuluh,
kondekturnya sepuluh,
pengawalnya sepuluh,
perampoknya sepuluh. 
Penumpangnya satu, kurus,
dari tadi tidur melulu;
 kusut matanya, kerut keningnya
seperti gambar peta yang ruwet sekali.
Sampai di terminal kondektur minta ongkos:
“Sialan, belum bayar sudah mati!”

Puisi Naik Bus di Jakarta yang ditulis pada tahun 1999 di atas seperti puisi yang berupaya melampiaskan kesialan-kesialan dalam keseharian hidup tokoh-tokohnya. Pada tahun-tahun itu, bus & terminal masih sering kalah pamor sebagai sarana transportasi, dan lebih populer sebagai sarang pencopet. Sopir, kernet, kondektur, adalah golongan orang-orang susah yang mencari nafkah. Perampok yang berjumlah sepuluh di situ tak lain gambaran betapa sulitnya hidup di jalan yang benar setelah krisis 1998. Tahun-tahun yang sulit itu bahkan membuat si kondektur tak bersimpati atas kematian seseorang seperti yang sepatutnya dilakukan jika kita mengetahui kabar duka. Ongkos satu orang (yang, secara hiperbolis, masih dibagi sepuluh-sepuluh) begitu berarti buat hidup. Penumpangnya, yang ternyata mati, dikaitkan dengan kosa kata “kurus”, “kusut”, “kerut”, dan “ruwet”; seperti gambaran rakyat kecil kebanyakan yang punya banyak masalah.

Barangkali bisa kita katakan, sajak itu menceritakan kumpulan orang-orang yang memiliki deritanya masing-masing yang pada akhirnya bertemu di satu titik.

●●●

Tokoh-tokoh yang kesusahan pada sajak Naik Bus di Jakarta tak sendirian. Tokoh dalam sajak Di Bawah Kibasan Sarung, yang ditulis di tahun yang sama dengan Naik Bus di Jakarta, adalah tokoh yang mirip-mirip: seseorang telah mengibarkan sarung sambil berseru “Hidup orang miskin!”. Ada nada pemberontakan di situ. Pemberontakan untuk menikmati hidup di antara “penyakit, onggokan sampah, sumpah serapah, anjing kawin, maling mabuk, piring pecah, tikus ngamuk”. Pemberontakan untuk terus berkata rumahku, meski kumuh dan kecil dan terpencil, “adalah istanaku”. Pemberontakan untuk terus mendengarkan suara batuk (yang mungkin akibat lingkungan yang kurang higienis atau gizi makanan yang buruk) sebagai suatu simfoni merdu yang dimainkan dari sebuah piano tua.

Agaknya dengan begitu Joko Pinurbo berusaha mendekatkan pembacanya pada gelora hidup masyarakat bawah yang terpinggirkan dari ketenaran dan hingar bingar.

Sajak-sajak yang dimasukkan dalam buku Selamat Menunaikan Ibadah Puisi adalah sajak yang tak berhenti untuk memikirkan peristiwa suka dan duka di antara lorong perjalanan para penjual akik dan obat kuat (Sepasang Tamu), pedagang buah keliling (Penjual Buah), perajin topeng di desa (Topeng Bayi untuk Zela), orang yang kepengin punya rumah (Rumah Kontrakan, Penyair Kecil, dan Cita-cita), tukang becak (Penumpang Terakhir, Malam Suradal, Himne Becak), penjual kalender (Penjual Kalender), tukang jaga dan peronda (Penjaga Malam, Dua Orang Peronda, Aku Tidak Pergi Ronda Malam Ini), tukang bakso keliling (Penjual Bakso), tukang ojek (Dengan Kata Lain), anak sekolah dan sepenggal cinta monyet (Liburan Sekolah), serta tukang foto keliling (Tukang Potret Keliling).

Jika puisi dilihat sebagai saluran kritik sosial, Joko Pinurbo barangkali telah menunjukkannya pada kita. Gagasan menjadi penting di sini. Dalam sajak-sajaknya ia tak cuma merekam suatu cerita sedih, tetapi juga sekaligus menunjukkan cara para tokohnya, yang kebanyakan masyarakat kelas kecil, untuk bertahan dan menikmati hidupnya. Misalnya, kalau kita ambil contoh Naik Bus di Jakarta, dengan mengumpat. Atau dalam Penjual Buah, ketika Pak Adam merespon ibu-ibu dengan sedikit menggoda, “Aduh, kok pisang lagi yang diminta?”.

Dari situ kita tahu bahwa kadang Joko Pinurbo mengajak kita, para pembaca, untuk melihat sudut pandang yang tak cuma muram.

Saya kira yang mengejutkan dari puisi-puisi Joko Pinurbo tak melulu gaya bahasa dalam kalimat, tapi juga bagaimana ia mengakhiri cerita (yang berbentuk puisi) itu sendiri.

●●●

Memang, Joko Pinurbo kerap kali terlampau santai untuk sajak yang sepertinya serius. Hal ini bisa kita lihat terutama pada sajak-sajak yang secara isi tarik-menarik dengan sifat naratif dalam cerita pendek. Soal celana, misalnya. Pada sajak Celana, 3, Joko Pinurbo menyajakkan cerita seorang pria yang bangga bukan main karena berhasil mendapatkan celana yang diidam-idamkan: celana “asli buatan Amerika”. Tapi kekasihnya, seorang yang perempuan yang menunggu di pojok kuburan, rupanya lebih peduli pada apa yang ada di dalam celana. Ia lantas membuang celananya, dan di saat itulah ia “mendapatkan/ burung yang selama ini dikurungnya/ sudah kabur entah ke mana”.

Agaknya ada persoalan yang lebih serius tentang celana dan burung daripada sekedar hilangnya burung di dalam celana. Saya tak ingin membahas maknanya terlalu dalam di sini. Saya hanya ingin mengatakan bahwa sajak-sajak Joko Pinurbo punya tendensi untuk menyatukan yang tabu dengan yang lucu, juga yang barangkali serius di situ.

Satu contoh lain adalah sajak Pembangkang yang ditulis tahun 2007:

Ia termenung sendirian di gardu gelap di ujung jalan.
Tidak jelas, ia peronda yang kesepian
atau pencuri yang kebingungan.
Dari arah belakang muncul seorang pengarang
yang kehilangan jejak tokoh cerita
yang belum selesai ditulisnya.
“Kucari-cari dari tadi, ternyata sedang
melamun di sini. Ayo pulang!”
Daripada harus pulang, ia pilih lari ke seberang.

Sajak itu memiliki judul yang sangat serius: pembangkang. Juga saya kira makna yang sangat dalam: di sini Joko Pinurbo melihat dirinya yang penyair sebagai “peternak” kata-kata daripada “arsitek” kata-kata. Ia merangkai atau menyusun kata, tapi juga merawat kata: dengan jalan membebaskan. Ia seorang peternak kata yang merelakan puisinya pergi, berjalan sesuai kodrat pikiran pembacanya, meskipun itu berarti berseberangan dari maksud si penyair. Ia pernah menulis: “Nama saya akan dihapus oleh sajak-sajak saya.” Tapi, toh, saat kita membaca sajak Pembangkang, kita lebih akan tertawa daripada tegang membayangkan kemungkinan perkelahian atau pertumpahan darah.

Atau mungkin memang kita tak perlu selalu serius. Misalkan kalau kita lihat Aku Tidak Pergi Ronda Malam Ini:

Aku doakan semoga aman-aman saja.
Kalau nanti bertemu maling,
ajak dia ke rumahku.
Hasil curiannya bisa kita bagi bertiga.

Sajak di atas, juga antara lain sajak Asu dan Mendengar Bunyi Kentut Tengah Malam, memperlihatkan gaya Joko Pinurbo yang cenderung rileks dengan kata, bahasa, dan puisi. Tidak ada soal yang terlalu serius di situ―kita sepertinya hanya perlu menyediakan diri untuk tertawa.

Maka, sampai di situ, mungkin kita bisa mengatakan bahwa sajak-sajak Joko Pinurbo adalah angin segar untuk dunia puisi yang penuh metafor dan kerumitan bahasa; dan mungkin karena itu saya akan selalu menyediakan diri untuk membacanya.