Seandainya Malin Kundang Menulis Sajak
SEANDAINYA Malin Kundang menulis sajak, ia akan menulis tentang kematian seorang peniup trumpet Amerika di Amsterdam:
Chet Baker mati di kakilima ini. Pada suatu
malam, ada suara trompet yang menggigil dari
arah lorong pelacuran, dan seseorang jatuh dari
jendela di lantai kedua. Dinihari mengeras di
seluruh Amsterdam. Kanal seakan terbelah.
Suara trem tertahan dari arah Waag.
Portir hotel mengangkat mayat tamu yang
dikenalnya itu dan menghapus kokain dari
pipinya. Di mulut yang tipis dan berserbuk itu ia
sebenarnya ingin dengar sisa suara yang serak,
suara yang pelan, melankoli, mimpi. Tapi telat.
“You will be OK, Chet, you will be OK”, bisiknya.
Ia tahu ia berdusta.
Sajak Almost Blue di atas berlatar satu peristiwa saat Chet Baker, peniup trumpet jazz, ditemukan meninggal setelah jatuh dari lantai dua kamar nomor 210 Hotel Prins Hendrik. Di kamarnya, juga di tubuhnya, ditemukan heroin dan kokain. Chet punya karir cemerlang, sebelum sekelompok gangster menghajarnya dan membuat gigi depannya lepas. Cacat itu telah membuatnya kesulitan menghasilkan udara tiup yang memadai.
Seandainya Malin Kundang menulis sajak, ia memang mungkin menulis tentang orang-orang atau peristiwa dari dunia yang jauh tempat dirinya mengembara. Saya kira di situlah sajak-sajak Goenawan Mohamad, sang Malin Kundang, menunjukkan diri untuk tak tunduk dari apa yang dinamakan lokal atau nasional. Ia seorang yang merdeka dalam mencipta.
Dalam esai Potret Penyair Muda sebagai Si Malin Kundang yang ditulisnya sekitar tahun 1970-an, Goenawan menceritakan kebebasan seperti apa yang digenggamnya. Bermula dari masa lalu di sebuah desa nelayan, ia telah merasakan keinginan untuk mengembara: ia menikmati buku terjemahan Treasure Island saat yang lain masih terpaku pada cerita Damarwulan yang kerap dipentaskan rombongan ketoprak amatir desa. Pada usianya yang kesebelas, ia menulis sajak tentang bulan dalam bahasa Indonesia. Ia tak biasa menulis dengan bahasa Jawa pesisir yang, tulisnya, hanya layak “buat kata-kata kotor di tembok sumur balai desa”.
Pada saat itu, sajak yang dikenalnya pertama-tama adalah sajak Chairil Anwar. Dengan demikian ia berpangkal pada puisi modern yang, bisa dikatakan, mengedepankan individualitas. Ketika orang ramai-ramai bicara sastra yang “bercorak nasional”, Goenawan merasa bahwa sajak-sajaknya bukan bagian dari itu. Sajak-sajaknya telah kena kutuk sebagai sajak yang tak berarti, tak membangun. Ia telah menjadi Malin Kundang: sajak-sajaknya mungkin selamanya tak akan dimengerti oleh orang-orang di desa asalnya atau desa mana pun.
Dari sana ia menulis tentang “kebebasan pertama seorang pencipta” dan bahaya “lingkungan kolektivisme” yang hanya menghasilkan “tukang proyeksi” belaka. Ia berpegang pada satu azas, yaitu kemerdekaan, sebagai satu jalan maju untuk kesusastraan.
Oleh karena itu kita akan sulit mengamati apa yang-lokal atau yang-Indonesia dalam bait-bait sajak Goenawan, termasuk kalau hal itu berarti tempat atau kultur “yang-Indonesia”. Pada buku kumpulan puisi Fragmen, kita membaca sajak-sajak berlatar luar yang bertebaran di sana-sini: Jembatan Karel, Praha; puisi Marco Polo yang menyebut Ponte Rialto dan Plaza San Marco; Di Hari Kematian Baradita Katoppo yang menyinggung Hamlet; Dengan Sepatu Kecil Anak-anak yang Menyeberang yang menyebut Kos (nama sebuah pulau di Yunani), Laut Merah, dan Palestina.
Dengan kemerdekaan semacam itu karangan-karangan Goenawan terus bermunculan, bersama kualitas yang meyakinkan. Saya ingat bagaimana Borges menengok Shakespeare yang tidak membatasi dirinya dengan karya-karya yang harus memiliki latar dan kultur Inggris (Hamlet, misalnya, malah bertema Skandinavia).
Jika ada satu ciri yang dapat kita cari pada sajak-sajak Goenawan, mungkin ciri itu adalah tendensi Goenawan untuk memilih latar seorang yang kalah dan punya cerita sedih.
Sejak kumpulan puisi-puisinya terbit 45 tahun yang lalu, Goenawan sering mengambil tokoh yang kalah atau pasrah terhadap nasib: Pariksit yang melawan kutukan Crengi tapi akhirnya mati (sajak Pariksit), Anglingdarma yang dihukum karena tak setia (Dongeng Sebelum Tidur), Gatoloco yang ditinggalkan Tuhan (Gatoloco), Damarwulan yang meninggalkan Anjasmara untuk berperang (Asmaradana), Sita yang menyerahkan diri dalam api (Menjelang Pembakaran Sita), Aung San Suu Kyi yang dipenjara (Aung San Suu Kyi), Sukra yang dihukum dengan keji (Penangkapan Sukra), juga Frida Kahlo yang terluka dan terasing (Untuk Frida Kahlo). Dari situ kita tahu Goenawan terbiasa mengambil anomali yang sedih dari cerita-cerita sejarah dan legenda.
Pada kumpulan sajak Fragmen, anomali sedih itu mengambil cerita Aylan Kurdi yang tergeletak mati di pinggir pantai dalam satu pelarian pengungsi dari Turki (Dengan Sepatu Kecil Anak-anak yang Menyeberang), hari berkabung untuk Baradita Katoppo (Di Hari Kematian Baradita Katoppo), cerita Akhiles membunuh Hektor (Perisai Akhiles), Sjahrir yang diasingkan (Sjahrir, di Sebuah Sel), atau Sugas pegawai rendahan yang bertugas menjaga manekin (Pada Suatu Hari dalam Hidup Sugas).
Bukan hal yang mengherankan jika Goenawan pernah menampilkan Don Quixote sebagai tema pokok dalam satu buku kumpulan puisi, dan mengulanginya kembali dalam Fragmen yang menyertakan Pertanyaan-pertanyaan untuk Don Quixote:
Ketika para pembaca bertanya berapa lamakah
Don Quixote mencintai Dulcenia, tokoh novel
ini, (tanpa diketahui sang pencerita), menjawab:
bertahun-tahun — sejak ladang-ladang terbentang
di La Mancha. Di rumah warisan di sudut
dusun itu khayal kadang jadi badai, dan badai
menghalau penabur, dan penabur merelakan
benih di kantungnya: yang ranum jadi gergasi,
yang rapuh jadi cacing, yang gabuk entah. Tapi
aku pohon gabus yang menyendiri, kata Don
Quixote dengan nada rendah. Kulitku tertoreh.
Maka kutatah tubuhku mencari Dulcenia.
Sajak di atas memperlihatkan ciri lain himpunan sajak Goenawan yang, seperti kata Zen Hae dalam esai Se(r)ikat Puisi dari Tanah Air Tanpa Batas, menampilkan “tegangan yang terus-menerus antara puisi yang cenderung memadatkan dan prosa yang menguraikan”. Pada sajak itu kita melihat Don Quixote yang terasing. Puisi tidak pernah kehilangan daya untuk menemani mereka yang diam dan sepi. Segalanya adalah sah: yang tabah maupun yang kisah. Puisi liris adalah pembesaran yang santun untuk menunjukkan cinta yang beruntung dan tak beruntung.
Memang tak melulu sedih. Sebab sebuah tulisan adalah suatu dialog dalam relasi yang tak terhitung. Satu puisi barangkali tak berbicara apa pun tapi tetap menyimpan kejeniusannya. Sementara satu puisi lainnya mungkin saja mengandung pengamatan yang cerdas tapi memancarkan ketololan. Hal itu memberi kemungkinan bagi setiap orang untuk melihat Don Quixote sebagai tokoh yang kalah dan konyol atau, di sisi lain, seseorang yang gagah dan pemberani. Siapa yang menganggap Malin Kundang sebagai bocah celaka yang terkutuk mungkin juga telah salah pilih untuk tidak memahami perasaan-perasaannya terlebih dahulu.
Satu hal yang pasti: sekali kita mengaguminya, kita tak akan pernah ingin berhenti menikmati puisi.